Jangan-jangan, kapok jadi Menteri ESDM karena melirik kursi di lapangan Banteng?
"Saya tuh nggak pantes lagi jadi menteri ketiga kalinya. Makanya saya ucapkan selamat bekerja saja bagi menteri yang baru nanti," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa yang akan dilakukannya setelah tidak lagi jadi menteri? "Saya mau jadi pengamat saja. Sepertinya boleh juga," katanya.
Bagaimana rasanya menjadi menteri yang melayani tiga periode presiden? Rupanya Purnomo mempelajari, di pemerintahan manapun, birokrasi dan keputusan politik menjadi hal yang sangat menguras pikiran.
Seperti ketika pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM lebih dari sekali pada pemerintahan Megawati. "Sejak saat itu akhirnya saya menjadi menteri yang tidak populer karena terus menaikkan harga BBM," katanya.
Ia pun mengenang saat-saat harus mengumumkan kenaikan BBM pada waktu itu. "Awalnya saya dibujuk untuk mengungumumkan kenaikan harga BBM pada waktu itu. Katanya ini adalah keputusan tim dan saya akan didampingi tim tersebut. Eh, ketika sudah mau mulai ternyata cuma saya dan Menko. Ya kalau Menko yang perintah, saya kalah. Akhirnya saya yang umumkan, dan di televisi ternyata cuma saya yang kelihatan, Menkonya dipojokan nggak kesorot. Nasib..nasib," kenangnya.
Kalau sudah merasakan kalah diperintah Menko, mungkin Pak Pur kena giliran memerintah jadi Menko. (lih/ir)










































