Mochtar Riady dan Misi Kanker

Mochtar Riady dan Misi Kanker

- detikFinance
Senin, 12 Mei 2008 14:36 WIB
Mochtar Riady dan Misi Kanker
Jakarta - Konglomerat grup Lippo, Mochtar Riady mencemplungkan diri ke penyakit kanker dengan tekad mengalahkan penyakit maut ini. Ada apa di balik keterlibatan pengusaha papan atas itu sehingga begitu seriusnya mengembangkan riset kanker?

Rupanya Mochtar prihatin terhadap penyakit yang mematikan 6 juta orang tiap tahunnya ini. Dengan misi penuh kemanusiaan Mochtar pun rela merogoh dana US$ 30 juta untuk mendirikan Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).

"Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Walaupun saat ini telah ada kemajuan dari teknologi dan metode-metodenya, namun kanker diperkirakan masih menjadi penyebab kematian lebih dari 6 juta orang tiap tahunnya," ujar Mochtar, dalam jumpa pers di gedung MRIN di
Lippo Karawachi, Tangerang, Senin (12/5/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar kematian disebabkan penyebaran dari kanker utama hingga ke organ lainnya, dimana pada kondisi ini belum tersedia pengobatan yang efektif. Selain menyebabkan kematian, setiap tahunnya kanker diperkirakan menambah 10 juta kasus baru terdiagnosis.

"Atas alasan itu, kami memfokuskan lembaga riset ini pada penelitian kanker, khususnya kanker hati yang menjadi salah satu jenis kanker yang menyebabkan kematian cukup banyak setiap tahunnya," ujar Mochtar.

Kanker hati diperkirakan menyebabkan kematian sekitar 600 ribu orang di dunia tiap tahunnya. Bagi negara seperti Indonesia dengan populasi penduduk cukup besar, sangat penting untuk melakukan diagnosa dini terhadap masyarakat.

"Untuk itu di Indonesia dibutuhkan keberadaan suatu lembaga riset yang fokus kesana. Melalui MRIN ini kami berharap dapat membantu masyarakat di Indonesia dalam menghadapi kanker di masa mendatang," ujar Mochtar.

Investasi yang ditanamkan bos grup Lippo ini sekitar US$ 30 juta, ditambah biaya pelaksanaan lembaga sekitar US$ 3 juta tiap tahunnya.

"Pendanaan MRIN merupakan bagian dari CSR kami. Dananya berasal dari yayasan kami," ulas Mochtar tanpa menjelaskan lebih lanjut nama yayasan terkait.

Sementara mengenai paten hasil riset MRIN, ia menjelaskan nama paten akan sesuai dengan nama penemunya. "Namun hak paten tetap menjadi milik lembaga MRIN," ujar Mochtar.

(dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads