City of God Ala James Riady

- detikFinance
Sabtu, 21 Jun 2008 17:11 WIB
Jakarta - Pemakaman yang identik dengan kesedihan disulap James Tjahaja Riady menjadi tempat mewah, bagus, indah yang bisa mengurangi duka. Cita-citanya penuh makna religi ingin menjadikan pemakaman mewah Sandiago Hills itu sebagai City of God.

"Sandiago Hills itu adalah City of God," kata CEO Lippo Group James T Riady dalam seminar ekonomi antisipasi krisis global, yang diselenggarakan oleh Reformed Center For Religion And Society (RCRS) di gedung Dhanapala Depertemen Keuangan, Jakarta, Sabtu (21/6/2008)

Lelaki Jakarta, 7 Januari 1957 mengaku terinspirasi terjun ke bisnis ke pemakaman dari tradisi orangtuanya Mochtar Riady yang rutin bolak-balik ke Malang untuk ziarah ke makam leluhur.

"Bapak saya setiap tahun ke kuburan bapaknya di Batu di Malang. Tapi karena jauh maka di cari-cari lah tempat lain. Ketemu lah di Sandiago Hills," ungkapnya.

Sandiago Hills berlokasi di Karawang, kini menjadi salah satu pelopor pengeloaan bisnis pemakaman untuk kalangan menengah atas. Di Sandiago Hills terdapat kluster-kluster untuk berbagai agama.

James mengatakan konsep bisnis pemakaman mewahnya itu berdasarkan bahwa kuburan itu adalah tempatnya kesedihan, sehingga apabila dibuat mewah, bagus dan indah maka dapat mengurangi kesedihan.

James juga mengungkapkan bisnis pemakaman ini juga mengikuti perjalanan hidupnya yang kini diakuinya lebih dekat dengan sang pencipta.

"Saya kerja 24 jam sehari, untuk mengejar kekayaan, kekuasanan, namun akhirnya relasi semuanya rusak, setelah 8 tahun menikah mungkin dimata Tuhan saya sudah bercerai denga istri saya," ungkapnya.

James yang semula dikenal ulet, pekerja keras bahkan ambisius ini, belakangan ini ia menjadi sosok yang religius setelah sadar bahwa upayanya selama ini yang selalu mengejar kesuksesan dunia tidak diimbangi oleh upaya penyadaran di jalan sang maha kuasa.

James mengakui dirinya sebelumnya berprinsip bahwa orang yang sukses itu harus memiliki banyak uang, punya kekuasan, banyak relasi dan lain-lain. Bahkan untuk memenuhi ambisinya yang tinggi, hampir semua kursi CEO di Lippo Group ia tempati.

"Kalau menjalankan berdasarkan Tuhan pasti bisnis itu untung. Semenjak saya dijamah Tuhan pada tahun 1990, saya melepas semua posisi CEO di group, saya juga melepas semua bisnis yang diluar dari core business saya," paparnya.
(hen/ir)