Perekonomian Indonesia dinilai paling tahan guncangan dibandingkan negara-negara tetangga.
CEO Standart Chartered Bank Indonesia Simon Morris mengatakan dibandingkan pada masa krisis 10 tahun lalu yaitu pada 1998, kondisi Indonesia saat ini lebih kuat. Hal ini dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi di atas 6% serta kestabilan situasi ekonomi dan politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana pendapatnya mengenai situasi Indonesia dalam menghadapi tantangan perekonomian global, dan bagaimana perbankan harus menghadapi ketatnya likuiditas saat ini. Berikut petikan wawancara beberapa wartawan dengan Simon Morris usai acara buka puasa bersama di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu malam (17/9/2008):
Bagaimana anda melihat dampak dari situasi global terhadap Indonesia saat ini?
Kita sedang melewati masa yang unik di tengah situasi global saat ini, dan jika kita kembali ke 12 bulan yang lalu kita tidak bisa membayangkan tantangan-tantangan yang kita hadapi saat ini.
Kita mempunyai isu-isu penting yang berkembang di dunia seperti kejatuhan Lehman Brothers atau AIG, tapi kita tahu masih ada harapan bagi Indonesia dimana harga minyak dunia mulai turun, dan dari perspektif tersebut bagi Indonesia akan memberikan dampak secara material dari sisi penurunan subsidi BBM yang akan ditanggung pemerintah. Kemudian pertumbuhan ekonomi kita juga sudah di atas 6%, inflasi diproyeksikan menurun, lalu tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin sedikit tapi akan dijaga di sekitar Rp 9.400-an.
Kami optimis terhadap Indonesia, kita akan akan baik-baik saja dalam jangka panjang, kita sekarang sedang mengarungi laut yang bergelombang. Sisi yang menguntungkan adalah kita memiliki manajemen keuangan yang baik, hasil kombinasi kepemimpinan dari Sri Mulyani dan Boediono.
Dengan kondisi ini apakah StanChart masih bisa mencapai targetnya tahun ini?
Saya selalu berpikir positif. Harapan saya kami akan mencapai target di 2008 sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Untuk pencapaian kredit sampai akhir tahun?
Saya tidak menjadikan kredit sebagai patokan kami, banyak berita yang mengatakan kredit perbankan tumbuh tinggi. Dari perspektif saya khususnya dari sisi whole sale banking, buat kami adalah bagaimanaΒ menciptakan nilai tambah bagi nasabah, dan juga kepada bisnisnya agar bisa bertumbuh dengan memberikan solusi yang inovatif dan itu tidak selalu berkaitan dengan pengucuran kredit. Akan tetapi jika nasabah membutuhkan bantuan kredit, kami akan berusaha untuk memenuhinya.
Menurut anda bisnis apa yang prospektif di Indonesia saat ini?
Saya rasa pembangunan saat ini sudah bagus, harga-harga sudah kembali normal turun. Kita tahu Indonesia merupakan negara yang cukup luas, dan juga dari sisi ekonominya luas. Namun Indonesia tidak bisa terpisah dari pengaruh perekonomian global, tapi dampak (ekonomi global) bagi Indonesia saat ini lebih kecil bila dibanding 10 tahun lalu.
Yang menarik saat ini jika dibanding 10 tahun lalu saat krisis 1998, jika kita lihat secara regional kita sekarang jauh lebih stabil, secara politik stabil, secara ekonomi juga stabil. Jika dibandingkan dengan negara tetangga kita yang memiliki masalah politik atau ekonomi, Indonesia masih lebih baik. Jadi terkadang kita hanya melihat sisi negatifnya saja daripada fokus kepada sisi positif yang ada saat ini.
Jadi kita harus melihat sisi positif ini, bahwa faktanya pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6%, dan juga situasi ekonomi dan politik yang stabil dibandingkan dengan keadaan regional. Saya tidak mengatakan situasi Indonesia sempurna saat ini, tapi negara lain di regional menghadapi tantangan yang lebih berat dibanding Indonesia. Jadi bersyukurlah Indonesia saat ini dalam posisi yang lebih kuat.
Saat ini perbankan mulai mengetatkan pengucuran kreditnya, menurut anda?
Pengetatan kredit merupakan pelaksanaan kebijakan yang prudent dilakukan bank dalam mengucurkan kreditnya pada situasi ekonomi yang ketat saat ini. Jadi bank berpikir untuk memberikan kreditnya kepada orang yang tepat dan kriteria yang sesuai. Jadi itu merupakan suatu tindakan yang bijak dan sangat prudent dengan situasi global ekonomi saat ini.
Pertumbuhan kredit perbankan saat ini 35%, apakah itu sudah terlalu tinggi menurut anda?
Sulit bagi saya untuk menjawab itu, karena tergantung kepada kualitas portofolio kreditnya, jadi sulit untuk mengeneralisir secara keseluruhan. Dan yang harus kita perhatikan dengan seksama adalah tiap bank pasti mempunyai pandangan yang berbeda, ada bank yang bagus pada kredit mikro, ada juga yang bagus pada kredit UMKM dan ada juga pada kredit perumahan. Jadi tidak bisa disamakan seluruh bank, tapi kami dari perspektif Standart Chartered tidak melihat pertumbuhan kredit ini sebagai indikator kesuksesan, yang kami lihat adalah kualitas dari kredit yang diberikan, bukan kuantitasnya.
Jadi menurut anda apakah kredit masih perlu ditingkatkan?
Saya pikir, tiap bank mempunyai strateginya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Jika beberapa bank yang berkompetisi pada sektor yang sama akan terus memacu pertumbuhan kreditnya, itu tidak masalah. Tapi saya tetap berpikir bahwa kinerja kredit tidak menjadi kunci sukses kinerja perbankan kita. Dan akan terlalu arogan bagi saya, jika memberitahu kepada orang lain bagaimana cara menjalankan bisnis bank mereka.Β Β Β Β
(dnl/qom)











































