Demikian disampaikan Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Derom Bangun di sela-sela Musyawarah Nasional VIIΒ GAPKI, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (21/1/2009).
Untuk mengetahui bagaimana prospek industri sawit di tahun 2009, berikut wawancara detikFinance dengan Derom Bangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibanding kondisi Oktober- November 2008, pada kuartal I-2009 sudah mengalami perbaikan karena ekspor sudah mulai pulih. Namun saat ini produksi juga saat ini berada pada tingkat yang rendah karena dari siklus bulanan memang bulan Januari dan Februari merupakan bulan dimana produksi rendah di banding Oktober dan November.
Karena itu kita bisa lihat sekarang harga di pasaran internasional juga mencapai apa yang saya sampaikan waktu konferensi di Bali bahwa harga akan bergerak US$ 500-600 di Rotterdam. Ternyata di minggu yang lalu harga sempat US$ 600 di Rotterdam, sekarang bergerak lagi ke bawah sedikit US$ 560-580. Jadi harga ini sudah lebih baik dibanding pada oktober yang lalu yang jatuh pada US$ 450 di Rotterdam.
Selanjutnya tentu faktor krisis ekonomi akan sangat berperan. Kalau krisis itu berdampak cukup dalam di India dan China kemungkinan permintaan untuk tahun 2009 ini tidak banyak menguat. Sebab kita paling banyak ekspor ke India dan China.
Berapa persen ekspor kita ke India dan China?
Tahun 2007-2008 ke India itu sampai 25-30 persen, sedang China 20 persen dan Eropa 15 persen
Β
Untuk kuartal I-2009,Β anda menyebutkan kalau ekspor sudah mulai pulih, berapa peningkatannya?
Selama ini rata-rata ekpor CPO dan turunannya itu kan 1 juta ton lebih. Tapi September-Oktober kan mengalami penurunan mungkin hanya 300 ribu-800 ribu ton. Tapi sekarang sudah meningkat lagi kembali mendekati angka semula.
Pengaruh harga minyak sendiri kepada harga CPO bagaimana?Β
Kalau kita lihat ketika dulu harga minyak bumi (crude oil) meningkat US$ 100 per barel lebih bahkan mencapai US$ 140 per barel, ketika itu memang harga CPO juga naik, di Eropa mencapai US$ 1300 lebih, sekarang ini harga minyak bumi sudah turun di bawah US$ 40 per barel itu kan turunnya 70 persen. CPO itukan turunnya dari US$ 1300 ke US$Β 580, turunnya tidak sampai 60 persen.
Tapi turunnya harga minyak bumi, kadang-kadang ada dampak positinya kepada minyak sawit. Dengan turunnya harga minyak bumi kegiatanΒ perekonomian di banyak negara meningkat, dengan meningkatnya kegiatan perekonomian akan berdampak pada konsumsi minyak goreng.
Kalau total produksi dan permintaan kelapa sawit di dunia berapa?
Total produksi dunia 42 juta ton dan kebutuhannya sekitar itu. Dari 42 juta ton indonesia 19 juta (40 persen) lebih, Kalau bersama Malaysia 85 persen.
Target produksi tahun ini berapa ?
Kita tidak adaΒ target, menurut perkiraan kita 20 juta ton, untuk diekspor 15 juta ton, tapi harga karena agak rendah dibanding 2008, jadi nilainya lebih rendah dibanding 2008. Untuk 2008 data per desember US$ 9 miliar, prediksi saya hingga Desember 2008 mencapai US$ 12 miliar. Untuk 2009, hanya sekitar US$ 9-10 miliar karena harga CPO rendah. namun prediksi ini masih tergantung pada bulan-bulan mendatang.
Kendala apa yang dihadapi dalam pengembangan kelapa sawit?
Misalnya masalah lahan, banyak lahan itu yang status hukumnya tidak jelas dan statusnya apa dia kawasan hutan atau bukan. Kami melihat tidak ada kesamaan pendirian antara pemerintah dan Pemda mengenai hal ini. Pemda dan Pemerintah pusat seharusnya membuat ketentuan yang lebih teliti mengenai rencana tata ruang dan menentukan lahan-lahan mana yang dapat dijadikan kebun kelapa sawit.
Apa yang dilakukan GAPKI untuk mendorong bisnis kelapa sawit?
Memperbaiki kondisi usaha, mengurangi hal-hal yang beratkan usaha dan menambah pangsa luar negeri. Selama ini kan baru ke India, China, Eropa Pakistan. Perluasannya seperti ke Timteng, ke negara-negara bekas Uni Soviet seperti Ukraina.
(epi/qom)











































