Menjaga Bank Century Tetap Berdiri

Wawancara Dirut Bank Century

Menjaga Bank Century Tetap Berdiri

- detikFinance
Jumat, 30 Jan 2009 08:50 WIB
Menjaga Bank Century Tetap Berdiri
Jakarta - Maryono masih dalam hitungan bulan menjabat Dirut Bank Century. Tugas yang diembannya kali ini boleh jadi sebagai tugas paling berat yang harus dipikulnya. Bank yang dipimpinnya punya masalah kompleks tapi Maryono punya cara untuk menyelesaikannya.

PT Bank Century Tbk (BCIC) yang dimiliki pengusaha Robert Tantular terpaksa diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 21 November 2008 lantaran bank valuta asing terbesar ini diduga terlibat kasus penyalahgunaan dana nasabah.

Bank Century sudah kritis ketika Maryono ditugaskan masuk. Meski Maryono telah berkali-kali menghadapi krisis dan masalah perbankan, ia pun mengakui masalah yang ada di Bank Century sangat kompleks dan bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maryono harus membangun kembali citra perusahaan yang sudah jatuh ini. Berikut hasil wawancara detikFinance dengan Maryono di kantor pusat Bank Century, Sentral Senayan, Jl Asia Afrika, Jakarta, Kamis (29/1/2009).

Bagaimana Anda melihat masalah Bank Century?

Sangat kompleks. Skemanya sangat rumit dan belum bisa disimpulkan sebelum hasil penyelidikan pihak yang berwenang selesai.

Anda pernah menghadapi krisis dan masalah seperti ini?

Dulu ketika masih di Bapindo, saya berhadapan dengan kasus Golden Key Edi Tansil. Waktu itu tugas saya mengatasi NPL (net performing loan) Bapindo. Kemudian tahu 1997 saya ikut dalam proses merger Bapindo dengan 3 bank lainnya menjadi Bank Mandiri. Ketika itu masalah utamanya adalah perbedaan budaya antara keempat bank namun harus dilebur menjadi satu. Itu tugas yang sangat berat.

Ketika terjadi masalah pergantian Direktur Utama Bank Mandiri tahun 2004, itu juga salah satu tugas yag paling sulit. Selain karena sarat muatan politis, waktu itu dalam tubuh Mandiri terjadi perpecahan. Tugas utama saya adalah mengkoordinir sekitar 450 cabang Bank Mandiri. Meskipun sulit, tapi berkat kerjasama tim semuanya berjalan dengan baik.

Ketika terjadi bencana Tsunami Aceh, saya ditunjuk menangani langsung masalah tersebut. Waktu itu saya terjun langsung ke Aceh. Tidak ada komunikasi, semuanya hancur. Namun berkat kerjasama yang baik, Bank Mandiri berhasil menjadi bank yang pertama kali beroperasi pasca Tsunami di sana.

Mirip seperti Aceh, ketika terjadi bencana gempa di Yogya, saya kembali ditunjuk menangani masalah di sana. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar dan Bank Mandiri kembali menjadi bank yang pertama kali operasi pasca bencana.

Lebih berat mana masalah yang pernah ditangani dibanding dengan masalah Century ini?


Kalau dari beratnya mungkin sama. Tapi karakteristiknya sangat berbeda. Masalah Century ini sangat kompleks. Ditambah telah terjadi krisis kepercayaan pada bank ini.

Jadi bagaimana strategi Bapak membangun kembali Bank Century?

Sejak Desember 2008, mungkin hingga Februari 2009, fase ini kita namakan fase survival. Dalam fase ini, kami memperjuangkan bagaimana bank ini bisa bertahan dan tetap berdiri meski sedang menghadapi masalah. Sejauh ini semua berjalan lancar. Semoga semuanya bisa terus lancar hingga kita masuk ke fase dua Maret 2009 nanti.

Apakah ini berarti masalah Antaboga sudah selesai?


Tidak seperti itu. Hanya saja kami saat ini memisahkan dan menyerahkan masalah tersebut kepada pihak yang berwenang. Sebab saat ini sudah memasuki tahap litigasi. Itu sudah di luar wewenang kami. Fokus kami sekarang adalah bagaimana bank ini dapat bertahan dan tetap berdiri hingga perkiraan kami fase ini akan berhasil dilalui sekitar Februari 2009.

Kami tetap memonitor masalah Antaboga. Hanya saja fokus kami pada pembenahan internal seperti membangun pondasi baru Bank Century, terutama masalah citra. Itu akan dilakukan terutama dalam fase dua nanti. Periodisasi fase dua kami perkirakan selama 9 bulan sejak Maret hingga November 2009.

Apa saja yang akan dilakukan Bank Century untuk meraih kembali citra dan kepercayaan masyarakat?


Pertama sekali, kami akan melakukan konsolidasi internal dan menjalankan program komunikasi yang efektif baik secara internal maupun dengan nasabah. Kemudian kami akan memperbaiki kondisi keuangan seperti stabilitas, pengelolaan aset, peningkatan fee based income dan memperkuat struktur permodalan.

Kemudian tentu saja penerapan GCG dan manajemen risiko, serta penyempurnaan organisasi dan infrastruktur pendukung seperti SDM, kualitas layanan dan pengembangan elektronik channel.

Kami juga akan mengembangkan bisnis kami ke sektor kredit konsumer dan UKM, khususnya bagi etnis Tionghoa.

Kenapa fokus ke etnis Tionghoa?


Kami melihat bahwa bank ini sudah memiliki hubungan erat dan kuat dengan etnis Tionghoa. Ini bisa dilihat dari lokasi kantor-kantor cabang Bank Century yang berada di wilayah etnis Tionghoa.

Kami juga mendapat masukan bahwa etnis Tionghoa, masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Sebab, bank yang fokus pada pelayanan etnis Tionghoa masih jarang, terutama di segmen menengah ke bawah atau UKM Berbekal hubungan yang sudah dimiliki Century dengan mereka, kami melihat potensi pasar disana.

Kapan itu akan dilakukan?

Secara bertahap akan dilakukan mulai dari sekarang. Namun fokus pada pengembangan kredit UKM dan DPK etnis Tionghoa baru akan dilakukan pada fase tiga. Perkiraan kami akan memakan waktu 2 tahun sejak November 2009 hingga Desember 2011.

Apa saja yang akan dilakukan Bank Century dalam fase tersebut?

Tentunya sesuai dengan citra baru bank, yaitu mengembangkan berbagai layanan dan produk khususnya bagi etnis Tionghoa. Kami sedang menjajaki kemungkinan membuat fasilitas remitance ke China. Tentunya dengan didukung dengan berbagai produk-produk pendukung lainnya. Itu akan dibahas nanti.

Bagaimana dengan fasilitas transaksi Valuta Asing?

Tentu saja kami akan tetap menjalankan bisnis tersebut. Kami melihat bahwa Bank Century memiliki sejarah yang sangat erat dengan transaksi valas. Bank Century adalah bank valas terbesar. Jadi bisnis akan tetap kami jalankan.

Hanya saja, kami akan mengembangkan juga aspek perbankan lainnya, sekalian untuk melakukan manajemen risiko. Jika dulu Bank Century memfokuskan hanya pada transaksi valas, ke depan kami akan mengembangkan juga fasilitas kredit, tabungan, giro, deposito dan lain sebagainya.

Kita melihat, jika hanya fokus di bisnis valas, risikonya sangat tinggi. Apalagi dalam kondisi ekonomi global seperti sekarang. Namun bisnis valas adalah bisnis utama Bank Century. Jadi, untuk memperkecil resiko di bisnis valas, kami akan mengembangkan produk-produk perbankan lainnya.

Apakah Bapak yakin citra bank ini dapat dibangun kembali?

Semoga dengan kerja keras tim dan kerja sama dengan semua pihak semuanya akan berjalan lancar.

Kabarnya Bank Century mau ganti nama?

Ya, itu satu opsi yang sedang kami kaji. Kami melihat bahwa dalam proses pembentukan citra baru Century, mengganti nama adalah salah satu strategi yang baik. Namun ini membutuhkan proses, belum bisa kami umumkan lebih lanjut.

Apakah nama baru itu akan menggunakan bahasa Tionghoa?
Masih kami pikirkan. Tapi bukan tidak mungkin karena fokus kita juga akan ke etnis Tionghoa. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads