Bagaimana industri mebel menghadapi krisis yang terus menggerus tingkat permintaan ini? Berikut wawancara detikFinance dengan Ketua Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/3/2009).
Wawancara dilakukan disela-sela pameran International Furniture And Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2009 yang akan berlangsung dari 11 Maret sampai 15 Maret 2009, dengan "Tema The Gateway Of Green Furniture and Rattan Lifestyle". Berikut wawancara dengan Ambar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika industri melorot seperti sekarang, kita tidak boleh diam saja, tinggal nunggu mati. Mari kita bekerja dengan action plan yang nyata. Kiatnya adalah mendatangkan buyer sebanyak mungkin, karena dikasih insentif apapun juga, pajak segala macam, kalo buyer-nya nggak ada ya sama saja.
Kemudian sarana pameran yang bagus juga dibutuhkan. Saya harapkan pemerintah dapat berkonsentrasi terhadap stimulan-stimulan yang diminta oleh para pelaku industri. Karena saat ini kita tidak didengar oleh pemerintah
Stimulan-stimulan seperti apa?
Kalau ada sample barang dari luar yang masuk ke Indonesia kita kena pajak yang tinggi sekali, yaitu PPN barang mewah, padahal barang sample ini digunakan untuk produksi. Ini yang paling utama, harus dihapuskan.
Kemudian PPN bahan baku, harusnya dihilangkan karena tidak membuat nilai kompetitif yang bagus, kita bengok-bengok terus tetap aja ngga ada yang jawab. Harusnya industri, asosiasi, pemerintah duduk bersama dan perbankan bergerak bersama
Sektor Perbankan Bagaimana?
Sektor perbankan juga mencari untung untuk dirinya sendiri, nggak pernah berfikir baik tentang industri. Pokoknya gimana caranya industri harus bisa bayar bunga-nya yang saat ini cukup tinggi.
Saat ini wacana krisis global untuk mengatasi memang hanya sekedar wacana. Nggak ada yang real menurut saya. Perbankan nggak ada kerjsamanya, kita industri menjadi korban, yang tidak pernah ditolong. Pengusaha dianggap bankrut karena tidak bisa membayar bunga.
Harapan untuk Pemerintah?
Yang kami harapkan ini merupakan gayung yang bersambut, jangan sampai pemerintah hanya memberi amin.. amin.. saja. Tekad kami sudah luar biasa untuk mengembangkan Industri ini.
Pemerintah belum mem-back up dari departemen, seperti departemen perdagangan, sebagai industri yang seharusnya mendorong kita menciptakan peluang pasar, mendatangkan buyer, atau bisa membantu kita dengan mem-branding bagaimana pasar kita lebih jauh. Komunikasi ini tidak terjadi dengan baik, semua departemen harunsya berhubungan dengan furnitur.
Asmindo sendiri tindakannya?
Asosiasi ini sebagai wadah nya para pengusaha dan pelaku yang mengerti jalan yang sudah berhari-hari menjalani kehidupannya supaya didengar. Jangan ditentukan dengan pola pikir mereka (pemerintah) yang teoritis. Ini harus ada jalan keluar, shingga harus ada stimulan khusus seperti tadi, yang langsung mengena kepada para pengusaha, tidak bisa dipungkiri pameran juga sangat dibutuhkan oleh anggota asmindo.
Peserta pemeran ini adalah pejuang-pejuang yang betul-betul dalam kondisi yang siap perang artinya dalam kondisi apapun, dia berani mengeluarkan uang untuk datang ke Jakarta berani apapun hanya untuk mengangkat nama Negara
Target Asmindo Kedepan?
Targetnya jangan sampai industri nya mati, terus berkembang, karena industri ini membuka lapangan pekerjaan buat jutaan orang dengan bahan baku dari dalam negeri. Asmindo akan terus berjuang untuk masyarakat dan bangsa
Harapan Lewat IFFINA?
Lewat IFFINA ini saya harapkan dengan was-was dapat memberi pencerahan. Arus buyer diharapakan akan positif dan merata untuk semua perusahaan. Kita mengharapkan ini merupakan titik awal bangkitnya industri mebel. Saya lihat hari ini buyer sudah ada, dan diharapkan akan banyak lagi buyer yang datang besok.
(dru/qom)











































