SBY, Mega, Prabowo dan Marketing Politik

Wawancara Dekan FEUI Termuda:

SBY, Mega, Prabowo dan Marketing Politik

- detikFinance
Jumat, 17 Apr 2009 07:19 WIB
SBY, Mega, Prabowo dan Marketing Politik
Jakarta - Pemilu tak pernah lepas dari sisi marketing. Para parpol-parpol dan capres-capres pun menerapkan marketing politik untuk meraih kemenangan atas lawan-lawannya.

Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmanzah mengatakan, semua parpol dalam pemilu menggunakan marketing politik dengan gaya yang berbeda-beda. Mereka mengelola isu tersebut setelah melakukan riset dan melihat apa yang dibutuhkan masyarakat.

Bagaimana pergerakan marketing politik di tanah air? Berikut wawancara detikFinance dengan pria yang biasa disapa Fiz ini dikantornya, Dekanat FEUI, Depok, Kamis (16/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Firmanzah yang baru 2 hari terpilih memang mendalami marketing politik. Lulusan manajemen FEUI angkatan tahun 1994 itu antara lain pernah menuliskan jurnal ilmiah dengan judul: Mengelola Partai Politik: Persaingan dan Positioning Ideologi Politik di tahun 2008.

Berikut petikan wawancaranya:

Anda mendalami marketing politik, bisa dijelaskan?

Marketing politik adalah bagaimana meletakkan marketing dalam persaingan politik, sekarang ada iklan-iklan politik, brosur, market survei dan manajemen isu, itu semua marketing. Lalu politisi dalam dunia politik yang makin terbuka, bebas dan transparan harus punya konsep dan teknik yang baik dan marketing bisa membantu itu.

Apakah pemilu saat ini sudah menggunakan manajemen marketing itu?


Sudah banyak partai-partai politik dan kontestan politik yang melakukan itu, seperti Prabowo, SBY, ataupun Megawati. Kalau kita lihat bagaimana mereka mengembangkan isu, itu dilakukan melalui riset, melihat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti isu kesehatan, kesejahteraan. Seperti Unilever jika mau meluncurkan produk, itu harus sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Namun di politik yang diluncurkan adalah political product. Figur seperti apa, pakaian seperti apa, dan sebagainya.

Di Indonesia bisa seperti itu?

Bisa dan sudah dilakukan. Dan it works. Bagaimana produk yang kita sampaikan dipahami oleh masyarakat.

Kalau karakteristik marketing politik dari politisi kita?

Ada yang lebih market driven, figure driven atau isu lainnya. Jadi seperti SBY dan Mega perang isu, dimana SBY bilang harga makin murah, Mega bilang harga makin mahal.

Kira-kira yang paling efektif seperti apa saat ini?


Yang paling efektif yang paling dibutuhkan masyarakat, karena itu SBY menang. Karena memang dari jargonnya simpel dan sederhana seperti BLT dan Raskin yang sangat kena kepada masyarakat.

Untuk Pilpres bagaimana?

Peta politik Pilpres akan mengkristal kepada dua koalisi, yaitu koalisi S dan koalisi M, atau koalisi Merah dan koalisi Biru. Koalisi S ada Golkar dan saya rasa Golkar akan merapat ke SBY. Lalu diseberang sana ada PDIP, Gerindra, dan Hanura, mereka ini challenger karena isu-isunya satu cluster. Mereka akan head to head.

Ada yang bilang Presiden SBY itu Obama banget caranya, apa Anda melihat seperti itu?


Saya rasa tidak, karena Obama challenger dan dia harus mengkritik kebijakan Partai penguasa yaitu Republik. Sementara SBY incumbent yang harus mempertahankan kebijakannya. Jadi posisinya beda. Dan beda karena SBY lebih mengedepankan pencitraan, sementara Obama memperlihatkan bahwa Presiden manusia biasa.

Posisi SBY masih kuat?


Saya rasa masih kuat, tapi tergantung dari bagaimana koalisi Mega mengelola isu. Kemarin kenapa PDIP jatuh, karena isunya awalnya kontra BLT, sekarang mengawal BLT.

Pilpres nanti kira-kira political issues yang dimainkan apa?


Saya rasa seperti kesejahteraan masyarakat, infrastruktur, monetary policy, investasi, utang luar negeri, dan banyak lagi.

Sebagai ekonom, kondisi Indonesia dengan Pemilu saat ini di tengah krisis gimana?


Saya rasa kondisi kita relatif lebih baik, dibanding kondisi kawasan terutama di ASEAN. Kalau kita lihat Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, pertumbuhan ekonomi kita masih lebih tinggi. Artinya dalam situasi yang sama-sama sulit, kita masih bisa menciptakan lapangan kerja lebih banyak dari mereka, karena pertumbuhan ekonomi mengindikasikan berapa banyak tenaga kerja yang bisa kita serap.

Pemilu legislatif selesai dan sudah oke, ada kekecewaan seperti masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap), tapi ekonomi kita tetap jalan. IHSG bagus, nilai tukar kita tidak drop sampai Rp 15.000-16.000/US$, cadangan devisa terjaga dengan baik. Tidak ada masalah, dan pemilu tidak jadi beban. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan politik, punya benefit, ini yang tidak dilakukan pada periode 32 tahun Pemerintahan Soeharto.

Tahun 2010 bagaimana ekonomi kita?


Sekarang kondisi beda dengan tahun 1990-an, artinya integrated economy. Bagaimana bisa kita membayangkan demonstrasi di Nigeria bisa menghancurkan UKM kita. Karena demonstrasi pekerja kilang di Nigeria membuat banyak spekulan beranggapan supply minyak dunia menghambat dan memicu mereka membeli bersamaan, dan harga naik. Lalu subsidi kita meningkat, akhirnya harga BBM dilepas mengikuti harga pasar dan komponen energi untuk UKM kita 60% akibatnya banyak UKM gulung tikar. Ini situasi yang kita hadapi, kemampuan kita untuk ciptakan buffer dan reaksi yang cepat dan tepat, menjadi cermin ekonomi nasional. Jadi kita menjaga ekonomi kita dengan baik pun belum cukup karena integrated economy.


(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads