Dampak Bom, Bisnis Hotel Baru Pulih 2 Tahun Lagi

Wawancara Ciputra

Dampak Bom, Bisnis Hotel Baru Pulih 2 Tahun Lagi

- detikFinance
Kamis, 23 Jul 2009 09:15 WIB
Dampak Bom, Bisnis Hotel Baru Pulih 2 Tahun Lagi
Jakarta - Peristiwa ledakan bom yang terjadi pada dua hotel yaitu JW Marriott dan Ritz-Carlton ternyata hanya berpengaruh terhadap sebagian sektor properti saja. Yang paling terpukul tentu bisnis properti hotel berbintang lima, sedangkan properti perumahan diprediksi masih akan aman-aman saja karena Indonesia tidak memiliki pasar perumahan internasional.

Menurut pengusaha properti kelas kakap, Ciputra, tingkat hunian diΒ  hotel-hotel bintang lima baru bisa pulih dalam 1-2 tahun. Akibatnya, para pengusaha properti pun akan mengerem rencananya untuk membangun hotel.

Ciputra pun mengakui peristiwa bom pada Jumat (17/7/2009) tersebut mengganggu rencana IPO salah satu anak usahanya yaitu Metropolitan Land.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk lebih lengkapnya, berikut wawancara sejumlah wartawan dengan Ciputra di sela acara Bisnis Indonesia Award 2009 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu malam (22/7/2009):

Bagaimana pengaruh bom terhadap sektor properti?


Tidak ada pengaruhnya untuk properti perumahan, sebab properti perumahan kita hanya untukΒ  kebutuhan domestik. Rumah itu kan ada 2 macam untuk domestik dan internasional, tapi Indonesia tidak ada market internasional. Karena orang luar negeri tidak mau sebab hak guna bangunan di Indonesia hanya 30 tahun, beda dengan Singapura yang sampai 39 tahun. Bahkan ada negara lain yang sampai 70 tahun. Jadi waktu krisis dunia ini kita tidak terlalu banyak pengaruhnya, karena memang orang luar negeri tidak banyak di sini, dengan kata lain kita beruntung. Topan datang kita tidak kena, itu ada hikmahnya. Kalau di luar negeri kan ada koreksi besar-besaran.

Kalau hotel dan pariwisata terpengaruh bom?

Kalau hotel benar terpengaruh terutama yang bintang lima, karena orang luar negeri biasanya datang ke bintang lima. Kalau domestik tidak banyak pengaruhnya. Saya kira mereka akan lihat-lihat dulu, apakah aman, nanti satu sampai dua tahun baru kembali. Seperti burung yang diusir, kalau aman baru kembali. Pariwisata kita akan mundur sekitar 1 sampai 2 tahun.

Kebijakan apa yang diperlukan menghadapi ledakan bom?


Pembangunan properti terus, hotel kita hentikan dulu satu sampai dua tahun. Tapi promosi pemerintah dan swasta gencar terus, jangan kita berhenti. Satu hal yang beruntung bahwa kita tentram dan aman. Kedua dunia juga mulai recover walau masih merangkak dan belum berlari. Kalau ini kejadian bomnya satu tahun yang lalu maka lebih berat bagi kita.

Pak secara umum kondisi sektor properti di Indonesia bagimana?

Properti makin baik, kita betul-betul menderita di kuartal I dan II. Mengapa lebih baik, karena suku bunga mulai membaik sehingga ada gerakan lagi.

Dilihat dari mana Pak?

Kalau untuk bahan bangunan konstan, inflasi kurang. Kuncinya adalah pada down payment, bunga dan rejection (penolakan) dari bank. Sekarang bunga makin turun dan down payment sudah normal, waktu itu sampai 30%, sekarang normal 10%. Bunga saat itu meloncat sampai 14%, sekarang kurang lebih 10%. Waktu itu rejection yang ditolak sampai 50%, sekarang turun hanya 10% sampai 20%. Jadi ada kegiatan lagi.

Permintaannya bagaimana?


Kalau itu konstan dari dulu, cuma waktu bunga naik, banyak yang tidak mampu bayar sebab gaji kan konstan. Jadi diharapkan kuartal III dan IV, saya kira akan normal pada kuartal IV. Saya kira tahun ini omset penjualan akan sama dengan tahun lalu, kalau biasanya naik 10%-20%.

Nilai penjualan properti tahun ini?

Ratusan ribu unit, saya tidak ingat. Kita terus terang kalau rumah itu pengaruhnya hanya dari bunga. Karena kita masih kekurangan rumah jutaan, jadi pengaruhnya hanya bunga dan down payment, dan bank hati-hati seleksinya dan diperketat karena takut orang tidak mampu bayar.

Kapan recover?

Sekarang sudah recover kuartal III dan IV sudah lebih baik. Kuartal I memang turun 20%, kuartal II turun 10%, kuartal III dan IV mungkin mulai naik.

Kalau dari pengusaha apa ada masalah bahan baku?

Kita no problem, bahan baku kita berlimpah, seperti besi dan lain-lain. Cuma masalahnya di semen ada semacam kartel. Properti mengatakan itu kartel, karena di Jawa ini yang suplai cuma 3 pabrik, pengusaha properti merasa mengapa semua bahan bangunan bisa turun kecuali semen. Dan semen di Indonesia tergolong mahal di seluruh dunia. Lebih mahal dibandingkan RRC dan Singapura.

Ciputra sendiri bagaimana?

Kita ekspansi terus, kita ada 20 proyek perumahan, akan ditambah 4 proyek kawasan baru tahun ini. Satu di Makassar, Ambon, Riau, dan Pulo Gadung proyek pergudangan. Itu proyek multi years, dan nilainya saya lupa, pokoknya beberapa triliun hasil penjualan kita.

Penjualan stagnan, bank juga hati-hati. Lalu siasatnya bagaimana?

Kita harus terus inovasi dan terus mengeluarkan produk baru, dengan perusahaan turut memberikan bantuan kredit. Misalnya bank syaratkan down payment 10%, tapi bank bilang 30%, 20% kita kasih in house finance. Kemudian misalkan bunga 14%, 4% perusahaan kasih discount bunga, jadi profit kita kurangi.

Profit bagaimana?


Profit kita sepertinya sama dengan tahun lalu. Kita kan ada 3 perusahaan, Ciputra Development, Ciputra Property, dan Ciputra Surya. Lalu di Jaya ada Jaya Real Property. Di Metropolitan ada Metropolitan Kencana. Jadi sudah ada 5 yang go public. Kita siapkan lagi Metropolitan Land yang ke-6 untuk go public, itu lokasinya antara lain di Bekasi.

IPO kapan?


Nanti kalau IHSG sudah 2.500, kalau tidak ada bom kemarin mungkin akhir tahun sudah bisa tercapai.

Optimistis Pak?


Kan waktu itu kita sudah 1.600, sekarang sudah 600 poin naik. Jadi optimis.

Indikatornya?

Negara aman, kedua dunia sudah mulai recover lagi. Pemerintah terpilih yang baik, growth kita 6%.

Jadi IPO kapan?

Tadinya akhir tahun saya optimis, tapi karena ada bom mungkin tertunda 6 bulan, jadi bisa jadi awal tahun.

Nilainya berapa Pak dari IPO ini?


Kira-kira targetnya Rp 1 triliun.

(dnl/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads