Felia Salim: Pembiayaan Infrastruktur Harus Plus Plus

Felia Salim: Pembiayaan Infrastruktur Harus Plus Plus

- detikFinance
Rabu, 12 Agu 2009 10:56 WIB
Felia Salim: Pembiayaan Infrastruktur Harus Plus Plus
Cirebon - Di tengah suku bunga kredit yang masih tinggi dan rendahnya pertumbuhan kredit perbankan  untuk semua segmen. Bagaimana dengan komitmen perbankan dalam mendanai pembiayaan infrastruktur?

Mengingat menggeliatnya infrastruktur bisa menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, untuk tahun ini dan tahun depan yang ditargetkan pemerintah hingga 5%.

Saat ini beberapa perbankan mulai mengembangkan konsep pembiayaan  infrastruktur yang berbasis pengembangan kawasan termasuk merangsang geliat sektor UKM di sekitar kawasan infrastruktur, diantaranya yang sudah dilakukan oleh Bank BNI dalam pembiayaan infrastruktur tol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara dengan Wakil Direktur Utama Bank BNI Felia Salim saat ditemui di lokasi tol Kanci-Pejagan Cirebon, Jawa Barat, Selasa (11/8/2009).

Sejauh ini, pembiayaan perbankan terhadap infrastruktur seperti apa, termasuk yang sudah dilakukan BNI?

Pembiayaan infrastruktur tentunya termasuk sektor strategis yang akan kami dukung. Tentunya pendekatan pengembangan kawasan menjadi penting, jadi bukan hanya membangun  infrastruktur saja tetapi kita juga harus memperhatikan ekonomi masyarakat sekitar pembangunan infrastruktur.

Khususnya masalah koordinasi pusat dan daerah dalam  menghadapi rintangan-rintangan (proyek) dilapangan  bisa cepat terselesaikan agar dana kita yang dialokasi benar-benar bisa produktif.

Pola ini lah yang bisa dilakukan ditempat lain agar benar-benar dukungan infrastruktur  bisa tersalurkan.

Sejauh mana pembiayaan infrastruktur BNI?

Total pembiayaan infrastruktur kami mencapai Rp 22,9 triliun, sampai hari ini. Sedangkan untuk pembiayaan tol Rp 7,6 triliun. Sehingga kita harapkan sampai akhir tahun ada sekitar Rp 1-2 triliun lagi. Jadi tahun depan bisa seluruh Indonesia total Rp 25-30 triliun bahkan bisa lebih.

Tahun depan pemerintah mematok pertumbuhan  5%, meski belum agresif tetapi sudah lebih tinggi dari tahun ini, bagaimana komitmen perbankan dalam mendukung ini terutama untuk pembiayaan infrastruktur?

Saya rasa proyek-proyek semacam ini (tol) agar disegarakan, bukan melihat hanya pertumbuhan 4-4,5% tapi agar  ada percepatan, sehingga pertumbuhan bisa lebih tinggi.

Insya Allah ini bisa memberikan inspirasi bagi pengembang lainnya  (pembiayaan berbasis pengembangan kawasan)  karena ini pendekatan kawasan, jadi benar-benar menggaet semua segmen termasuk korporasi, menengah, kecil dan konsumen.

Jadi sebenarnya targetnya apa dari konsep ini?


Ya, pengembangan kawasan. Ini sejalan dengan design pengembangan kawasan, ada akses keluar  (tol) dari itu, bagaimana mengembangkan pasar semacam tempat peristirahatan, akan dibuka dan difasilitasi untuk UKM.

Jadi kita bukan hanya mengincar segmen korporasi tapi juga segmen menengah kecil dan konsumen. Ini namanya  multiplier efek, jadi bukan hanya membiayai jalan tol tapi dikemudian hari membuka dan membiayai di segmen-segmen  lain (menengah, konsumen, UKM).

Bentuk riilnya akan seperti apa?


Akan ada kios-kios, harapan kami ada sentra-sentra kecil untuk pelatihan, di Jawa Tengah saja potensinya besar sekali.

Kita sudah ada perhitungan, UNDIP sedang menghitung potensi para UKM ini di  wilayah Jateng ini besar, dengan adanya  konsep ini  maka lebih terarah. Hal ini juga akan menentukan berapa besar dana BNI  yang kita siapkan dari perhitungan dari UNDIP.

Berbicara soal  bunga, bagaimana dengan bunga pembiayaan infrastruktur, apakah memberatkan pengembang?

Bunganya sekitar 13%, tapi kita ikut floating, kalau rate menurun pasti suku bunga turun. Bagi investor ini tidak jadi masalah. Terutama masuknya bank-bank daerah yang ikut sindikasi ini ideal semua segenap perbankan mengoptimalkan dana untuk infrastruktur.

Bagi BNI  apalagi prioritas pembiayaan infrastruktur yang akan segera digarap?


Banyak sekali seperti PLN, termasuk power plant, pelabuhan, telekomunikasi. Semuanya sudah kita persiapkan cukup lama, semoga tahun ini dan satu dua tahun kedepan bisa bergulir.

Terkait konsep pengembangan kawasan tadi, bagaimana komposisi pembiayaan korporasi dan UKM saat ini?

Kalau sekarang itu kita untuk korporasi itu 43%, karena proyek infrastruktur itu besar-besar, kalau dari sisi memberikan multiplier efek domestik ekonomi ya UKM. Kalau dulu komposisi BNI untuk UKM 30%, sekarang sudah kebalikan. Ini sudah berlangsung sejak 5 tahun lalu mulai bergeser, dulu korporasi 70%.

Mengenai penurunan suku bunga, sudah banyak pelaku usaha yang teriak-teriak, bagaimana BNI menyikapinya?

Penurunan suku bunga masih kita kaji, kita sesuaikan dengan situasi sektor riil, perbankan dan kondisi sektor keuangan secara keseluruhan.  Dimana bank-bank menjaga likuiditasnya dengan persaingan suku bunga, kalau mayoritas perbankan bersama belum menurunkan maka harus hati-hati karena yang paling penting bagi perbankan adalah likuiditas.

Untuk menjaga likuiditas  itu perlu ada, keinginan rate yang dinginkan pasar  harus disesuaikan rate yang bisa diberikan perbankan. Jadi bukan acuan BI rate saja, rate sun, dan permintaan pasar suku bunga deposito, semua hal-hal tadi  harus dihitung.

Pastinya akan segera menurunkan kah?

Pasti, tapi ini tegantung  dengan kondisi pasar karena ada beberapa variabel. Saya kira karena ada perbaikan ekonomi dan pertumbuhan,  kenyamanan, konsumer indeks meningkat, secara perlahan suku bunga pasti turun.


(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads