Meneropong Wajah Ekonomi RI 2010

Meneropong Wajah Ekonomi RI 2010

- detikFinance
Rabu, 30 Des 2009 08:25 WIB
Meneropong Wajah Ekonomi RI 2010
Jakarta - Perekonomian Indonesia bisa disebut tegar sepanjang 2009. Di saat negara-negara lain berjuang karena sempat mencatat pertumbuhan ekonomi minus, Indonesia tetap melaju dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2009 diperkirakan sebesar 4,4%.

Perekonomian Indonesia selama 2009 bisa selamat karena tidak terlalu menggantungkan ekspor dan lebih bertopang pada konsumsi dalam negeri. Sehingga ketika pasar ekspor luar negeri lesu, perekonomian RI tidak terlalu banyak terkena dampak.

Namun sepanjang tahun 2009 ini, cukup banyak hal yang mengganggu perekonomian RI. Selain faktor eksternal dari pemulihan ekonomi global yang masih berjalan, perekonomian RI juga terganggu masalah politik. Yang terakhir dan sempat memanas adalah masalah bailout Bank Century (kini Bank Mutiara) yang menelan dana Rp 6,7 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah tersebut kini sedang ditangani Pansus Hak Angket Bank Century di DPR. Pada awal Januari, Pansus rencananya akan meminta keterangan dari Komite Stabilitas Sektor Keuangan yang dulu diketuai Menkeu Sri Mulyani.

Bagaimana wajah perekonomian Indonesia di tahun 2010? Akankah masalah politik terus menerus menggoyang perekonomian? Sejauh mana pengaruh faktor eksternal?

Berikut wawancara detikFinance dengan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Mirza Adityaswara di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa  (29/12/2009).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan asumsinya dilihat dari faktor apa saja?

Pada waktu kita membuat forecast 2010, asumsi yang dipakai adalah kondisi politik itu akan jalan atau tetap stabil. Bahwa riak-riak gejolak politik ini hanya proses demokrasi. Artinya akan stabil kembali, kita melihat bahwa momentum membaiknya perekonomian dunia akan terjadi di 2010.

Asumsinya politik stabil dan pemulihan ekonomi dunia berlanjut.

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi seperti itu, bagaimana proyeksi di 2010?


Jadi dengan memakai asumsi-asumsi itu, Mandiri punya forecast bahwa 2009 itu pertumbuhan ekonomi 4,3% dan di 2010 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% . kalo politik aman keamanan aman itu didukung pemulihan ekonomi dunia, ekspor yang di 2009 tumbuh negatif di 2010 itu bisa positif. Faktor ekspor tinggi sumbangannya di PDB indonesia. Impor juga sama.

Pengusaha-pengusaha yang tahun 2009 itu di semester I itu mendapat pendanaan, karena krisis global dan pemilu di semetser II dapat pendanaan karena belum dipakai tapi di 2010 nanti sudah mulai memakai pendanaan. Maka undisbursed loan juga akan turun sehingga menjadi realisasi kredit.

Pertumbuhan Kredit sendiri potensinya berapa?

Kredit kita asumsikan tumbuh 15%-20% di 2010. Kalau kita mengambil sampel dari 2004-2005 dan 2007 pada waktu BI Rate 7,5% itu Pertumbuhan kredit diatas 25% bahkan sampai 30%. Jadi jika dipakai 15%-20% di 2010 itu reasonable.

Tahun 2004-2007 permintaannya banyak? Kenapa hanya 20% di 2010?

Jika lihat realisasi sampai dengan Kuartal III-2009 memang dibawah ekspektasi. Tadinya Mandiri memperkirakan setelah Pemilu ada pencairan kredit, karena jika dilihat kenaikan permintaan kepada motor, mobil, alat berat itu membaik di kuartal III dan kuartal IV. jika dilihat pencairan kredit di Oktober baru sampai 7%, berarti sampai akhir tahun cuma tumbuh berapa? paling 9%-10%.

Padahal Desember biasanya orang nge-push untuk merealisasikan kredit mereka, dan bank juga mencarikan debitur untuk mencairkan kredit itu untuk kejar target. Tapi nanti Januari 2010 negatif lagi, pertumbuhan MoM negatif karena sudah di Desember 2009.

Dan itu rendah dibawah perkiraan, kita sendiri memperikrakan tadinya bisa sampai 15% di 2009, karena kita ambil sampel dari 2006. Padawaktu BBM tinggi, di 2006 semester I tidak ada grwoth, di Kuartal III dan IV itu tumbuh 14% kreditnya. Jadi jika 2009 Desember sekitar 10% ya dibawah ekspektasi.

Apa Penyebabnya?

Orang melihat kondisi politiknya. Orang memperkirakan kasus Century tidak sampai menjadi faktor krusial yang tidak mempengaruhi investasi orang, sekarang jadi krusial. Orang khawatir jika ada sesuatu, atau ada apa-apa, jadi orang lebih menunda terlebih dahulu.

Benar hanya karena Century?

Iya, mempengaruhi, karena kondisi poltik sedang tidak sehat. Namun memang agak susah jika dilihat pada bulan Desember 2009 ini, orang cenderung sudah tutup buku. Investor sudah membukukan pada minggu kedua Desember dan sudah ditutup, seperti pedagang valas dll. Nanti baru terlihat jelas di 2010, apakah signifikan atau tidak.

Memang kita tertolong oleh faktor ekonomi Amerika yang pertumbuhan ekonominya rendah, orang nggak mau berinvestasi di Amerika.

Pertumbuhan Ekomomi 2009 bisa tumbuh penopangnya apa?

Yang mempengaruhi kuartal I dan II tumbuh ya Pemilu, bisa tumbuh sampai 4,4% waktu itu. Luar negeri itu kuartal I dan II itu masa terburuk tapi tidak bagi kita.

Penopang Pertumbuhan Ekonomi di 2010?

Investasi sektor swasta dan BUMN serta recovery dari ekspor. Semua sektor, komoditi, infrastruktur mulai jalan dan sektor swasta juga.

Mandiri Sekuritas mengadakan riset dari 45 BUMN Capex tumbuh 22% di 2010. Capex dari 45 perusahaan emiten nai 22% BUMN dan Non BUMN, Capexnya 10,3 miliar atau Rp 3 triliun.

Namun itu baru rencana Capex dan berdasarkan asumsi, asumsi yang cenderung sama seperti diatas. Panas-panasnya Century apakah orang cuek atau memang mempengaruhi sekali.

Investasi dari Capex itu di Kuartal berapa tahun 2010?

Baru bisa jalan di pertengahan tahun, makin cepat makin baik namun itu tergantung kondisi politik.

Untuk tingkat inflasi sendiri bagaimana?

Inflasi tahun ini dibawah ekspektasi, tahun ini kita menargetkan 4% saat ini memang berada dikisaran tersebut atau dibawah ekpektasi yakni sampai bulan November 2009 masih dibawah 3%. dan memang harga-harga komoditi yang masih rendah.

2010, kan ada akselerasi ekonomi dan bagi suatu negara yang infrastruktur distribusi jelek itu bisanya memacu kenaikan cost distribusi dan akhirnya menaikkan inflasi.

Ditambah jika dolar rendah, uang-uang panas didunia ini yang belum ditarik The Fed, Bank Of Japan dan Bank Of England sampai beratus ratus miliar dan uang-uang ini pasti mencari negara emerging market dimana suku bunga lebih tinggi. Dan ini menyebabkan harga harga komoditi di negara berkembang naik.

Kisarannya?

Inflasi 6,3% di 2010. Tahun ini katakan saja 3%. kalau kembali menjadi 6,3% ya kenaikannya wajar karena akselerasi ekonomi dan harga-harga komoditi naik.

The Fed isunya menaikkan suku bunga dalam waktu dekat bagaimana impact ke Indonesia sendiri?

Pernyataan The Fed akhir-akhir ini, justru mereka akan menaikkan suku bunga jika pengangguran akan turun. Pengagguran bisa turun jika mereka sudah mulai meng-hired pegawai, namun itu setelah penjualan normal, dan ekonomi stabil. Pengaruhnya BI Rate di semester I tidak akan ada kenaikan.

BI Rate Berapa sampai akhir Tahun 2010?


Sampai akhir 2010, 7,25%. saya kira naik 75 bps dari 6,5% saat ini masih wajar. Australia sudah naik 75 bps juga diperkirakan masih ada kenaikan di Indonesia ini dan posisi 7,25% dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi 5,2% sangat reliable.

Suku bunga BI Rate sudah paling rendah saat ini kenapa tidak membuat kredit tumbuh, masih mandek, berarti dengan mematok di Suku Bunga rendah belum tentu kredit bisa tumbuh tinggi? kenapa?

Kalau dilihat bank sudah menandatangani akad kredit banyak sekali tapi tidak terpakai berarti bukan banknya.

Yang pertama adalah permintaannya, para debiturnya. Kedua yakni kredit investasi misalnya jalan tol, dll masalah perijinan memang susah. Namun saya yakin kredit bisa mencapai 20% tahun depan seiring adanya akselerasi tadi.

Namun balik lagi jika kondisi politik kita membaik. Jika kuartal I belum juga selesai kasus Century bisa tertunda juga pertumbuhan kreditnya. Makanya Bank Indonesia pun revisi dari 20% jadi 15%.

Kredit Valas sendiri bagaimana? Karena sekarang masih negatif, bagaimana di tahun 2010?


Kredit valas itu negatif karena bank nya sendiri cenderung tidak ingin menambah kredit valas karena khawatir kredit valas ini biasanya bank-bank luar negeri yang yang memang belum pulih. Kredit valas juga penggunanya kan eksportir dan importir jika ekspor impor turun ya akan membuat kredit valas turun.

Di 2010 sendiri apa akan positif?

Ekspor yang tumbuh serta impor pastinya kredit valas akan tumbuh positif. Saat ini kredit valas kecil porsinya karena Kita tidak mau seperti tahun 1996 yakni mencapai 35% dari total kredit secara keseluruhan.

Kontribusi secara nasional Kredit valas itu saat ini hanya 14,6% per September 2009. padahal tahun 1996 ini mencapai 35% sehingga jika dolar melambung maka akan jebol semua.

Komposisi stabilnya?

Seharusnya 20% Valas dan sisanya Rupiah yaitu 80%. Itu yang baik. Intinya saat ini akses likuditas perbankan sangat baik jadi bukan dari banknya tapi demand.

Permintaan dalam negeri masih seret, di 2010 yang menopang yakni kredit modal kerja dan konsumsi masih akan mendominasi serta investasi. Dan seharusnya harus jalan semua di 2010.

Harga Minyak dunia seperti apa di 2010?

Seiring perbaikan ekonomi global, IMF saja memprediksikan dari minus 1,1% menjadi 3,1% naik tiga kali lipat jadi pasti permintaan terhadap minyak naik. Dari sisi permintaan naik, maka spekulasi juga naik. Orang menggunakan carry trade, pinjem dolar beli minyak, beli CPO, Nikel, pasti naik harga minyak.

Kenaikannya di kuartal berapa?


Kita pakai rata-rata US$ 80 per barel di tahun 2010. Kalau saya jika The Fed suku bunganya rendah terus maka 2010 harga minyak akan terus naik.

Harga BBM dalam negeri bakal naik?

BBM di dalam negeri, di 2010 belum tentu akan naik, paling di 2011 asumsi nya minyak dunia naik terus, kemudian The Fed suku bunganya rendah paling mencapai 1%.

Perkembangan industri Pasar Modal sendiri bagaimana di 2010?

Pasar modal kembali lagi kepada asumsi dimana politik tenang stabil, kredit jalan permintaan naik barang konsumsi naik sehingga harusnya saham-saham yang related kepada domestik demand seperti saham rokok, mobil, semen, motor, energi akan tetap tumbuh. Tetapi naiknya sudah banyak di 2009 ini, jadi di 2010 naik tinggi itu susah, paling IHSG akan mencapai 2700-2800 saja di 2010. Tidak akan banyak naiknya hanya 10%.

Rupiah sendiri?

Suku bunga AS yang rendah, dan ekonomi yang masih lemah di AS sehingga likuiditas masih mengejar ke negara berkembang apalagi yang mempunyai komoditi terutama asia dan Indonesia.

Pasar saham masuk ke konsumsi, domestik demand. Kalau di pasar obligasi, yieldnya SBI dan SUN masih lebih menarik dibandingkan AS.

SUN 10% dibanding SUN Amerika hanya 3,8%  sehingga terjadi Capital Inflow maka akan menaikkan Cadangan Devisa menjadi dari saat ini US$ 65 miliar menjadi US$ 72 miliar. Sehingga rupiah juga menguat, sampai akhir tahun 2010 ke 8.927 per dollar AS.

Intinya asumsi ke tingkat kondisi politik. Dimana kasus Century ini memang tidak menggoyang kabinet pos menteri keungan, karena orang melihat kebijakan  moneter dan fiskal para investor asing. Jangan sampai menggoyang kabinet.

Jika maksudnya hanya mencari rasa penasaran saja ya silahkan saja, tapi jika dipolitisir maka akan cukup serius dampaknya.

Sampai kapan investor wait and see?


Masyarakat atau investor bisa melihat mana yang murni dan mana yang dipolitisir, jika memang mencari kebenaran sah-sah saja. Tapi orang melihat jika ada lagi yang dipolitisir setelah century misalnya maret selesai apalagi.

Orang melihat pemerintahan sekarang lebih kuat, dipilih 65% rakyat dan 75% parlemen serta kabinet yang solid.

Kasus Century ke Perbankan Sendiri?


Satu yang jelas dampaknya adalah, kita mengambila pelajaran dari BLBI dan Century. Jika di AS bernanke mengucurkan 1,6 triliun dolar menyelamatkan ekonomi AS saja bisa masuk Man Of The Year majalah Times, ini menyelamatkan satu bank kecil yang menyelamatkan ekonomi Indonesia malah di gonjang-ganjingkan.

Padahal ini masalah serius, ancaman serius. Jika masa depan ada krisis lagi, maka tidak akan adalagi yang meu ambil keputusan pasti pada bodo amat atau tidak peduli daripada dikejar-kejar. Itu sangat serius nanti akan menyebabkan hal seperti itu dan para pengambil kebijakan tidak akan mau ambil risiko.

Terkait Pengawasan sendiri di Perbankan? penting tidak Otoritas Jasa Keuangan?


Kuncinya itu, integritas, transparansi dan kompetensi. Tidak peduli siapa yang mengurus, baik BI, Bapepam melalui OJK atau siapapun intinya hanya tiga itu saja.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads