Bank Mandiri baru saja berganti pimpinan, setelah Agus Martowardojo ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Di bawah komando Zulkifli Zaini sebagai Dirut, Bank Mandiri kini akan melanjutkan program transformasi yang sebelumnya sudah dirintis Agus Marto.
Sejumlah rencana pertumbuhan dari seluruh lini anak usaha terus digenjot. Selain untuk mengukir kinerja, bank BUMN itu juga bercita-cita menggusur kapitalisasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang saat ini tercatat masih yang terbesar di antara perusahaan pelat merah.
Bagaimana dan apa saja rencana Bank Mandiri ke depan? Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini di kantornya, Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (22/7/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begini, kita kan sudah laksanakan transformasi Bank Mandiri tahap pertama, salah satunya meningkatkan kinerja Bank Mandiri yang terkait dengan non performing loan (NPL), tapi pada saat yang sama kita juga tumbuhkan kredit.
Hal lain juga bagaimana kita juga tingkatkan service excellent Bank Mandiri, jaga good corporate governance. Ke depan kita jelas melihat Bank Mandiri sebagai grup perusahaan. Di mana di dalamnya ada Bank Mandiri, kemudian Bank Syariah Mandiri, AXA Mandiri, Mandiri Sekuritas, Bank Sinar Harapan Bali, dan Mandiri Tunas Finance.
Semuanya diharapkan tumbuh bersama Indonesia. Misalnya tahun lalu Indonesia tumbuh 4,5% kita ikut di situ, kemudian tahun ini diharapkan tumbuh 5,9% itu kita mau tumbuh bersama. Tahun depan 6,2% kita ikut juga. Jelas paling utama Bank Mandiri sebagai grup tumbuh dengan Indonesia.
Tapi kita juga tidak bisa abaikan tumbuh dengan debitur eksportir kita. Bagaimana mereka memiliki bisnis di Hong Kong, Singapura, China, dan lain sebagainya. Saat ini kan eranya, era Asia, negara-negaranya pertumbuhannya tinggi sekali bila dibandingkan dengan Amerika dan Eropa dimana keduanya tumbuh negatif tahun lalu.
Walau prediksi Amerika dan Eropa akan posistif tahun ini tapi tetap tidak akan bisa tumbuh di atas China yang 10% atau India yang 8,9% dan Singapura yang 15%. Nah maka dari itu kita akan kembangkan Bank Mandiri sebagai grup maupun perusahaan beserta anak-anak usahanya.
Kalau untuk Bank Mandiri sendiri kita akan tumbuh di 3 hal utama. Transaksi terkait dengan wholesale, yang terkait dengan debitur komersial. Selama ini sudah sama kita, tapi ada beberapa transaksi yang masih di bank lain kita usahakan tangkap semua bisnisnya itu.
Kedua kita mau tumbuh di retail transaction. Kita coba masuk ke transaksi nasabah ritel, pedagang, grosir seperti di Mangga Dua atau Kelapa Gading. Kemudian di kota lain, pasar Atom, Pasar Klewer, Pasar Baru di Bandung, dan lain sebagainya. Selama ini memang Bank Mandiri kuat di nasabah individu.
Kalau begitu tidak akan mengambil pangsa pasar BPR?
Tidak, kalau BPR pangsanya lain. Mereka di pasar tradisional. Mudah-mudahan tidak bertabrakan karena kita masuk ke grosiran seperti Tanah Abang atau Mangga Dua. Perkembangan Bank Mandiri yang ketiga, asalnya nanti dari retail loan. Kredit yang terkait dengan KPR, credit card, kemudian mikro. Jadi kita masuk ke tiga hal itu.
Kita juga akan tumbuh di Syariah. Bank Syariah Mandiri kan bank syariah dengan market share terbesar di Indonesia. Paling tidak 35%. Mereka kita minta tumbuh di tradisional syariah dan pegadaian syariah seperti tahun lalu.
Kita juga cross selling antara Bank Mandiri dengan BSM, misalnya nasabah Bank Mandiri ingin transaksi syariah nanti kita arahkan, begitu juga sebaliknya. Bersama-sama di pasar turun paralel.
Kemudian ada debitur yang sudah cukup besar, mereka mau IPO. Nanti kita arahkan ke Mandiri Sekuritas. Apakah itu menjadi underwriter atau sebagai arranger. Kita tumbuhkan di investment banking. Kalau nasabah butuh bank insurance kita dorong ke AXA Mandiri.
Sumber pertumbuhan kita yang ketiga tadi kan retail loan, itu akan tumbuh paralel dengan Tunas Finance terkait pembiayaan kendaraan bermotor. Sebagai anak usaha Bank Mandiri. Kalau untuk Bank Sinar Hrapan Bali kita minta belajar untuk masuk ke mikro. Memang belum besar tapi sebagai training ground itu akan kita lihat perkembangannya.
Kita juga tumbuh dengan nasabah eksportir dengan membuka cabang di Singapura, Hong Kong, kantor remitansi di Kuala Lumpur dan mudah-mudahan dalam waktu dekat kita akan buka cabang di Shanghai sebelum akhir tahun.
Syarat untuk buka kantor di sana pemerintah China menetapkan harus ada MoU antara dua regulator. Selama ini belum terpenuhi tapi kami dapat kabar itu sudah di-signing oleh Bank Indonesia dan regulator dari China.
Kalau cabang di Kuala Lumpur itu bagaimana?
Β
Saat ini kita sudah punya kantor remitansi, sudah kita ajukan untuk jadi kantor cabang.
Apa yang dibidik di sana, sementara pemainnya kan sudah besar-besar tidak bisa hanya mengandalkan remitansi?
Betul, kita coba masuk ke business related ke Indonesia. Selalu, kalau kita buka bukan kepada perusahaan-perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan Indonesia. Seperti di Singapura dan Hong Kong.
Kita minta izin buka cabang kepada Bank Negara Malaysia, tetapi diberi izin prinsipnya adalah membentuk subsidiary (anak usaha). Itu yang sedang kita kaji bagaimana kita lakukan itu dengan sebaik-baiknya. Kita kan diberi waktu sampai dua tahun untuk itu. Bukan jangka waktu yang pendek lah, lumayan cukup lama. Yang penting kita udah pegang izin prinsipnya. Apakah nanti mau tetap banding buka cabang atau subsidiary di sana, itu sedang kita pertimbangkan.
Bukannya lebih mudah buka cabang dibandingkan anak usaha?
Β
Jelas, kalau buka cabang modalnya milik Bank Mandiri. Kalau anak usaha kan modalnya khusus walau nanti ditarik ke Bank Mandiri juga.
Nilai investasi kalau bentuk anak usaha di sana besar ya?
Β
Jumlah yang mereka minta paling tidak Rp 2 triliun untuk modalnya. Kalau kita tumbuh dengan cepat, Rp 2 triliun bukan jumlah yang besar. Tapi kalau mulai dari nol, katakanlah dia tumbuh beberapa miliar dalam sebulan, itu mau sampai kapan mencapai Rp 2 triliun.
Mungkin kita sedang pertimbangkan kalau memang harus bikin subsidiary kita minta modalnya tidak terlalu besar tetapi bertahap. Kalau langsung Rp 2 triliun, untuk apa juga langsung sebesar itu. Bisnisnya kan butuh waktu untuk berkembang. Makanya kita ada dua tahun jadi tidak buru-buru kita respons.
Nah, dengan semua itu lah kita punya aspirasi bagaimana kredit Bank Mandiri itu setiap tahun bisa tumbuh 22% sehingga pada akhir tahun 2014 pangsa pasar pendapatan Bank Mandiri itu akan meningkat.
Saat ini total pangsa pasar pendapatan Bank Mandiri dibandingkan total pangsa pasar pendapatan perbankan Indoensia itu hanya sekitar 12 persen. Nanti di akhir 2014 kita harapkan di kisaran 14-16%. Dari pesentase mungkin kecil tapi kalau dari riil pertumbuhan kredit dan dan itu buka sesuatu yang mudah. Kalau sesuai rencana maka akan menaikkan laba.
Kalau laba naik makan nilai saham meningkat sehingga kalau kita bisa kilas balik di tahun 2005, nilai saham kita Rp 33 triliun, kemudian di akhir tahun 2009 market cap kita PR 97 triliun dengan harga saham Rp 4.700 itu bulan Juni 2010 kita harga saham di kisaran Rp 6.000 dengan market cap totalnya Rp 124 triliun.
Bayangkan bank ini dari Rp 33 triliun naik ke Rp 124 triliun. Kalau dikilas balik, seharusnya para pemegang saham Bank Mandiri luar biasa happy-nya. Dalam jangka pendek saja itu sudah meningkat 25% dalam 6 bulan.
Kalau kembali ke corporate plan tahun 2010-2014 tadi, kalau sekarang market cap kita di Rp 124 triliun maka di 2014 kita ingin ada di kisaran Rp 225 triliun. Dengan market cap sebesar itu kita sudah menjadi perusahaan dengan market cap terbesar di Indonesia. Itu di atas Telkom dan Astra Internasional.
Jadi ingin lewati Telkom dalam 4 tahun ke depan?
Ya, itu benchmark kita. Kita ingin sekali bank ini memiliki market cap terbesar di Indonesia. Kalau di regional atau ASEAN, kita ingin posisi Bank Mandiri sebagai market cap urutan 5 di 2014. Cita-cita lebih jauh lagi kita ingin market cap nomor 3 di 2020.
Kinerja semester I-2010 gimana Pak? Sekalian dengan rencana revisi petumbuhan Bank Mandiri seperti yang dilakukan World Bank dan ADB terhadap Asia?
Bank Mandiri tumbuh bersama Indonesia. Jika prediksi pertumbuhan Indonesia lebih baik dari sebelumya, kita sedang mengkaji untuk merevisi targer-target bisnis kita. Besok hari Jumat kita akan public expose bulan Juni 2010. Akan kelihatan bagaimana Bank Mandiri tumbuh dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya, dibandingkan dengan RKAP kami sendiri. Sebaiknya saya sampaikan besok, bahwa kita tumbuh lebih baik dari perkiraan. Baik dari sisi perkreditannya maupun dana dan lain-lain.
Terkait debitur besar Bank Mandiri yang bermasalah perkembangannya sampai dimana?
Prinsip dasarnya, yang berutang harus bayar. Kalau mereka ngutang tapi enggak bayar pasti kita tagih. Kalau ditagih tidak bayar kita lihat jaminannya. Jaminannya ada dan baik, kita lelang. Sudah pasti kita akan lakukan semua usaha supaya uangnya bisa kembali. Baik itu Benua Indah, Jayanti atau nama-nama lain yang ada.
Tetapi memang NPL kita jauh menurun dibandingkan dulu, secara gross dulu 25% sekarang di bawah 3%. Secara nett dulu 15% sekarang di bawah 1%. Kalaupun ada nama-nama besar, jauh sekali bedanya dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Tapi walau NPL kecil itu tetap kita tagih
Benua indah kemarin ngotot pakai jalur hukum lagi itu bagaimana?
Mereka selalu begitu. Kalau debitur attitude-nya sudah enggak baik dia selalu berusaha supaya penagihan kita tidak berhasil. Padahal jelas sekali secara hukum bahwa agunan itu sudah dijaminkan ke Bank Mandiri. Kita berhak untuk jaminan itu, tetapi tetap mereka selalu usaha untuk banding atau hukum lainnya supaya kita tidak bisa melakukan lelang. Tapi kita tidak akan berhenti untuk tagih terus. Sampai dimana mereka usahanya sampai di situ juga kita akan atasi.
Yang ingin dan berminat terhadap aset Benua Indah itu banyak sekali. Paling tidak ada 5-6 perusahaan. Mereka tetap berminat dan tidak mundur, nanti kita usahakan untuk lelang lagi. Selalu Benua Indah itu berupaya supaya lelang kita gagal.
Terkait kepemilikan saham Bank Mandiri di Garuda, pemerintah masih belum jelas apakah akan dilepas saat IPO itu bagaimana?
Aspirasi dari Bank Mandiri, pada saat mereka IPO tahun ini kita mau jual semua saham kita 10,6% senilai Rp 1 triliun itu. Secara pemilik saham hasil debt to equity swap berusaha melepaskan saham itu karena terikat ketentuan Bank Indonesia. Bank kan tidak boleh memiliki anak usaha yang tidak terkait perbankan.
Garuda itu tidak ada hubungannya dengan perbankan, walaupun kita senang juga punya sahamnya. Di samping itu waktu konversi ada komitmen Garuda untuk lepas saham Bank Mandiri. Tetap pada waktunya nanti kita minta bersama dengan pemerintah dilepas di IPO. Ini sudah disampaikan ke Kementerian BUMN kita ingin lepas.
Kalau ternyata pas IPO harganya tidak sampai Rp 1 triliun bagaimana?
Pasti kita akan lepas di atas Rp 1 triliun. Kita tidak akan lepas kalau nilainya lebih rendah dari pada saat debt to equity swap tadi.
Kalau begitu harus dikawal IPO-nya Garuda oleh Mandiri Sekuritas?
Iya, sekarang mereka ikut lelang untuk underwritter. Lebih baik menunggu sampai harga sahamnya sampai ke situ. Tetapi dengan kinerja Garuda yang cukup baik selama 2 tahun terakhir ini saya kira nilainya bisa di atas itu. Kita harapkan bisa di atas itu.
Karena pemegang saham yaitu Kementerian BUMN berharap harga sahamnya baik. Kalau ternyata harga sahamnya di bawah harapan mereka tidak akan lepas.
BI agak keras kepada perbankan, akan mengeluarkan semacam kewajiban supaya perbankan menurunkan suku bunga. Menangapi BI itu bagaimana?
Mungkin itu lebih ditujukan ke bank lain. Bank Mandiri itu satu tahun terakhir penurunan bungan sudah cukup signifikan. Maret 2009 base lending rate kita 10,6%, di Maret 2010 base lending rate sudah 8,9%, sudah single digit. Jadi kelihatan kita usaha turunkan suku bunga.
Cara melihat suku bunga ketinggian atau tidak, kita lihat net interest margin (NIM) kita. NIM Bank Mandiri salah satu yang paling rendah, kita itu hanya 5,1%. Coba bandingkan dengan NIM para pesaing kita yang dua digit, cek saja deh. Jadi peraturan itu lebih banyak ditujukan ke mereka bukan kepada kita.
Di Indonesia ini ada 120 bank sementara di negara lain hanya 4 atau 5 saja. Mereka ini semua bersaing untuk mendapatkan nasabah, persaingan sangat ketat. Hanya dengan selisih bunga 0,25% atau 0,3% itu orang bisa pindah. Jadi bagaimana mungkin kalau perbankan kita dianggap suku bunga terlalu tinggi. Kita saja sesama bank BUMN bersaing ketat.
Kita selalu usaha turunkan suku bunga, NIM sudah rendah. Kalau mau turun lagi harus ada sesuatu yang fundamental, yaitu inflasi. Suku bunga DPK itu fungsi inflasi. Kalau mau bandingkan suku bunga kita dengan negara lain harus dilihat dulu apakah inflasinya sama atau tidak. Itu yang sering kita enggak lihat.
Kalau inflasi rendah, maka suku bunga DPK naik dan banyak orang simpan dana dan memuat suku bunga kredit turun. Jangan salahkan bank nya kalau suku bunga dua digit atau lebih itu semua rangkaian saja.
Jadi sebetulnya tidak perlu ada pemaksaan penurunan suku bunga, ataupun ada reward atau punishment?
Pertimbangan kami, serahkan saja ke mekanisme pasar. Pada akhirnya kan debitur juga tidak mau dengan bank bersuku bunga tinggi. Kompetisi tidak memungkinkan kita mengenakan suku bunga tinggi apalagi situasi di Indonesia di mana 120 bank yang bersaing antara satu sama lain. Cost of fund bisa turun kalau inflasi turun.
Tapi kenapa para pengusaha selalu menuding perbankan tidak mau fleksibel turunkan suku bunga? Mereka selalu mengeluh suku bunga Indonesia itu paling tinggi?
Argumentasi dari pemgusaha itu mungkin ada dasar pemikiran mereka sendiri. Kalau dari perbankan ya seperti yang tadi.
Tapi kalau berbicara suku bunga UKM itu agak beda. Kenapa mereka tidak bisa diberikan bunga rendah karena nilainya kecil jumlahnya padahal yang menangani kredit itu cost-nya cukup tinggi. Lebih tinggi dibandingkan kredit korporasi Rp 1 triliun, supervisornya cuma 1 orang. Kalau UKM untuk mencapai Rp 1 triliun kan butuh banyak sekali peminjam dan kita harus sediakan yang menanganinya masing-masing satu itu butuh berapa ratus officer untuk itu. Cost per loan-nya memang lebih tinggi, tidak bisa disamakan dengan korporasi besar.
Yang menjadi persoalan utama kredit UKM sebenarnya bukan suku bunga tetapi akses masuk. Ini yang membuat kesultan selama ini akhirnya pindah ke lintah darat dengan tidak pedulikan tingkat bunganya.
Debitur besar lain yang bermasalah yang masih akan dikejar?
Masih ada Jayanti, Domba Mas. Finalisasi dari restrukturisasinya Domba Mas sedang dilakukan, mudah-mudahan segera final. Kalau itu final, nantinya bisa selesaikan yang cukup besar yaitu Domba Mas itu.
Bisa menurunkan NPL secara signifikan?
Sudah tidak terlalu berpengaruh, yang justru mungkin ke depan pengaruh cukup besar kalau UU No.49 tahun 1960 bisa diamandemen sehingga bank BUMN bisa melakukan haircut. Karena memang NPL di bank BUMN kan cukup besar sehingga kalau bisa diamandemen maka NPL yang sekarang mandeg tidak bisa diselesaikan itu bisa lebih fleksibel penyelesaiannya. Bisa melakukan haircut, sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh bank swasta.
Potensi haircut Bank Mandiri sendiri berapa, kalau kata Kementerian BUMN 4 bank BUMN itu totalnya Rp 70 triliun?
Cukup signifikan, mungkin ada sekitar Rp 13-15 triliun saya tidak begitu ingat angkanya. Meski nanti hasilnya besar, itu akan menjadi windfall laba di Bank Mandiri, bukan sesuatu yang sudah direncakanan di RKAP. Begitu juga jika dapat hasil penjualan saham dari Garuda, itu juga windfall karena tidak kita sertakan dalam RKAP 2010. (qom/dnl)











































