Malaysia Rugi Kalau Menarik Investasi di Indonesia

Wawancara Halim Kalla

Malaysia Rugi Kalau Menarik Investasi di Indonesia

- detikFinance
Rabu, 01 Sep 2010 11:25 WIB
Malaysia Rugi Kalau Menarik Investasi di Indonesia
Jakarta - Hubungan Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini kembali memanas setelah insiden penangkapan 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Memanasnya hubungan itupun lantas dikait-kaitkan dengan masalah investasi kedua negara. Bagaimana jika memang hubungan investasi pun lantas diputuskan?

Malaysia yang punya 'jaringan' investasi di berbagai sektor di Indonesia pun tampaknya bakal menjadi pihak yang lebih dirugikan. Sementara Indonesia juga bisa menderita rugi karena banyaknya tenaga kerja di Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana sebenarnya hubungan ekonomi kedua negara ini? Dan apa sebenarnya penyebab dari semua permasalahan hubungan kedua negara ini?

Berikut ini wawancara detikFinance dengan Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Urusan Malaysia Halim Kalla disela-sela acara Kadin di HIPMI Center, Jakarta, Selasa (31/8/2010).

Anda sebagai perwakilan Kadin yang bermitra dengan Malaysia, bagaimana melihat memanasnya hubungan RI-Malaysia, apa sudah mengkhawatirkan?

Ketegangan RI-Malaysia suatu hal yang biasa, ini terus terang saja ada masalah kecemburuan atau jealous (Indonesia ke Malaysia), ada perasaan begitu.

Dahulu juga orang Malaysia jealous dengan orang Singapura, dahulu Singapura memisahkan diri dari Malaysia karena merasa dengan orang melayu tak bisa maju lalu Singapura maju lalu Malaysia ketinggalan.

Lalu Malaysia cemburu, apa saja diributkan, sama ketika ribut Indonesia Malaysia. Tapi mereka Malaysia terpacu bukan hanya marah-marah saja tapi mencoba maju menyerupai Singapura, dengan jalan raya bagus, infrastruktur bagus ternyata bisa maju juga.

Sehingga setelah Malaysia maju, Malaysia tak lagi cemburu, karena apa yang dipunyai Singapura, Malaysia juga punya.

Lalu konteks terkait hubungan RI-Malaysia?

Konteksnya kita nyaris sama seperti itu. Seharusnya kita jangan hanya marah-marah saja. Untuk tidak dicueki atau dijelekan, ya kita harus maju juga.

Kita tidak hanya marah-marah saja, melempar kedubes orang, tapi bagaimana supaya kita juga bisa maju. Supaya sejajar (equal), memang kita akui Malaysia lebih maju dalam hal infrastruktur, kita pun harus begitu. Apa bedanya kita dengan mereka, sama-sama orang melayu, kekayaan kita jauh dari mereka.

Bagaimana sekarang ini kita bisa equal jangan kirim pembantu rumah tangga ke Malaysia, kita lemah sekali. Seharusnya kita kirim tenaga-tenaga produktif engineer. Bagaimana juga mereka-mereka itu (TKI) bisa bekerja di dalam negeri.

Jadi bagaimana caranya supaya mendorong ekonomi kita maju jangan sampai ketinggalan.

Bahwa kita harus menyamakan equalitas kita, mereka kan lebih. Kita harus meningkatkan ekonomi kita, supaya sama keberadaan, sama tingkatan dan level. Jadi antara kita dengan Malaysia tidak ada perasaan lebih, sehingga tak memandang enteng kita kirim pembantu.

Kenapa kita dijelekan karena yang kirim adalah pembantu, pengacau. Kalau ekonomi kita maju kita tak perlu kirim pembantu ke Malaysia.

Investor Malaysia bagaimana sejauh ini responsnya? Apakah mereka mengeluh?


Saya kira tidak ada, ini kan masalah politik, lagi pula ini sudah sering ributnya hanya di kedutaan besar saja. Kalau kita bertemu dengan teman Malaysia biasa saja.

Kan bukan ini saja yang terjadi, masalah reog Ponorogo, batik lah keributannya sudah sering.

Tapi ada laporan kalau para investor Malaysia ini mencemaskan investasi mereka di Indonesia?

Saya kira kecemasan pasti ada tapi secara keseluruhan mereka senang berinvestasi di Indonesia karena budaya, lingkungan, makanan cocok.

Soal investor Malaysia, kaitannya investasi mereka disini dan peluang-peluang kerjasama bisnis, terkait hubungan kedua negara bagaimana?

Memang saat kedatangan wakil PM Malaysia datang, saya mengeluhkan juga karena kita kalau mau kerjasama antara pengusaha Indonesia dengan Malaysia susah terjadi karena banyak MoU tak ada implementasi. Saya bilang nggak usaha MoU langsung saja. Kita memang masih mencari peluang, sama-sama masih mencari peluang tapi tidak ada yang kuat.

Bisnis dengan pengusaha Malaysia berdasarkan pengalaman tidak banyak yang terjadi. Kita sering kedatangan teman-teman Malaysia untuk mencari partner tapi selalu mentah terus. Mungkin karena ilmunya sama, tidak ada teknologi yang lebih baik.

Kalau investor Malaysia menarik investasinya di Indonesia, peluangnya bagaimana?

Rugilah Malaysia kalau menarik diri, di sini banyak investasinya seperti perusahaan perusahan telekomunikasi seperti XL, perkebunan yang merupakan investasi langsung. Selebihnya lebih banyak beli perusahaan atau menanam saham. Untuk investasi yang terdekat adalah Indonesia.

Bagaimana ada wacana boikot produk Malaysia di Indonesia?


Itu harus dipisahkan antara bisnis dan politik, misalnya Israel sama Arab perang, tetapi secara bisnis jalan loh.

Jangan dicampurkan dong, jangan kita kompor-komporin. Justru cari penyelesaiannya yaitu kita mantapkan ekonomi kita untuk setara dengan Malaysia. Jangan sampai dianggap rendah.

(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads