Susahnya Menjadi Pengawas Bank

Wawancara Direktur BI

Susahnya Menjadi Pengawas Bank

- detikFinance
Senin, 13 Des 2010 08:44 WIB
Susahnya Menjadi Pengawas Bank
Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama pemerintah saat ini masih alot membahas Rancangan Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga OJK ini mendapat resistensi yang cukup kuat dari Bank Indonesia karena dinilai superbody sebagai pengawasan jasa keuangan.

BI juga telah mengungkapkan alasan-alasan mengapa selama ini merasa "berat" dan "ngotot" untuk tidak melepaskan fungsi pengawasannya kepada OJK. Salah satunya adalah faktor 'adat', dimana bank sentral pada dasarnya mengawasi dan menjamin kestabilan sektor keuangan terutama moneter baik mikro maupun makro.

Direktur Direktorat Penelitian dan Perbankan Bank Indonesia Wimboh Santoso mengungkapkan banyaknya isu yang berkaitan dengan individual bank secara mikro dengan kebijakan makro. Sehingga, menurutnya apa yang sudah menjadi tugas bank sentral yakni pengawasan mikro perbankan menjadi dasar untuk mengambil kebijakan moneter secara makro. Oleh karena itu Wimboh menegaskan pengawasan perbankan sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari bank sentral.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wimboh juga memaparkan bagaimana susahnya menjadi pengawas bank, seperti yang dijalankan BI selama ini. Pengawasan bank harus melalui berbagai tahapan dan pengetahuan yang tidak sedikit tentang sebuah bank.

Sebenarnya apa saja yang membuat bank sentral terus berupaya mempertahankan wewenang pengawasan di tubuhnya? Apakah benar tidak mudah mencari pengawas bank?

Berikut petikan wawancara detikFinance bersama Wimboh Santoso ketika ditemui di sela acara South East Asia Central Banks (Seacen)-Seminar yang bertemakan "Optimal Central Banking For Financial Stability, di Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, Jumat (10/12/2010) akhir pekan lalu.

Sebenarnya bagaimana konsep pengawasan bank yang selama ini menjadi tugas Bank Indonesia?


Pengawasan kita sudah kita develop cukup lama dari tahun 2000 kita sudah mempunyai agenda bagaimana untuk enhancement. Pengawasan itu kita bentuk di learning center BI dan bagian sertifikasi pengawas. Saat ini sudah full implementasi.

Bagaimana kompetensi pengawas itu sendiri?


Kompetensi pengawas itu, tantangan kedepan itu kita bicara jangan pengawas saat ini tapi lebih kedepan.

Bisa diterangkan bagaimana kompetensi pengawas dengan tantangan kedepan?


Tantangan pengawasan bertambah terus, jadi modul yang dibuat tahun 2000 kemarin itu sekarang harus di isi lagi ditambah lagi. Kalau kita lihat ya pengawas itu kita genjot kemampuannya terutama konsep-konsep baru yang sekarang ini muncul berkaitan dengan regulasi-regulasi yang bukan hanya sekedar supaya sebuah bank dapat mengabsorb kalau ada potensi kerugian karena operasi bank.

Bank itu mengalami banyak permasalahan saat ini, masalahnya bisa dari eksternal dari luar perbankan bahkan dari luar Indonesia sehingga pengawas bank itu harus bisa mengantisipasi dan melihat, meng-asses bagaimana situasi diluar perbankan itu akan berdampak pada bank-nya. Sehingga pengawas bank ini bisa melakukan semacam preventif measure pada pengurus bank.

Seperti apa tindakan preventif measure kepada pengurus bank?

Jadi itu berupa tindakan langsung kepada bank-nya, misalnya kalau keadaan begini (krisis) pengawas akan memberitahukan. Bank milik kamu CAR-nya (CAR-Rasio Kecukupan Modal) kurang seperti itu. Apalagi nantinya CAR itu dilihat ada CAR berdasarkan pilar 1 dan ada CAR berdasarkan assesment pengawas yakni pilar 2.

Bagaimana CAR yang berdasarkan assesment pengawas itu?


Jadi CAR itu akan terkait risk-risk yang akan muncul kedepan yang ternyata tidak bisa di standarkan ke pilar 1. Misalnya ada ancaman krisis dari capital inflow, nah likuidity nya kan harus disiapkan maka kalau ada outflow likuditi kan bisa kurang. Nantinya menjadi tugas pengawas bank itu menjaga likuiditi dari sebuah bank.

Jika dilihat kasus Bank Century itu kan akibat dari produk-produk bank, lalu bagaimana pengawasan BI?


Produk-produk itu secara konteks bagaimana perbankan dalam mikro itu otomatis harus tahu. Apalagi produk luar. Tetapi yang sebenarnya saat ini perlu diperhatikan adalah pengawasan mikro adalah dimana bank saat ini likuiditasnya cukup tapi dalam kondisi tekanan capital outflow itu kepercayaan masyarakat kurang. Mungkin ada tekanan nilai tukar sehingga nanti nasabah narik duitnya sehingga nanti likuiditi-nya jeblok ini tidak bisa diukur melalui maturity gap harus di ases ekonomi indonesia berapa dan ter-spread ke individual bank berapa.

Ini pengalaman krisis 2008 dan 2010 tepatnya di bulan Mei yang akhirnya kita tidak begitu terimbas.

Inflow terus deras, apa strategi BI khususnya di pengawasan bank?

Ini poinnya akan terus berkembang, tantangan-tantangan yang harus di hadapi. Makanya BI merevisi terus di tingkat lerning center.

Hubungan pengawasan di BI dan di OJK nantinya bagaimana?


Ini isu penting berkaitan individual bank tadi dengan isu makro tidak bisa dipisahkan. Tidak akan bisa dipisahkan, sehingga tadi pun dalam seminar ini memang bank sentral harus punya kewenangan itu.

Apa poin pentingnya?


Pada saat krisis kan uangnya dari bank sentral sehingga nanti bank sentral itu dalam kondisi normal bisa melakukan assesment dari kondisi makro prudensialnya. Jadi bisa pengawas mengatakan bahwa oke ini preventif measursnya dari sisi pruden ada 1,2,3,4,5 misalnya ada 5 tahap.

Seperti di 2008-2009 kemarin kita melakukan asesment yang ternyata responsnya kebijakan makro semua. Mengenai GWM (Giro Wajib Minimum), mengenai penurunan atau peningkatan penjaminan. Perkaitan dengan likuiditas itu kan semua kebijakan makro, sehingga sebenarnya ini nanti kalau ini dalam satu tangan akan lebih smooth dalam bagaimana mikronya, jadi tantangannya pengawasan bank ini ditingkatkan terus kalau kaitannya dengan segi yang mikro prudensial itu lain.

Sebenarnya ada berapa sih jumlah pengawas di BI?

Ada 950 pengawas saat ini di seluruh Indonesia.

Bagaimana proses menjadi pengawas, sertifikasi dan kompetensi apa saja yang dimiliki seorang pengawas bank?

Bahwa fungsi pengawas itu bukan hanya sebagai pengawas tetapi sebagai konsultan, bagaimana bank berkonsultasi mengenai operasional bank ini lah makanya mencetak seorang pengawas tidak bisa dalam tempo singkat. Ini adalah masalah pengalaman, testing knowledge ini penting untuk itulah kami mambuat sertifikasi sampai 7 grade dan harus lulus. Jadi tidak bisa setiap orang pindah jadi pengawas begitu saja, itu tidak mungkin. Bank itu beda dengan BUMN.

1-7 grade itu harus lulus semua?

Iya harus lulus nanti, baru bisa lulus mengawasi bank. Itu hanya persyaratan dahulu belum tentu ditunjuk sebagai Ketua Tim Penngawasan. Kan ada masalah kemampuan individual belum lagi berkaitan masalah pengawas khusus sebagai IT misalkan.

Jadi IT juga diawasi BI?


Sekarang BI itu mempunyai 2 certified hacker, yang bisa menembus seluruh sistem komputernya bank manapun di Indonesia. Dari 5 orang certified hacker di Indonesia 2 orang itu dimiliki BI.

Sementara yang pengawas IT itu sudah ada 18 orang, belum lagi yang CISA (Certified Internal Audit), khusus IT ini jumlahnya sudah puluhan kami mengadakan pelatihan selain internal namun international certified.

International Certified untuk apa?


Jika grade 1-7 tadi itu minimal kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang staff, ditambah juga IT nya. Nah kalau siap memeriksa IT bank itu harus internasional, mungkin nggak tiba-tiba orang datang mengawasi bank tanpa bekal itu semua? Tidak akan bisa !

Banyak Pegawai BI yang tidak mau pindah ke OJK lalu pengawasan bagaimana?


Ini kita khawatir bagaimana telah tertata grade 1-7, nah kalau orang masuk jadi pengawas bank tidak tersertifikasi ya gimana jadinya. Materi dari 1-7 ini adalah materi yang digunakan bank seluruh dunia pengawasnya. Kami dengan FDIC yang meng-asses materi-materi ini.

Susahnya mengawasi bank apa sih?


Susahnya itu sebeneranya tantangan kedepan dimana lembaganya itu semakin kompleks, sehingga nanti situasi marketnya juga sudah berubah jadi ini yang harus dijaga. Terus ancaman-ancaman yang ada ini harus di identifikasi terus. Selain itu juga hasil pengawasan itu seperti know your bank sangat penting. Pengawasan kita ini susah dan banyak sekali godaan.

Tantangan yang semakin kompleks tadi bagaimana dihadapi dan bagaimana pengwasan kedepan?


Saya ngeri saja kalau main-main politik dimasukin ke teknis bahaya. Jadi ini negara ini bisa semakin tidak karuan, kita hanya bicara teknisnya saja lah bahwa tidak gampang menjadi seorang pengawas. Harus ada insting, kita itu bukan mengawasi mainan nah yang diawasi itu sistem keuangan. BI itu sudah ratusan kali memeriksa bank dan sudah mengerti bank masing-masing maunya apa, bandelnya seperti apa.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads