Mandala sejauh ini tercatat memiliki utang hingga Rp 800 miliar kepada sekitar 370 kreditur. Besarnya utang itulah yang membuat manajemen Mandala akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara operasionalnya agar tidak mati di tengah jalan kehabisan uang akibat rugi.
Bagaimana sebenarnya kondisi keuangan Mandala sejauh ini? Masih mungkin kah maskapai ini hidup kembali?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana kondisi terkini dari upaya restrukturisasi utang Mandala, terutama mengenai pertemuan dengan para kreditur Mandala?
Kemarin tanggal 1 Februari 2011 pertemuan pertama dengan para kreditur Mandala, dimana dari pertemuan dijelaskan kenapa Mandala masuk proses PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Kami menjelaskan kondisi Mandala sebelum failing termasuk kenapa kita menghentikan operasi sementara.
Karena memang Mandala dalam kondisi merugi, kalau kita terus jalan akhirnya kemungkinan besar akibatnya harus kehabisan uang karena kita mengalami kerugian. Jadi dari pada kita stop tak ada dana lagi kita mengambil keputusan karena ini terbaik untuk semua pihak. Kita PKPU dan stop operasi sementara, untuk merestrukturisasi seluruh kewajiban kita kepada kreditur.
Mereka sudah tahu sebelumnya, yang kita lakukan selalu kita transparan dengan semua pihak. Jadi mereka kita update, sebelum kita failing mereka sudah tahu kondisinya, ini sesuatu bukan mereka kaget. Sebagian besar mengetahui kondisi Mandala bagaimana, mereka sebenarnya mendukung langkah ini. Kalau tidak, semua pihak ruginya akan lebih besar.
Dengan cara begini kita ada waktu untuk menentukan kedepan untuk menyelamatkan Mandala. Sebagian besar saya kira bisa mengerti, mereka yang kemarin belum paham adalah proses PKPU sesuai yang ditentukan undang-undang khusus yang menentukan. Jadi banyak pertanyaan lebih ke teknis dari pada masalah intinya yang terjadi di Mandala.
Berapa sih total jumlah kreditur Mandala?
Jumlah kreditur Mandala cukup banyak, lebih dari 360 kreditur untuk supplier-nya dalam maupun luar negeri, sekitar 370 lebih kreditur.
Kreditur itu siapa saja?
Untuk lessor (penyewa pesawat), supplier, bengkel pesawat, supplier menjual jasa Mandala, pendukung operasi Mandala.
Bagaimana dengan tunggakan di bandara atau yang lainnya?
Tunggakan di bandara memang ada, tapi itu tunggakan yang biasa, karena dengan Angkasa Pura dengan Pertamina sebetulnya kita bisa dikatakan tunggakannya relatif tak terlalu besar, walaupun ada dari segi bisnis itu sifatnya normal. Kalau pun kita beroperasi itu ada tunggakan, itu sesuatu ke supplier yang berjalan.
Mengenai jumlah utang, menurut hitungan Mandala berapa sih total utang yang dimiliki Mandala?
Kita baru tahu jumlah kepastiannya setelah tanggal 4 Februari 2011, tanggal 4 Februari batas waktu kreditur memasukan klaim. Itu akan dilakukan verifikasi selama 7 hari, jadi setelah tanggal 11 Februari baru kita tahu persisnya berapa, kewajiban (utang) kita kepada seluruh kreditur.
Jadi hitungan Mandala sendiri berapa?
Di buku kita memang ada hitungan itu kurang lebih Rp 800 miliar, tapi itu kan bisa berubah karena kami juga melakukan verifikasi. Tergantung setiap kontrak menentukan, kalau kita berhenti kan akan ada pinalti, jadi angka yang di buku kami bisa berubah, bisa berkurang bisa menambah. Kita belum bisa pastikan angkanya.
Yang penting sih menurut saya, kita ingin menyelesaikan dengan seluruh kreditur dengan jalan yang paling baik. Kita anggap bahwa Mandala punya prospek yangΒ bagus. Kita lakukan ini supaya Mandala bisa jalan lagi.
Soal jumlah total aset, berapa sih perhitungan total aset menurut Mandala?
Sesuai dengan data yang waktu kami melakukan pendaftaran di PKPU, datanya itu Rp 850 miliar itu asetnya tapi aset itu terdiri dari beberapa kategori. Jadi aset yang riil yang kami bisa cairkan atau likuid yang bisa kita jual itu aset yang riil, seperti gedung, kita punya tanah di Rawa Bokor, kita punya kantor dan
tanah dibeberapa perwakilan di luar Jakarta. Kita masih punya sparepart dari pesawat sebelum Airbus, yaitu Boeing 737 itu masih ada sparepart-nya.
Itu yang sudah didata oleh administrator Ibu Duma, angkanya kemarin disebutkan Rp 110 miliar. Nah, itu kan memang jauh di bawah angka yang kita laporkan, karena ada beberapa katagori aset yang lain yang kita tak bisa lihat misalnya kita punya aset dalam bentuk uang jaminan yang ditempatkan di lessor.
Jadi kalau kita sewa pesawat, kita harus bayar sewa dan kita harus bayar uang jaminan untuk perawatan, kayak deposit yang sebenarnya itu uang kita. Itu digunakan pada saat pesawat masuk ke bengkel service. Jadi dananya tersedia, untuk lessor menjamin bahwa pesawat itu di-maintenance sesuai dengan standar yang mereka inginkan. Angka itu bisa sebesar dari lease-nya, tergantung jam terbangnya pesawat itu. Kalau kita banyak menggunakan pesawat maintenance-nya depositnya akan jauh lebih banyak.
Disitu saja lebih dari Rp 200 miliar. Nah, itu uang riil cash yang kita bayar ke lessor, dia cadangkan untuk maintenance. Itu nggak bisa dicairkan karena pesawat itu sudah dikembalikan, waktuΒ dikembalikan pesawat itu harus dikembalikan pada kondisi awal.
Kalau kita menyewa pesawat dengan kondsisi yang sudah ditentukan kondisinya, waktu kita kembalikan kita harus kembalikan dengan kondisi awal itu namanya return condition, tetapi dalam operasi pesawat terjadi banyak sekali terjadi penggantian komponen dari pesawat itu.
Untuk mengembalikan ke kondisi semula itu perlu uang perlu biaya, itu diambil yang ditempatkan disana. Untuk lessor itu suatu jaminan bahwa saat dikembalikan kalau belum di-service kondisi awal. Kalau kita kerjakan sendiri seperti kondisi awal, lalu masih ada deposit itu masih balik, tapi dalam kondsi normal biasanya itu nggak, karena buat apa kita keluarkan uang dua kali.
Sejumlah deposit yang ada di lessor itu untuk mencakup berapa pesawat?
Itu mencakup sampai 11 pesawat waktu itu, tapi yang tersisa masih 5 pesawat jadi itu untuk 5 pesawat.
Β
Ada beberapa aset lagi kita ada kredit dari pajak, Mandala kan merugi selama 3-4 tahun, karena kita rugi kita dapat kredit dari tax, kita nggak harus bayar pajak PPh (pajak penghasilan) badan. Kalau pajak profit tax kalau rugikan kan nggak bayar, pajak atas dasar pendapatan bersih, itu kan bisa plus atau minus, kalau loss kan nggak ada beban pajak. Itu dihitung sebagai aset juga, kalau loss semua perusahan begitu, totalnya Rp 230 miliar.
Ada beberapa deposit, kita menempatkan deposit di beberapa pihak untuk menyewa, kita kan bukan hanya menyewa pesawat, kita juga menyewa aset-aset yang lain.
Kenapa kok banyak aset yang tidak riil dari pada yangΒ riil, dari aset Mandala?
Kenapa aset riil Mandala kecil karena bisnisnya Mandala itu kita strategi punya sewa aset dari pada beli aset. Aset (riil) yang kita miliki adalah aset Mandala waktu di-takeover dari pemegang saham yang lama, gedung, tanah, dan aset lain yang waktu diambil alih sudah ada diperusahaan. Tapi berikutnya kita berstrategi untuk menambah aset, ini sering dilakukan airlines lain, ini normal melakukan itu.
Karena nilai dari aset paling besar itu adalah pesawat itu, lebih baik disewa dari pada beli sampai pada saat kita omzet dari pada volume cukup besar sehingga kita bisa melakukan pembelian. Biasanya kalau sudah berjalan lama, dengan volume yang besar baru mereka bisa beli karena mereka mendapat omset dan net profit yang cukup besar.
Bukan hanya di Indonesia, bahkan diseluruh dunia seperti itu. Lebih banyak menyewa, kecuali airlines yang berdiri cukup lama dan punya profit yang sangat besar itu bisa aja (membeli pesawat).
Mengenai aset rill yang Rp 110 miliar ini kan masih terus diverifikasi, itu pasti akan menambah, bisa menambah saya kira nggak banyak.
Utang Mandala terakumulasi sejak kapan?
Sebenarnya waktu kita takeover Mandala sudah ada utang, dari Mandala yang dulu. Waktu itu saya nggak ingat, setelah itu memang terus nambah utang. Jadi ada sebagian utang lama ada sebagian utang baru. Utang itu pada utang ke supplier, jadi bukan kita pinjam dan dapat dana, yang kita gunakan untuk operasi.
Dana operasi kalau ada kekurangan itu seluruhnya dari pemegang saham, pemegang saham menyetor dalam bentuk fresh cash, dia dapat saham. Yang sudah disetor ke Mandala itu hampir US$ 100 juta hampir Rp 1 triliun. Itu uang masuk ke operasi, tapi karena merugi kita tak bisa bayar semua.
Pembayaran yang harus dibayarkan ke lessor atau supplier lain. Jadi makanya kita punya tunggakan ke supplier buka n kita minjam. Jadi uang yang untuk operasi murni hampir semuanya dari pemegang saham, kecuali kita ada utang bank ada Rp 50 miliar dari Bank Victoria, dari total semuanya hanya satu bank hanya itu saja, itu untuk modal kerja.
Komponen utang terbesar dari mana?
Lessor dan supplier, bengkel pesawat lebih dari 50%.
Mandala terakhir cetak laba kapan?
Sebenarnya kan selama kita 4 tahun ini belum pernah, tapi kita sudah mendekati waktu itu di tahun berjalan, dua tahun lalu saat operasi 11 pesawat sudah mendekati (laba), tapi yang terjadi itu karena ada pengurangan pesawat makanya kita nggak bisa menutupi loss.
Indonesia ini kan industri penerbangannya ada high season dan low season. Ada masa penerbangan tinggi biasanya Mei-Juni masa liburan sekolah atau lebaran, pada saat itu semua airlines bisa mendapat keuntungan, tapi dimasa yang lain mereka rugi.
Anda pernah bilang bahwa konsep Low Cost Carrier (LCC) di Mandala membuat Mandala akhirnya merugi, terutama soal penjualan tiket, ini benang merahnya apa dengan akumulasi kerugian Mandala?
Jadi yang terjadi kalau sebenarnya ini bisa diteruskan bisa jalan. Masalahnya untuk bisa mencapai, kita butuh volume yang cukup besar supaya ini bisa berjalan, barangkali kita perlu mencapai volume pesawat 16-18 pesawat, baru bisa sehat mendapatkan omset yang besar sehingga bisa menutupi semua cost. Akhirnya kita bisa mendapatkan laba di net profit-nya ini.
Sebelum mencapai itu, memang cost kita sangat besar, jadi nggak bisa, kalau revenue masih kurang nggak bisa menutupi cost. Strategi kita, low cost bisa jalan kalau volumenya bisa besar, itu nggak pernah tercapai sampai kita mencapai volume yang menutupi cost.
Jadi sebenarnya ada beberapa hal, nggak mendapatkan penumpang kalau kita tak punya networking. Orang kan memilih airlines yang punya frekuensi dan jaringan yang luas, kalau mau terbang kemana-kemana pakai airlines itu. Biasanya penumpang memilih airlines yang banyak memiliki frekuensi. Kita memang main di segmen, yang kecil seperti Yogya, tapi itu tak bisa menutupi, selama kita mengeluarkan struktur biaya yang besar kan tujuannya menjadi airlines nasional yang bisa terbang ke internasional.
Ini memang ada masa transisi kita memang harus rugi, sebelum mendapat untung, tetapi kita tak mencapai armada kita bisa dengan jumlah yang besar. (hen/qom)











































