Akankah dana penumpang Mandala itu bisa kembali? Bisa jadi, namun akan memakan proses yang cukup lama. Dengan adanya verifikasi terkait PKPU, proses refund memerlukan waktu dan harus ada persetujuan dari para kreditor.
Bagaimana nasib dana-dana para calon penumpang Mandala? Akankah bisa kembali utuh? Berikut ini wawancara detikFinance dengan Direktur Utama PT Mandala Airlines Diono Nurjadin saat ditemui di Kantor Pusat Mandala, Tomang, Jakarta, Rabu (2/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang pertama soal penumpang kami kedepannya, kalau mau terbang lagi kita harus memberikan pelayanan terbaik untuk penumpang. Mereka harus dihandle dengan cara yang paling baik. Tapi karena ini masih proses PKPU, kita harus koordinasi dengan pengawas, yang sudah ditunjuk.
Yang kita lakukan sekarang kita sudah dan masih menerima klaim dari penumpang, terus kita melakukan verifikasi dengan pengawas Ibu Duma. Pada saat rencana restrukturisasi diajukan itu akan ada satu bagian cara kita menyelesaikan dengan penumpang ada dalam skema itu juga.
Lalu bagaimana dengan pencairannya, kapan?
Ini sangat tergantung dengan skema restrukturisasi ini, karena ini harus bersamaan semuanya, tidak bisa melakukan pembayaran ke satu pihak, ini semua harus bersamaan. Tapi kita airlines yang akan operasi lagi, pasti kita akan memperhatikan penumpang ini, karena itu yang kita perlukan kedepan.
Sampai sekarang belum ada satu nasabah pun yang dicairkan refund-nya?
Bukannya kita nggak mau, karena kita nggak bisa, ini harus diverifikasi, karena proses PKPU tidak mengijinkan kita bayar refund. Kita bisa proses, terus kita
dapat angka, terus kita untuk bisa menawarkan solusi untuk mereka. Ini bisa jalan setelah proses rencana restrukturisasinya sudah disetujui oleh semua
kreditur. Paling cepat 45 hari.
Penumpang kan menunggu-nunggu kapan uangnya balik?
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, langkah yang kami lakukan sekarang adalah yang terbaik untuk semua pihak. Kami harapkan kedepan untuk tetap mendapatkan dukungan, kita tetap berupaya melayani mereka sebaik mungkin, pelayanan beda, mungkin tak bisa memberikan refund dalam waktu yang cepat, kita akan tetap memberikan perhatikan nasib mereka.
Yang menjadi pertanyaan apakah ini pasti akan dikembalikan uang calon penumpang?
Ini sangat tergantung dengan pola restrukturisasi, yang ditentukan oleh semua kreditur, mereka juga kreditur kan. Semua kreditur akan menentukan nasibnya mereka sendiri. Jadi ini kita akan ajukan rencana perdamaian dengan mereka, apakah mereka bisa terima atau revisi dimana. Tapi pada akhirnya akan ada bagian bagaimana kita menyelesaikan penumpang bagaimana, disitu akan masuk.
Berarti calon penumpang Mandala, harus siap-siap setengah ikhlas uangnya nggak kembali yah?
Sebetulnya yang pertama dari kami sebagai manajemen, terutama dari pemegang saham kami, mereka sudah melakukan pengorbanan yang cukup besar, uang yang sudah masuk hampir Rp 1 triliun, itu demi masa depannya Mandala itu dihilangkan dulu. Supaya kreditur dapat penyelesaian yang baik, supaya penumpang mendapat sesuatu yang baik. Itu kan suatu pengorbanan cukup besar menurut kami, mulai dari situ kami harapkan bisa juga terjadi. Saya nggak bisa janjikan apa-apa sekarang tapi ini sangat tergantung dengan kreditur dan investor.
Bisa juga terjadi memang penumpang tidak akan menerima full apa yang mereka harap (pengalaman dinegara lain). Tapi umpanya kalau kita terbang lagi, kan penumpang bisa dilayani dipenerbangan yang baru, yang penting Mandala bisa operasi kembali, dengan cara yang paling baik sehingga penumpang masih bisa dilayani, kalau terbang lagi mereka masih bisa dilayani nggak perlu direfund.
Kalau sudah ada investor baru, uang penumpang akan langsung dicairkan?
Ya itu tergantung kreditur yang menentukan ini, jadi kan kita mengajukan rencana restrukturisasi, bisa saja diterima atau ditolak. Ini menunjukan Mandala masih memiliki prospek kedepan, tapi prospek itu membutuhkan dukungan semua pihak dari pemegang saham, atau paling tidak menyetujui uang yang sudah masuk Rp 1 triliun hampir semua hilang.
Tapi pasti dari kreditur harus memberikan komitmen dalam bentuk sesuatu, apakah dalam bentuk pengurangan, kita nggak tahu, menunggu waktu sampai diselesaikan kewajiban.
Kemungkinan terburuk?
Ya, ditolak, semuanya ada ditangan kreditur nih, nasibnya bukan dikami, kami merasa ada prospek, kita ajukan rencana atas dasar yang kami bisa propose ke
mereka. Terserah mereka, kalau mereka tak terima ya oke, tapi kami yakin mereka akan terima, karena kalau mereka tak terima, mereka nggak dapat apa-apa, maka hangus semua. Jadi ini barangkali ini, di Indonesia sesuatu yang baru. Banyak hal yang membuat kami yakin kalau ini bisa direstrukturisasi. Sebetulnya kalau kreditur yang nggak mengerti industri memang lebih susah.
Saya juga bisa mengerti utangnya begitu besar, prospeknya nggak jelas, tapi kalau orang-orang yang mengerti yang jadi kreditur kami adalah sudah biasa
dengan situasi itu.
Berarti kreditur yang sulit memahami adalah perbankan yah?
Ya kerenakan perbankan kan, ketat sekali, diperbankan banyak peraturan, umpanya di Indonesia ada BI. Tapi kalau inikan supplier, yang lebih hubungan bisnis, yang barang kali tak mengikuti peraturan asal dia percaya, dari kondisi kami.
Kalau boleh tahu dana likuid yang dipegang Mandala sekarang berapa, cash?
Ini juga harus diverifikasi juga oleh Ibu Duma, tapi kalau kemarin, sebenarnya, tapi nggak bisa karena uang itu harus ada klaim lain yang harus kita selesaikan
juga. Misalnya yang karyawan sekarang harus kita bayar mereka. Jadi ada beberapa klaim juga, atau beberapa biaya yang masih harus kita keluarkan. Kita kan tak tutup, Mandala masih berdiri, menjalankan secara minim beberapa kegiatan yang dibutuhkan untuk persiapan nanti untuk operasi, kalau kita
operasi kita sudah siap.
Kalau bicara optimis, lalu Mandala terbang lagi, tapi masalahnya citra Mandala sudah tercoreng bagaimana memperbaikinya?
Makanya kita mencari investor yang bisa memperbaiki citra Mandala, itu pasti dilakukan. Memang ada efek dari kita berhenti operasi, image Mandala memang
ada dampaknya, jadi investor yang kami sedang negosiasi ini mengerti juga harus ada perbaikan dari Mandala. Mereka juga bersedia, apa kah mereka memasukan brand yang baru, mereka punya pengalaman atau akses, untuk membantu memperbaiki nama Mandala.
Saya kira itu sudah masuk dalam hitungan calon investor yang mau masuk ini, mereka juga menerima kondisi Mandala seperti ini.
Termasuk menyelipkan direksi baru di Mandala?
Ya,pasti, bukan pasti akan terjadi, tapi pasti mereka akan menentukan apakah mempertahankan yang sekarang atau menempatkan yang baru. Kita tak tahu, tapi yang menentukan pasti investor baru.
Kalau Anda masih dipercaya jadi CEO Mandala, kalau mau memulihkan citra Mandala ini seperti apa?
Saya kira yang kita lakukan sekarang sebisa mungkin mempertahankan kepercayaaan dari customer dari market.
Caranya bagaimana?
Caranya untuk transparan, kita selalu menjelaskan kondisinya bagaimana, kita masih punya prospek. Akan melayani sebaik mungkin dalam kondisi susah ini. Memang banyak sekali keterbatasan kami karena kita tak terbang. Kayak gini perlu interaksi yang cukup intensif dengan stakeholder kami terutama customer, dan transparan. Jadi lebih baik orang tahu kondisinya bagaimana, kita sih tak ada satu hal yang nggak bisa di-disclose ke publik karena akhirnya kita harus
mendapatkan dukungan publik untuk beroperasi lagi.
Kalau nanti beroperasi, apakah ada trik menarik customer dengan diskon?
Kan intinya meyakinkan penumpang caranya bisa berbagaia cara bisa memberikan diskon, fasilitas lain, tapi nggak ada satu cara pasti berhasil. Ada beberapa strategi yang harus dilakukan bersama.
Bagaiamana dengan karyawan, tetap gajian di bulan Januari 2011 ini?
Ya, tetap gajian normal seperti biasa, full.
Karyawan apakah sudah ada yang resign atau tetap loyal?
Lebih banyak. Pasti ada yang resign, kan karyawan kita cukup banyak, pasti ada yang resign, kami tak bisa menghindari itu. Sebagian masih loyal, jumlahnya 800 karyawan dari kru kabin sampai office. Kalau kru kabin dan kru kokpit kurang lebih 300 orang. Yang resign saya kira hampir semua bagian ada yang resign.
Kami tak bisa menghindari itu, kami juga tak bisa menahan mereka, nasib pribadinya setiap orang merekan yang menentukan sendiri. Jadi normal aja, tapi
yang resign sih nggak banyak dibandingkan dengan yang masih mendukung dan masih optimis kalau Mandala masih terbang lagi.
Soal industri penerbangan, memang margin maskapai itu tipis sekali yah?
Ya memang tipis, anda bisa melihat kinerja keuangan maskapai yang terbuka, margin tipis sekali. Soal besarannya sangat tergantung, nggak ada standar, ini tergantung konsep. Ada yang full service seperti Garuda, LCC seperti AirAsia, atau lainnya di Eropa. Semuanya bisa jalan, pasar perkembangannya cepat sekali di Indonesia, dan prospek pasar besar sekali.
Di ASEAN yang paling besar Indonesia, kalau orang mau masuk ASEAN ya di Indonesia paling bagus. Masuk di Malaysia penduduk cuma 26 juta, Singapura cuma 4 juta. Jadi yang paling menarik di Indonesia, jadi kenapa orang tertarik Mandala karena pasarnya besar dengan infrastruktur yang sudah siap dipakai.
Maskapai selama ini sering kasih promo diskon besar-besaran, untuk penerbangan 6 bulan sampai satu tahun kedepan, itu terkait dengan menutup cashflow maskapai yah, disaat itu?
Iya, jadi itu satu untuk menarik sebanyak mungkin cashflow diawal. Kalau dia jualan, misalnya ada promosi penerbangan 6 bulan berikutnya, dengan cara jual
tiket murah, yang dapat promosikan nggak banyak, disatu pesawat 180 seat, kita jual lima saja dengan harga promosi itu, membantu cashflow sekarang.
Kedua, yang terjadi ini kenyataan kalau orang orang lihat promosi, atau booking internet, meskipun dia nggak dapat, tapi dia sudah pemikiran mau pergi misalnya ke Semarang, oke deh saya bayar sedikit lebih tinggi nggak apa-apa.
Itu pola yang dilakukan oleh LCC, seperti AirAsia, dia sering ada promosi, dia jual tiket Natal di bulan Juli, banyak yang beli, itu kan harganya murah, karena
kalau saya nggak pergi nggak apa-apa deh, dengan harga Rp 10-20.000, tapi dikalikan berapa itu kan jadi banyak. Jadi memang itu salah satu cara untuk
menarik cashflow, Mandala melakukan itu juga. Masalahnya di Indonesia pasarnya belum menerima, orang Indonesia yang kita pelajari nggak mau booking jauh-jauh. Seperti lebaran saja, setiap tahun sudah pasti mudik, tapi kenapa orang Indonesia tak mau beli tiket sekarang, itu sesuatu yang belum terbiasa di Indonesia.
(hen/qom)











































