MS Hidayat Blak-blakan Soal Ambisi Mobnas Indonesia

Wawancara Khusus (1)

MS Hidayat Blak-blakan Soal Ambisi Mobnas Indonesia

- detikFinance
Senin, 16 Jan 2012 06:54 WIB
MS Hidayat Blak-blakan Soal Ambisi Mobnas Indonesia
Jakarta - Pemerintah terkesan tergagap-gagap merespons begitu tingginya euforia masyarakat Indonesia untuk memiliki mobil nasional. Fenomena Esemka diakui pemerintah menjadi pecutan untuk memulai kembali bangkitnya sebuah industri mobil nasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengaku hingga kini pemerintah belum menetapkan satu pun calon mobil nasional yang nantinya bakal menjadi kebanggan Indonesia, termasuk belum menetapkan apa itu kriteria mobil nasional. Walaupun kabarnya Presiden SBY punya ambisi diam-diam untuk memiliki mobil nasional dimasa mendatang.

Hidayat menegaskan akan mengedepankan aspek realitas dan rasionalitas dalam menyikapi euforia harapannya munculnya mobil nasional oleh masyarakat. Industri mobil nasional tidak hanya bermodalkan euforia namun kaidah industri dan bisnis akan sangat menentukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenyataannya, saat ini 70% pasar industri mobil di Indonesia dikuasai oleh Jepang. Tercatat ada 20 perusahaan Agen Pemegang Merek mobil yang ada di Indonesia, termasuk Jepang yang didukung oleh 800 perusahaan industri komponen yang melibatkan 44.000 perusahaan penyuplai komponen. Sebagian mobil merek Jepang diklaim sudah memiliki kandungan komponen lokal 80-85% seperti jenis MPV yang sudah dibuat di dalam negeri.

Sementara di saat yang bersamaan calon-calon embrio mobil nasional yang digarap oleh swasta maupun BUMN silih berganti bermunculan seperti GEA, Tawon, Esemka dan banyak lainnya.

Disisi lain pemerintah punya agenda tersendiri yaitu tengah menyiapkan mobil murah untuk masyarakat pedesaan dengan harga di bawah Rp 50 juta, ada juga program mobil murah ramah lingkungan (low cost and green car) yang akan menggaet prinsipal mobil Jepang seperti Daihatsu.

Bahkan jauh sebelumnya pemerintah juga punya ambisi ingin menyaingi Thailand jadi negara basis produksi mobil di ASEAN, yang tentunya harus 'berbaik-baik' kepada prinsipal mobil yang selama ini sudah ada.

Lalu dimana kah posisi pengembangan industri mobil nasional, seperti yang diidamkan oleh Presiden SBY? Esemka kah? atau mobil lainnya? Bagaimana karpet merah yang disiapkan pemerintah untuk menggapai mimpi punya mobil nasional?

Berikut ini wawancara detikFinance dengan Menperin MS Hidayat saat ditemui di Gedung Graha Niaga,Sudirman, Jakarta, akhir pekan lalu.

Saat ini banyak sekali kemunculan mobil-mobil rakitan lokal seperti Esemka dan lainnya, lalu ada juga rencana produksi mobil murah pedesaan, kemudian ada mobil murah ramah lingkungan oleh prinsipal, termasuk isu hadirnya industri mobil nasional. Bisa jelaskan dimana benang merahnya?

Saya jelaskan dulu latar belakang industri kendaraan bermotor (mobil) di Indonesia, itu memang diawali dari agen tunggal pemegang merek puluhan tahun yang lalu, yang awalnya menjual mobil impor lalu melalui perakitan membuat beberapa komponen. Diatur oleh kementerian perindustrian untuk pembuatannya, itu yang nama programnya program penanggalan tahun 1976-1999.

Setelah itu perkembangannya berbagai jenis mobil sudah dirakit dan diproduksi dengan menggunakan komponen lokal. Yang saya mau bilang kegitan industri kendaraan bermotor sebetulnya tidak berhenti pada kegiatan pembuatan dan kegiatan manfacturing saja, apalagi hanya berhenti pada pembuatan (mobil) di lab saja, kayak sekarang ini (Esemka).

Namun ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan yaitu faktor keselamatan, keamanan, layak jalan sesuai standar produk lalu kualitas, aspek pemasaaran termasuk purna jual, penyediaan bengkel. Nggak mungkin anda membeli mobil tanpa tahu bengkelnya dimana tanpa tahu beli komponennya di mana, itu yang berat, industri penunjangnya.

Itu sebabnya juga industri mobil China berusaha masuk sini nggak bisa di-compete oleh Jepang dan Korea karena mereka nggak punya jaringan bengkel atau komponennya, mereka nggak bisa masuk sini, nggak laku lah.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) itu setiap kendaraan bermotor yang diproses, dan sudah diproduksi oleh produsen kayak Esemka. Esemka malah kita kasih syarat minimum, tahun 2010 sudah kita kasih NIK (Nomor Identitas Kendaraan) ddngan identitas itu dia mendapat rekomendasi dari kemenperin untuk melanjutkan permhonan persyaratan, dilakukan uji layak jalan di ditjen perhubungan darat. sampai sekarang masih diperhubungan darat karena disuruh melengkapi diuji lagi emisnya, katanya bulan depan sudah selesai.

Karena tahun 2010 sudah saya kasih NIK-nya, maka selama 2011 mereka berurusan dengan perhubungan. Nah kalau sudah lulus ujian baru kendaraan itu bisa diproduksi dan digunakan secara massal. Nah disini problemnya, mereka mulai memasuki skala industri itu prosesnya. Kalau sudah memasuki skala industri itu padat modal karena menyiapkan infrastukturnya mulai industri penunjang sampai purna jual. Kalau kita mau menyiapkan skala industri mestinya kita menyiapkan skala bisnis.

Pemerintah ini saya memang ketika baru jadi menperin dalam suatu pembicaraan, presiden mengarahkan tolong mulai dipikirkan mobil yang diproduksi Indonesia semacam mobil nasional. Targetnya tentu saya selama jadi menteri.

Pertama, awal tahun lalu, kita diam-diam memang menggagas low cost and green car dengan harga yang dipatong dibawah US$ 10.000.Ini buat anak-anak muda atau mahasiswa atau kebanyak generasi baru lah, atau orang yang biasa naik motor mau punya mobil. Kalau dijual Rp 80 juta nyicil mau, konsumsi bahan bakar mobil ini 22 Km per liter jadi ngirit.

Kedua, melalui Keppres No 10 Tahun 2011 ada program angkutan umum murah pro rakyat yang masuk dalam kluster 4, selain rumah murah, pangan murah, dan kendaraan murah kita masukan itu untuk pedesaan dengan kriteria 700 cc dengan merek lokal. Khusus untuk pro rakyat PT INKA menangani itu dibantu oleh perindutrian. sekarang ini prototipe sudah jadi, dan sudah ada pemasanan dari beberapa provinsi.

Ini memang awal pertimbangannya bukan untuk komersial tapi lebih membantu masyarakat pedesaan. Jadi penjualannya per wilayah termasuk komponennnya.

Ketiga, sementara itu sudah berkembang embrio mobil hasil 'karya anak bangsa', itu seperti Esemka, Komodo, komodo itu bahkan sudah mendapatkan layak jalan itu untuk offroad untuk di perkebunan. Lalu ada Tawon, GEA, Arina UNS Semarang, Mobira dari Sarimas dan Mahator, semua mobil murah. Cuma mereka nggak meledak karena nggak ada Jokowi (walikota Solo) saat peluncuran.

Jadi perindustrian menyambut gembira kelompok masyarakat, anggota masyarakat melakukan uji coba membuat inovasi, engineering untuk membuat kendaraan. Kami mendukungnya dengan prosedur yang ada, prinsipnya kita medukung dengan bentuk promosi, pameran kita undang, uji coba kelayakan jalan seperti meberikan NIK, supaya dia bisa uji kelayakan jalan ke kemenhub,juga ada pelatihan R&D, sebagai contoh Esemka itu dilahirkan oleh Solo Techno Part, Solo Techno Partnya dibantu oleh kementerian perindustrian sejak 2009 untuk perlengkapannya. Mulai dipakai untuk pendidikan SMK.

Nah, untuk memproduksi atau merakit kendaraan bermotor memang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain memiliki izin industri, sekurang-kurangnya wajib melakukan kegiatan pengelasan, penyambungan, pengecatan, perakitan komponen utama seperti engine, body chasis sehingga menjadi unit kendaraan yang utuh serta melakukan pengujian dan pengendalian kendaraan bermotor. Jadi diajari secara step by step kemampuan mereka ini. Yang paling penting lagi adalah memiliki perjanjian merek dengan prinsipal di luar negeri atau merek terdaftar yang ada di Ditjen Haki untuk merek lokalnya.

Supaya jika dia nanti menggunakan komponen dari yang lain sudah ada perjanjiannya. tapi kalau uji coba perakitan mungkin nggak perlu ya. tapi kalau anda memproduksi massal harus ada (perjanjian) jika tidak akan menjadi masalah hukum juga dengan yang lokal.

Nanti dia (Esemka) harus menandatangani itu, kalau dia masih menggunakan komponen dari luar negeri, kalau secara massal mmeproduk dia harus ada perjanjian nanti ada royalti sistem jika tidak, wah gawat itu. Nanti harus didudukkan perkaranya apa statusnya, kalau ngambil (komponen).

Kalau hanya uji coba, mungkin dikasih oleh prinsipal, sekalian dipromosi produknya, tapi kalau produksi massal harus teken dulu seperti itu perjanjiannya.

Saya mendengar tahapnnya Esemka sudah, bulan depan paling telat akan menerima uji kelayakan jalan jadi dia sudah siap sebetulnya nanti diproduksi dan digunakan massal, Disini dia harus sudah siap membuat FS (feasibility study) dengan strategi seperti apa.

Lalu apa benang merahnya dari berbagai kenyataan tadi?

Esemka ini kan fenomenal baru,tadinya kami diam-diam menyiapkan low cost and green car yang itu disponsori oleh prinsipal Daihatsu tetapi dia berjanji menyerap lokal sampai 85% termasuk desain mobilnya orang Indonesia semua.

Lalu yang kedua karena ada perintah Keppres (mobil murah pedesaan) dan bermuculan beberapa insiatif masyarakat untuk melakukan inovasi tentu kita dukung semua. Tiba-tiba ada fenomena baru mengenai Esemka tentu itu perlu diakomodasi.

Apalagi fenomena Esemka menurut saya mobil Esemka ini manfaat yang paling besar adalah dia memicu momentum untuk melahirkan mobil nasional itu bisa menjadi lebih cepat.

Dalam rencana saya akan di-launching 2013-2014 yang low cost and green car dan mobil untuk pedesaan. Tetapi GEA sekarang mulai dipesan secara parsial oleh beberapa gubernur. Jadi idenya GEA tidak masuk kota.

Tapi dengan fenomena Esemka ini lalu pemerintah dituntut mengambil sikap makanya saya mendudukan persoalannya menyelesaikan suatu perakitan dengan model yang dibuat mereka (SMK) berinovasi itu suatu pencapaian. Tapi berikutnya proses membuat produksi massal dalam skala industri itu persoalan yang berbeda itu harus dihadapi dengan sikap untu melakukan langkah besar untuk menuju pada industrialisasi. Modal disiapkanlalu ada feasibility study,bahwa spirit orang mau membeli mobil itu (Esemka) sudah tumbuh, barangkali bisa mempercepat orang untuk mempersiapkannya.

Anda tahu, tahun ini saja mobil yang diproduksi 850.000 unit, potensi pasar di kelas Esemka itu maksimal 100.000 unit (per tahun). Jadi euforia, dia harus bersaing yang dibawahnya dengan cc yang kecil-kecil, kalau seandainya dia dipesan 10.000, market share masih besar, kompetisi masih ada.

Artinya nanti kalau pun Esemka sudah masuk tahapan industri maka akan bersaing dengan mobil murah lainnya?

Ya nantinya akan bersaing dengan low cost and green car. Itu nanti akan bertemu di pasar, tapi low cost and green car ini kan cc nya 1000-1200 cc sedangkan Esemka 1500 cc kalau harganya Rp 95 juta murah, mudah-mudahan belum menghitung pajak.

Nah itu masuk di segmen pasar yang mencapai 100.000 unit, potensi pasarnya besar meskipun nantu orang Indonesia mau beli ya, tapi kontinyuitas dari penjualan harus dijaga, purna jual, programnya harus jalan, industri komponennya mesti disiapkan. Semakin besar melakukan penjualan, maka penunjang industinya harus makin, itu sesuatu menurut saya memerlukan investasi besar.

Jadi pilihannya adalah mereka sebagai inisiator bisa mengajak investor dari BUMN, itu bisa dibicarakan yang akan mengeluarkan dana atau investor-investor nasional yang besar-besar karena ini ngomong soal triliunan rupiah. Kalau BUMN bisa berunding dengan pemerintah apa saja yang bisa membuat produk costnya lebih ringan seperti bea masuk ditanggung pemerintah untuk alat yang belum bisa diproduksi disini, lalu PPn BM barang mewah, mungkin akan dinolkan atau sedikit.

Jadi aturan itu tak bisa diskriminatif, karena produsen lain berhak mendapatkannya itu rule of the game, kalau proteksinya selain itu diturunkan, kalau dia joint dengan BUMN, siapa tahu bisa mendapatkan kredit murah atau penyertaan modal pemerintahm jadi banyak opsi yang dibicarakan, kalau dengan PMDN (investor nasional), PMDN juga bisa mengajukan gagasan itu.

Tapi nggak mungkin kalau anak-anak SMK dan Sukiat ini jalan sendiri, beratnya di investment dan juga menyiapkan industri komponen. Katanya setiap SMK akan membuat komponen, mungkin dalam skala kecil bisa, kalau sudah mulai skala besar tidak bisa. SMK ini kan bukan industri, dia sekolahan jadi harus mengikuti kaidah dan norma-norma industri, berbeda dengan kalau anda mencoba prototipe di sekolah dan di lab, kalau masuk industri harus mengikuti kaidah.

Sebagai ilustrasi, Proton kalau nggak salah adalah konsekuensi pemerintah Malaysia waktu memberi izin Mitsubishi masuk ke Malaysia, setelah sekian tahun harus menghasilkan mobil (nasional) akhirnya dengan setengah dipaksa, en‌ginenya dari Mitsubishi dibuat lah Proton dengan dimodali fasilitas pemerintah lewat BUMN, terus mereka IPO jual saham. Yang terjadi sekarang sejak tahun 1980-an yah, dia (Proton) belum menguasai pasar di Malaysia, yang unggul merek-merek Jepang dan Korea. Proton sendiri untungnya naik turun jadi belum mendominasi meski itu mobil nasional. Jadi dari fenomena itu kita lihat nggak mudah tapi kalau kita berjuang disitu mari kita pikirkan.

Itu fenomena Malaysia, lain lagi dengan fenomena Thailand, sekarang dia melupakan mobnas dengan kriteria 100% buatan Thailand dan juga sahamnya orang lokal. Sekarang ini Thailand konsentrasinya pokoknya Thailand harus jadi pusat industri mobil, komponen dan produk akhirnya, itu sebenarnya yang mau direbut oleh Indonesia jadi basis produksi. Mereka memang punya kemudahan dan infrastruktur, tapi mereka kan sekarang banjir. Tadinya saya mau kompit itu. Tapi kemudian ada semangat mobnas dengan definisi seperti tadi (100%) ya lakukan saja dengan BUMN atau siapa.


(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads