Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan mendukung penuh mobil-mobil tersebut dan masih terus mengumpulkan potensi-potensi dari kehadiran mobil-mobil lokal yang digagas swasta maupun BUMN itu.
Ia mengaku pemerintah masih bimbang untuk menyikapi kebijakan mobil di dalam negeri walaupun pemerintah akan serius mendorong mobil nasional. Kebimbananga itu, apakah mengikuti Malaysia dengan memiliki mobnas seperti Proton yang diproteksi habis-habisan oleh negara atau Thailand yang mengabaikan adanya mobnas namun mereka jadi raja otomotif di ASEAN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini wawancara detikFinance dengan Menperin MS Hidayat saat ditemui di Gedung Graha Niaga,Sudirman, Jakarta, akhir pekan lalu.
Katanya pemerintah mendukung, jadi mana yang mau dijadikan mobnas dari berbagai pilihan tadi?
Kita belum menetapkan, jadi kami akan menggelar saja temuan-temuan ini dan satu per satu mau diajak bicara bagaimana nanti prospeknya karena masing-masing harus punya FS (feasibility study) untuk masuk skala industri dan pemerintah nanti juga akan ambil posisi seperti apa.
Targetnya kapan mobnas (skala industri) sesungguhnya ada?
Saya sih maunya sebelum pemerintahan ini berakhir, untuk mobnas, bukan untuk yang pedesaan. Kalau yang mobil pedesaan itu program pemerintah untuk pro rakyat, jadi sekarang ini tak nasional perwilayah dahulu seperti dijual ke Sulawesi Selatan. Kalau sekaligus nasional nggak mungkin, INKA pun saya kira nggak sanggup kalau sekaligus.
Apakah mungkin dalam jangka waktu 2 tahun bisa menyiapkan mobnas?
Makanya itu sebetulnya, yang masih dalam diskusi kami adalah apakah kita berkonsentrasi menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, dengan menguasai teknologi yang sekarang sudah 90% (komponen) dengan mahzabnya Thailand, atau kita pakai mahzab-nya Malaysia yang 100% Malaysia jual saham ke publik tetapi harus bersaing ketat dengan mereka yang sudah survive lebih dahulu.
Kalau lihat grafiknya produksi Thailand dengan Malaysia jauh lebih tinggi Thailand, kita harus pelajari itu, mungkin kita somewhere in between, ada di tengah itu.
Apakah ini artinya pemerintah masih ada dipersimpangan jalan, karena kalau mengejar mobnas tanggung, mengejar cita-cita jadi basis produksi juga tanggung?
Nggak, kecuali ada tekad baru seperti Tommy (Soeharto) tiba-tiba dia membuat gebrakan membangun investasi besar menggandeng prinsipalnya dan kemudian mendirikan industrinya, bapaknya (Soeharto) berkuasa pada waktu itu tapi toh belum berhasil juga. Saya mau menggambarkan betapa beratnya market, jadi kalau diawal-awal dibantu dengan pembelian rakyat Indonesia dan pemerintah ikut beli, itu sama dengan Proton. Tetapi lama-kelamaan akhirnya survival dari Proton sangat tergantung apakah dia kompetitifnya di pasar.
Kesannya pemerintah tak serius dengan Mobnas, jadi pemerintah serius atau tidak dengan mobnas?
Ya serius dong, tapi polanya akan dilakukan pemerintah sedang dikaji, saya akan memberikan masukan nanti, kalau nanti kita memutuskan oke pemerintah terlibat ya BUMNnya harus disuntik. Apakah itu akan menjadi prioritas, karena suntikannya triliunan rupiah,misalnya Rp 10 triliun apakah sektor lain seperti pertanian, kesehatan, pangan apakah jadi tergeser, itu kan nanti keputusan politik yang menentukan.
Berapa yang siapkan pemerintah kalau sampai mau nyuntik dana program mobnas?
Saya kasih ilustrasi, Toyota kemarin membuat pabrik untuk ekspansi US$ 300 juta atau sekitar Rp 3 triliun, itu hanya ekspansi saja. Kalau ngomong Rp 10 triliun ada kali ya, saya nggak tahu soalnya sedang dihitung. Kalau ada swasta yang berani mengambil risiko itu, saya juga sudah waktunya saya sarasehan dengan teman-teman pengusaha nasional seperti Bakrie, CT, Tedy Rachmat apakah mereka punya wawasan, atau kita berikan kepada BUMN.
Memangnya belum ada yang menyatakan minat?
Belum, mereka (pengusaha nasional) diam-diam lagi menghitung sebab dengan modal yang besar dengan risiko yang tinggi, mendapatkan kebanggan nasional itu penting, tapi harus survive.
Apa rangsangan pemerintah buat para pengusaha potensial yang mau garap mobnas?
Kalau seperti PPN BM, BMDTP itu kan lebih merangsang agar costnya kompetitif, mereka juga harus studi soal marketnya. Apakah orang Indonesia akan seterusnya mencintai produk itu dan membelinya dengan harga yang relatif murah tapi juga kenyamanan kendaraan harus tetap dijaga. Kalau euforia ini hanya beberapa tahun saja, terus berkompetisi di pasar bebas, terus nggak balik modal terus ditutup seperti Timor dan Bimantara, itu yang saya mau jaga, makanya saya hati-hati karena sekali saya lapor ke presiden bahwa ini sudah siap untuk launching, mestinya roadmapnya untuk sampai pada produksi itu harus sudah siap, saya belum siap, sedang dikerjakan.
Jadi target tahun 2014 bisa terealisasi?
Mudah-mudahan lah pada 2014 bisa launching dengan kesiapan yang sudah matang.
Artinya nanti di 2014 akan ada mobil murah Daihatsu dengan konsep low cost and green car, termasuk mobnas?
Kalau Daihatsu sih kita biarkan saja, karena itu diversifikasi produk mereka, sedangkan kalauu GEA dilahirkan atas kesepakatan kita, dilahirkan karena da Keppres. Terus mobil-mobil inisiatif masyarakat ini kita maintainance-nya seperti apa. atau mereka bisa menjadi embrio dari mobnas itu sendiri. Apakah betul selera masyarakat sesui dengan sekolah Esemka apakah untuk anak muda atau pejabat saja.
Dengan mendukung mobnas disaat bersamaan pemerintah juga mendukung mobil low cost and green car oleh prinsipal, kesannya pemerintah mendua?
Nggak mendua, low cost and green car itu kita lahirkan sejak awal tahun lalu, tapi ketika mereka (prinsipal) sudah mulai matang muncul semangat kita untuk membuat mobnas dengan kretriria kayak Proton itu. Ya sudah, tentu kita harus syaratkan harus bisa kompetisi. Untuk mobnas Esemka itu sekitar 1.500 cc sedangkan low cost and green car itu 1000-1200 cc, kecil tapi jaringannya sudah ada.
Makanya saya minta Esemka itu sudah mulai waktunya berunding dengan investor apa itu BUMN atayu pengusaha nasional, dia (Esemka) nggak mungkin mulai dengan kecil-kecil.
Soal low cost and green car, sekarang peminatnya hanya Daihatsu?
Suzuki pernah mengajukan, tetapi belum kita respons, mereka tahu kebutuhan Indonesia sekarang ini mobil kecil, mobil murah dan pro lingkungan, jadi yang bensinnya ngirit.
(hen/qom)











































