Wamen ESDM: Banyak yang Protes Listrik Naik

Wawancara Khusus

Wamen ESDM: Banyak yang Protes Listrik Naik

- detikFinance
Jumat, 16 Mar 2012 11:30 WIB
Wamen ESDM: Banyak yang Protes Listrik Naik
Jakarta - Pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 10% tahun ini karena tidak direstui oleh fraksi-fraksi di DPR.

Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan, banyak pihak yang protes karena pemerintah secara bersamaan akan menaikkan harga BBM subsidi dari TDL di tahun ini.

Bagaimana pemerintah menyikapi batalnya kenaikan TDL tahun ini dan menekan anggaran subsidi energi di tahun-tahun ke depan? Berikut petikan wawancara Harian Detik dengan Widjajono:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa pertimbangan pemerintah membatalkan tarif listrik batal naik?
Ada yang merasa terlalu berat jika kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dibarengi kenaikan Tarif Dasar Listrik. Banyak yang protes. Kalau naik pun itu sudah untung.

Seperti apa hitung-hitungannya sehingga kenaikan TDL bisa ditunda?
Akibat BBM naik penambahan subsidi untuk listrik jadi sekitar Rp 40 triliun. Kenaikan harga listrik dampaknya cuma sekitar Rp 5 triliun. Jadi sebenarnya jauh lebih kecil cuma Rp 5 triliun jika dibandingkan kenaikan harga minyak.

Listrik yang bikin mahal itu karena pembangkitnya ada yang pakai minyak. Akibat kenaikan harga minyak itu penambahan subsidinya jadi Rp 40 triliun, tapi kalau harga listrik dinaikkan itu triliun. Jadi ya sudahlah nantinya yang Rp 5 triliun itu bisa dicari. Misalnya dengan mengurangi porsi-porsi dari pengeluaran pemerintah.

Seandainya kelak DPR tak setuju BBM Dinaikkan?
Saya tidak tahu kalau itu. Sebagian fraksi kan sudah setuju,

Harga Rp 1.500 yang diajukan pemerintah itu harga mati, Kan ada konversi gas?
Ketika harga minyak US$ 90 subsidinya Rp 123 triliun. Tapi harga minyak naik menjadi US$ 105 subsidinya jadi Rp 137 triliun. Jadi kalau harga BBM tidak dinaikkan jadi subsidinya Rp 178 triliun. Jadi dengan menaikkan kita menghemat Rp 41 triliun. Kalau lebih rendah dari itu yang ditanggung jauh lebih banyak. Kenaikan harga minyak US$ 1 per barrel menambah subsidi Rp 2,3 triliun.

Konversi gas tidak pengaruh?
Kalau konversi sudah jalan, subsidi BBM jelas akan jauh berkurang. Permasalahannya kan belum jalan. Seharusnya memang dari dulu kita pindah ke gas. Minyak tanah pindah ke elpiji dulu bisa menghemat lebih dari Rp 50 triliun. Sekarang kita mau pindah ke gas namun terminalnya belum jadi. Kalau dari dulu kita membangun infrastruktur Indonesia saat ini energinya relatif lebih murah.

Upaya pemerintah menjaga agar anggaran belanja PLN tak defisit setelah TDL batal naik?
Jelas pemerintah yang nanggung. PLN kan hampir tidak pernah defisit karena semuanya ditanggung pemerintah. Tetapi PLN harus dipaksa untuk lebih efisien. Jangan pakai BBM lagi pembangkitnya.

Dialihkan ke batubara, gas panas bumi, dan air yang jauh lebih murah. Jadi BBM itu sumber energi yang paling mahal untuk pembangkit. Sebagai contoh Sumatera Utara Rp 3.500/Kwh, Sumatera Selatan Rp 800 per KWh yang pakai gas dan batubara. Jadi pakai BBM itu paling mahal.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads