Dirut KAI: Saya Ini Cuma Tukang Kereta!

Wawancara Khusus (Bagian 1)

Dirut KAI: Saya Ini Cuma Tukang Kereta!

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 16 Mei 2012 12:51 WIB
Dirut KAI: Saya Ini Cuma Tukang Kereta!
Jakarta -

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengaku sudah melakukan pembenahan layanan termasuk keandalan dan sarana prasarana kereta api.

Namun kenyataanya masih ada saja keluhan masyarakat terhadap layanan kereta api termasuk masalah klasik seperti calo tiket. Bahkan beberapa gangguan pada armada masih terjadi seperti KRL Commuter Line di Jabodetabek.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dalam manajemen perkeretaapian saat ini? Apakah perbaikan layanan itu sudah benar-benar dirasakan oleh konsumen? Apa kendala mereka terkait pelayanan kepada konsumen? Termasuk soal tarif kereta ekonomi yang dianggap sangat ngepas?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara detikFinance dengan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2012)

Soal layanan kereta masih ada saja gangguan seperti soal sinyal, mogok dan lain-lain, terutama untuk ekonomi apa tanggapan anda?

Ya sekarang saya katakan KRL pakai AC itu nggak ada subsidi pemerintah. Saya sudah bilang berulang kali, kalau mau begini tanpa adanya subsidi sama sekali itu PSO (public service obligation) namanya. Itu nggak masalah kereta ekonomi ditentunkan saja per kilometer itu harga karcisnya misalnya 70% dari bus yang sama nggak pakai AC, kalau itu bisa malah lebih bagus.

Misalnya, kalau sekarang ini bedanya banyak, Jakarta-Bogor nggak pakai AC Rp 2.000, mungkin subsidi pemerintah kira-kira Rp 2.000-4.000, anda kalau pakai bis dari Bogor sampai Jakarta kota berapa kira-kira. yang pakai bus ekonomi berapa kira-kira? lebih dari Rp 10.000 dan pindah-pindah juga.

Nah, gitu lho. Terus yang kedua apa, merawat jalan rel kan pakai dana, ini menurut UU itu perawatan ini biayanya disediakan oleh negara menurut UU kereta api nomor 23. UU 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian, itu perawatannya disediakan oleh negara sampai sekarang itu, negara tidak menyediakan.

Coba bayangin kalau bus sama truk disuruh biayai perawatan jalan 5% saja atau 10%, bangkrut nggak? Pasti bangkrut, betul kan. Ini fair, oleh karena itu kita ini berusaha efesiensinya itu sebaik mungkin supaya pelayanannya itu ya minimal dapat.

Ini gambaran umum kira-kira begitu, terus anda bilang, kalau gangguan signaling itu bagaimana? Begini, jalan rel, sinyal, ini semua prasarana ini mestinya dibiayai dari negara karena ini milik negara kalau stasiun bukan, stasiun itu milik KAI.

Yang jalan di atas milik KAI, kalau ini KAI pakai KAI bayar, kalau bus digitukan pasti habis atau truk. pasti nggak mampu. Ini jelas ya, soal keadilan. Nah, anda kalau sudah saya Bilang kayak begini pasti mumet ya.

Ada yang bilang pelayana kereta api sudah ada perubahan, bisa jelaskan?

Sebenarnya perubahan ini cuma satu di kereta api ini. Kalau dulu, KAI itu lebih fokus kepada produk jadi namanya produk oriented. Jadi begini dulu fokusnya itu produk atau produk oriented. Produk oreinted itu begini, ada begini kamu mau silakan kalau nggak mau ya sudah. Iya kan, KAI nggak pernah jualan kok, nggak pernah nyuruh orang untuk datang ke stasiun.

Terserah kamu mau datang atau nggak, sekarang kita balik ke customer oriented. Customer itu perlunya apa, nah merubah ini. Ini ngomongnya setengah menit, jalaninnya ini lifetime atau seumur hidup. Saya percaya itu seumur hidup.

Ini sama dengan misalnya, Telkom itu merubah budaya ini. Saya kira dari produk oriented ke customer oriented. Itu butuh berapa pemimpin? Mulai zaman Pak Cacuk sampai sekarang. Saya yakin ini akan tetap berubah, semua bank-bank pemerintah, semua produk oriented ke customer oriented dan sebagainya.

Di dalam perubahan ini, ada satu yang penting bahwa penyesuaian pelayanan ini akan tentunya disesuaikan dengan harga karcis yang dibayar oleh masyarakat. Ini penting sekali, ini jelas kan. Kan kita usahakan sebaik mungkin tapi tetap kita nggak bisa mencetak uang sendiri kan gitu.

Jadi kita berusaha semaksimal mungkin ini dilayani dengan sebaik-baiknya. Itu saja dengan harga yang pas, makanya tadi saya tanya anda naik Jakarta-Bogor berapa Rp 7.000 pakai AC? Ada nggak moda (transportasi) lain, bayarnya pakai Rp 7.000 setepat itu.

Orang selalu bilang telat 15 menit, marah dan sebagainya. Coba anda jalan di jalan raya, kita fair. Naik taksilah, belum tentu waktunya bisa lebih tepat betul kan. Ketiga, saya sih bukan membela diri, gangguan di lintasan kereta api itu banyak sekali. Gangguan penumpang, gangguan macam-macam dan sebagainya. Ini harus dihindari, tapi ini nggak bisa. Ketertiban itu, tidak bisa dibangun oleh KAI sendiri. Oleh penumpang, oleh pelanggan dan juga oleh masyarakat.

Karena di UU kereta api juga disebutkan, ketertiban itu dijaga bersama dan sebagainya. Makanya kadang-kadang mulus, mislanya kayak Jakarta-Cirebon. Pernah naik? Tepat kan 3 jam. Kalau tetap atau hak tepat. Kita nggak pengen telat juga kok dan sebagainya. Itu telat 15 menit, karena ada gangguan atau telat setengah jam, orang protes.

Kalau anda naik pesawat, juga sering tidak tepat kan jamnya. Ini kita fair kok. Anda bayarnya lebih mahal. Saya mengerti, kereta api telat 15 menit terus masuk twitter dan sebagainya. Terus terang begini, perjalanan satu jam telat 15 menit.

Itu nambah 25% waktu perjalanan kereta. Pesawat terbang Jakarta Surabaya, telat 1 jam. Kadang berangkatnya saja telat setengah jam, itu sudah 50% perjalanan. Loh, ini kan tergantung sama perjanjian. Benar nggak?

Ini merubahnya pelan-pelan, ini makan waktu karena perubahan itu juga mengedukasi masyarakat. Soal karcis itu banyak yang mengeluh, banyak yang nggak dapat dan sebagainya.

Begini, kita untuk karcis itu sudah bisa untuk online, pakai call center 121, pesan dapat nomor booking-nya langsung ke loket khusus kan bayar pakai ATM terus bayar ke loket khusus langsung sudah bisa dapet karcis. Bisa 90 hari kelas bisnis dan eksekutif, serta kelas ekonomi 7 hari sebelumnya.

Semua sekarang sudah pakai nama, di-print pakai nama. Lah ini sekarang sedang penggalakan pemeriksaan, nanti kalau masuk diperiksa namanya. Kalau nggak cocok dituruni, supanya menghindari calo.

Orang bilang wah ini kesulitan dapat tiket. Ini tergantung, 90 hari bisa pesan, anda kan bisa merencanakan perjalanan, betul kan. Lalu ada lagi begini kalau selama 90 hari itu. Tiketnya mudah nggak didapat? Tempat pembelian tiket banyak, 5.000 gerai

Indomart, 6.000 gerai alfamart di seluruh Jawa. Itu 11.000 gerai di seluruh Jawa, kantor pos besar semua bisa, hampir semua agen perjalana bisa. Orang itu mengantre di stasiun. ngapain mengantre di stasiun. Mending pakai call centre terus bayar di ATM di deket rumahnya. Sudah berangkat ke sini 1 jam sebelumnya. Iya kan, 24 jam call center-nya. Call center kita salah satu yang terbaik lho, yang kelas kecil ya.

Tapi kalau butuh mendadak bagaimana? Butuh mendadak itu kalau ada, kalau nggak ada ya nggak ada dan sebagainya. Lalu ditanya lagi, kalau diborong calo bagaimana. Begini sekarang kita akan periksa sesuai dengan nama dan sebagainya, kalau nggak cocok ya diturunin. Jadi nggak bisa diborong calo lagi dan sebagainya. Jadi harus sesuai nama, Saya paham sih, kalau saya ada keluarga meninggal dan saya.

Pertanyaaannya saya begini, ada beberapa seat (tempat duduk) untuk setiap pemberangkatan itu disediakan untuk cadangan. Tapi sebenarnya cadangan ini hanya untuk dinas. Biasanya memang kalau ini perlu, kurang 5 menit. Keluarganya meninggal, ini bagaimana? Kalau ada seat kita bantu kok. Ada seat cadangan yang memang belum diapakai. Karena seat ini sebenarnya ditujukan untuk dinas.

Dinas kok ada seat-nya, karena gini kalau malah gangguan di jalan rel bagaimana. Kan kalau pakai mobil juga nggak bisa. Wong ini di tengah sawah makanya pakai kereta gitu. Tapi kita nggak janji, nggak ada modal transportasi umum bisa janji begitu masak bisa. Ada yang bisa? Pernah dengar ada yang bisa? Ada nggak? Nggak ada.

Orang ayah saya meninggal 2009, taruh di peti di Pondok Indah, kirim pakai ambulance peluangkan ke Surabaya pakai pesawat. Kargonya penuh, yang nunggu. Terus mau diapain, kargo orang mau diturunin.

Jiwanya begitu, ini merubah juga mengedukasi masyarakat kalau mau pergi coba jauh-jauh hari itu dipesan atau dipersiapkan. Kalau ke setiap stasiun harus ada tiket, ya susah. Ada hal mendadak yang kedua, kalau kelas ekonomi selama harga ini beda dengan di situ jauh. Berapun akan disediakan, ekonomi

Sekarang saya tanya, naik bus Jakarta-Surabaya sudah paling murah anda dioper-oper, sini Cirebon, Cirebon ke Semarang, Semarang ke Bojonegoro, Bojonegoro oper lagi ke Surabaya berapa harganya? Nggak pakai AC, berapa harganya? Rp 100 ribu lebih kan. Kereta api cuma Rp 37.000. Beda banyak dan jamnya pasti lebih pendek kan dibanding dioper pakai bus.

Terkait dengan gangguan-gangguan layanan KRL Jabodetabek, termasuk kasus kereta tak bisa menanjak dari Manggarai ke Cikini apa penjelasan anda?

Kalau menurut laporan ada pantograf rusak. Begini mas, kereta ekonomi itu umurnya sudah tua-tua sudah 30 tahun dan sebagainya. Harganya murah tapi perawatannya sulit. Kadang-kadang spare part sudah nggak ada.

Ini ingin saya coba untuk dipensiunkan pelan-pelan, diganti pakai AC. Terus bagaimana kalau keretanya sudah tua.

Ada rencana untuk menarik kereta ekonomi?

Sudah, nanti Juni sudah mulai ditarik diganti baru lagi dan sebagainya. Ini terus dilakukan secara pelan-pelan.

Berarti nanti bisa dikatakan kereta ekonomi non AC bisa ditiadakan?

Itu tergantung keputusan pemerintah. Sebenarnya kalau saya, saya usulnya kalau KRL itu single service-lah. Harganya satu, nggak ada kelas ekonomi dan kelas AC, nggak usahlah. Harganya satu pakai AC semua. Sudah nggak zaman KRL nggak pakai AC, kasihan.

Kalau mau, Jakarta-Bogor Rp 7.000 dirasa pemerintah masih mahal, ya sudah pemerintah tentukan saja. Jakarta Bogor pakai AC Rp 3.000, sebanyak Rp 4.000 per orang disubsidi oleh pemerintah. Saya ikut saja. Wong saya ini cuma tukang kok. Iya kan, tergantung bos lah.

Sudah diajukan sistem satu harga KRL?

Sudah

Terus gimana hasilnya?

Ya nggak tahu, saya lagi menunggu. Coba tanya ke menteri perhubungan atau menteri bumn. Saya ini cuma tukang kereta.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads