Belakangan ini nama mobil hybrid kembali ramai diperbincangkan, pemerintah punya niat mengembangkan mobil ini di dalam negeri. Ada beberapa alasan mengapa pemerintah ingin mengembangkan mobil perpaduan berbahan bakar minyak dan listrik ini.
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menjelaskan, kedepannya mau tidak mau pemerintah harus mencari solusi terkait tingginya permintaan BBM yang terus tumbuh setiap tahun. Salah satu caranya mengembangkan kendaraan-kendaraan yang ramah lingkungan dan hemat BBM, walaupun butuh perjalanan panjang dan berliku.
Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat di Radisson Hotel, Astana, Kazakhstan, Rabu (25/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya kita semua mengetahui bahwa in the future kita akan terus menerus mengalami kekurangan BBM dan knowing bahwa kebutuhan BBM kita meningkat karena mobil, otomotif, motor itu meningkat sesuai dengan kemajuan ekonomi Indonesia. Maka diperlukan suatu teknologi yang bisa hemat energi, ramah lingkungan dan bisa mengurangi emisi karbon.
Maka percakapan kita adalah kriteria adalah mencari mobil yang hybrid, dua mobil elektrik dan ketiga adalah advance diesel dan keempat adalah biofuel. Dari keempat itu yang memenuhi kriteria maka saya akan mulai dengan hybrid. Karena sudah diproduksi oleh Toyota terlebih dahulu.
Maka Presiden langsung melakukan tes fisik tiga minggu lalu di Istana Merdeka. Tapi tidak berarti nanti hanya Toyota saja, tapi siapa saja yang bisa menghasilkan teknologi yang sama.
Kenyataanya di saat yang sama Menteri BUMN Dahlan Iskan juga mengembangkan mobil nasional (mobnas) listrik, apa nanti tidak bertabrakan?
Memang tadi ada 4 kriteria. Oleh karena itu maka tidak akan bertabrakan. Semua bisa jalan. Hybrid dikembangkan mobil listrik juga bisa. Tapi mobil listrik itu ada kendala sebenarnya. Baru dilakukan di AS dan RRC dan belum secara massal baru beberapa ribu saja dan membutuhkan perisapan matang untuk infrastrukturnya. Contohnya seperti kebutuhan untuk charger-nya, kan ini memang tidak berjarak jauh tapi harus ada tempat charge sendiri.
Jadi kemungkinan besar lebih di Hybrid ya? Implementasi di Indonesia?
Iya, kemungkinan seperti itu. Hybrid itu sudah ada barangnya dan produksi.
Lalu kendalanya apa saja?
Jadi kalau diimpor itu masih harganya masih 45-50% lebih mahal dari mobil biasa.
Terkait dengan negosiasi dengan Toyota sendiri, sudah sejauh mana dan apa permintaan mereka soal mobil Hybrid?
Mereka maunya impor dulu yang banyak dalam jangka waktu panjang karena kan mereka memang mau jualan di sini. Untuk impor itu supaya harga terjangkau bagimana? Kan harga memang lebih mahal mereka minta difasilitasi pajak. Pemerintah sih setuju kasih kesempatan tes pasar selama 1-2 tahun tapi harus terkait dengan rencana produksi mereka. Dimulai dari perakitannya kemudian pabriknya dan program lokalisasi komponen.
Thailand kan sudah masuk mobil Hybrid, kenapa bisa semudah itu di sana?
Kita bukan impor dari sana, dari Jepang. Tapi target saya adalah membuat Indonesia jadi basis produksi untuk domestik dan sebagian besar ekspor. Target tahun ini 30% total produksi Indonesia bisa di ekspor ke kawasan maupun global. Basis produksi untuk ekspor sama di Thailand. Indonesia memang sudah bisa menuju sana, karena guru kita kan karyawan kita yang well trained dan local content sudah mendekati 80%.
Pemerintah seperti melakukan perlakuan khusus ke Astra (Toyota-Daihatsu). Apa benar yah? sampai Mobil dinas menteru banyak Toyota. Hybrid saja yang diajak Toyota?
Itu rumor, kita belum ada kepastian Hybrid nanti menggunakan Toyota kok. Tapi kalau Toyota dalam perundingan berjalan dan fasilitas pajak bisa terjangkau dibeli orang dan produksi mereka di Indonesia maka akan berlaku regulasi untuk semua merek yang bisa memproduksi hybrid. Di mana 30 Km per Liter bebas kok Honda juga dipersilakan.
Mobil dinas Kementerian saja banyak pakai Toyota, apa memang mereka menjanjikan sesuatu?
Jadi begini, pasar Toyota itu hampir 60% dari pangsa nasional mereka advance dalam menjual dan memperkenalkan. Nah jika nanti sebut saja Honda bisa melakukan hal yang sama maka kita bisa saja pakai.
Memangnya roadmap industri otomotif kita bagaimana? Ada mobil sekarang ada rencana mobil murah, mobil hybrid, lalu mana yang jadi prioritas?
Mobil terjangkau dan ramah lingkungan. Ini berlaku kedepannya dan jadi trademark. Saya ciptakan low cost and green car (LCGC). Low cost di bawah Rp 100 juta dan green car itu bisa 30 Km per liter bukan 12 Km per liter. Ini segmen menengah bawah yang low cost dan menengah ke atas pakai hybrid itu.
Nah itu bicara mobil pribadi, kalau angkot bagaimana? Mobil dibenahi tapi angkot masih boros, tak ramah lingkungan dan amburadul?
Angkot bakal kita pasangi converter kit semua, kemudian dipersiapkan semua suplai BBG-nya dan SPBG-nya melalui kementerian ESDM. Dua tahun ini akan diberlakukan.
Kedua, saya dari Kementerian Perindustrian mensinyalir lebih dari 50% angkot tidak laik lagi. Lebih efisien kalau diganti baru demi keselamatan dan teknologi. Lebih baik pengusaha angkot itu diberi kemudahan kredit dan bunga yang disubsidi sehingga bisa beli angkot baru dengan efisien dan ramah lingkungan.
Kita sudah bicara di kabinet dan saya sedang menyusun proposal ini memperlakukan angkot murah karena kan tarif regulasi dari pemerintah maka pengadaan harus disubsidi, seperti bunganya dan kepastian mobilnya.
Kapan target pemerintah, bisa kurangi penggunaan BBM?
Saya pendapat pribadi saja, kenaikan BBM semestinya terjadi kemarin (1 April) sehingga kita bisa atur lebih riil konsumsi BBM subisdi dan non subsidi sesuai APBN, kan APBN harga naik asumsinya harusnya.
Saya menginginkan ke depan seluruh kendaraan pakai teknologi ramah lingkungan dan hemat energi BBM. Sudah waktunya juga menghilangkan subsidi ke BBM dengan cara tadi pada waktunya tidak akan lagi ada subsidi BBM.
Angkutan umum pakai BBG, mobil pemerintah BBG, dan nantinya private car untuk sukarela saja memang. Alphard nggak boleh 'minum' BBM premium. Mereka harus dipermalukan walau secara hukum punya hak tapi secara sosial itu mereka ambil hak orang yang tidak mampu.
Itu etika bersosial saja harus dipermalukan memang, itu salah satu caranya. Perjalanan panjang mengurangi ketergantungan ke BBM itu. (hen/dnl)











































