Mentan: Selain Impor, Kita Juga Ekspor Singkong & Jagung

Wawancara Menteri Pertanian (2)

Mentan: Selain Impor, Kita Juga Ekspor Singkong & Jagung

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 12 Jul 2012 10:54 WIB
Mentan: Selain Impor, Kita Juga Ekspor Singkong & Jagung
Jakarta -

Sebagai negara agraris, ternyata Indonesia belum lepas dari ketergantungan impor produk tanaman pangan. Impor produk pangan seperti jagung, kedelai, beras, bahkan ubi singkong pun, Indonesia masih harus impor.

Menanggapi hal itu Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menjelaskan soal fakta-fakta tersebut. Berikut ini wawancara detikFinance dengan Suswono saat ditemui di rumah dinasnya Jl Widjacandra V, Jakarta, Selasa malam (10/7/2012)

Kenapa sampai saat ini kita masih mengimpor produk pangan, termasuk singkong?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perdagangan bebas sekarang ini kita 'dipaksa' mengikuti proses yang panjang sejak 1990-an. Pada kenyataanya kita belum siap, tentu kita harus ada upaya bagaimana tetap tidak merugikan petani dalam negeri.

Alat yang pakai untuk menahan barang impor ini adalah Codex dan SPS, Codex terkait standar keamanan pangan dan SPS kaitannya dengan kesehatan, ada jaminan aman untuk dikonsumsi.

Yang menjadi pertanyaan, misalnya beras, pemerintah selalu bilang surplus produksi, lalu kenapa masih impor (2011)?

Importasi ini kaitannya stok pangan di Bulog, memang Bulog diharapkan menyerap beras dari dalam negeri, memang pemerintahnya seperti itu tetapi Bulog untuk mendapatkan beras dipatok dengan namanya harga pembelian pemerintah (HPP).

Ini kaitannya dengan PSO (public service obligation) dibatasi dengan HPP. Artinya kalau dipasar harganya di atas HPP berarti Bulog tak bisa membeli, konsekuensi serapan tak optimal. Ini yang kadang-kadang Bulog di akhir tahun sesuai dengan perintah presiden minimal stoknya 1,5 juta ton.

Artinya ketika tak optimal menyerap dalam negeri, kemudian diakhir tahun tinggal berapa ratus ribu ton, maka satu-satunya jalan untuk memenuhi stok pangan ya diambil dari impor. Jadi tak ada kaitanya dengan produksi.

Jadi sisi produksi yang merilis adalah BPS, seperti tahun lalu surplus sekitar 3,5 juta ton, tahun ini diperkirakan di atas 5 juta ton, tahun ini diperkirakan kenaikannya 4,31% kenaikanya. Sampai bulan ini Bulog sudah menyerap 2,4 juta ton, targetnya 3 sampai 3,5 juta ton, ini kan masih ada panen juga sampai Desember.

Diharapkan Bulog bisa serap minimal 3 juta ton, syukur-syukur bisa sampai 3,5 juta ton. Jadi kalau kita impor untuk memperkuat stok pangan, terpaksa ya impor, diputuskan biasanya dalam rapat menko untuk jaga-jaga daripada spekulasi, daripada harga melampung Bulog tak bisa operasi pasar. Jadi dalam hal seperti ini, apalagi tahun lalu produksi menurun, tapi kan tahun ini bagus, kita harapkan optimal.

Kalau kita lihat, Bulog impor (2011) sekitar 1,9 juta ton, tapi produksi dalam negeri 37 juta ton. Jadi artinya produksi yang 37 juta menjadi terdistorsi karena ada impor yang 1,9 juta ton. Ini yang sering kita seolah-olah menapikan produksi yang 37 juta ton.

Padahal kalau dibandingkan dengan Thailand itu luas lahan panen 9 juta ton, kita 13 juta artinya 1,5 kali, produksi Thailand 20 juta ton beras. Kita dengan luas panen dengan 13,5 juta hektar itu produksi 37 juta ton.

Produkstivitas kita, kita itu diatas Thailand, persoalannya warga Thailand itu nggak sampai 80 juta atau seperempatnya kita, makannya hampir dua kali dengan orang Thailand.

Thailand dengan 20 juta kebutuhan dalam negeri kurang dari 10 juta, makanya bisa dijadikan cadangan, sebagian diekspor. Indonesia itu surplusnya kecil hanya untuk satu bulan.

Bagaimana dengan impor produk hortikultura seperti sayur dan buah, bukan kah itu ironis?

Kaitannya dengan produk hortikultura seperti buah dan sayur, sering orang anggap seolah olah kita defisit besar. Padahal kalau kita bicarakan pertania secara keseluruhan antara yang diekspor dan diimpor, sebetulnya kita masih surplus 24 miliar dolar tahun lalu. Triwulan ini sudah 7,5 miliar dolar.

Jadi kalau kita bicara keseluruhan antara produk pertanian kita yang diekspor perkebunan sawit, CPO, kakao, karet, kopi dan lain-lain. Tapi kalau kita spesifik hortikultura antara buah-buahan kita yang ekspor dengan buah-buahan impor ini yang kita masih minus.

Kalau bicara volume antara yang diproduksi dan diimpor sebetulnya tidak sampai 10%, yang impor sebenarnya hanya 7% dibandingkan dengan produksi lokal. Ini seolah-olah mana produksi dalam negeri, padahal produksi dalam negeri mencakup 93%.

Kenyataanya di lapangan itu lebih banyak buah impor?

Karena di supermarket ini memang etalase, tapi masyarakat yang mengkonsumsi impor itu jarang kan. Kalau di supermarket memang terjadi ada beberapa. Kita akui defisit antara yang kita ekspor dengan yang diimpor, yang kita ekspor juga nanas, salak, manggis.

Bagaimana dengan impor singkong, masak singkong saja kita impor?

Kaitan dengan singkong, kita ini perdagangan, perdagangan kadang-kadang industri ini membutuhkan bahan baku spesifik. Ada jenis singkong yang dibutuhkan industri, bisa jadi mereka mengimpor, kekurangan bahan baku, tapi sebaliknya ada singkong dari kita yang kita ekspor.

Total ekspor ubi kayu (singkong) tahun 2002 sampai 2011 mencapai 2.554.194 ton senilai 349.309 dolar AS, kalau Impor tahun 2002 sampai 2011 mencapai 1.480 080 ton senilai 402.418 dolar AS.

Untuk produksi ubi kayu tahun 2008 produksi 21.756.991 ton , dan tahun 2011 meningkat mencapai 24.044.025 ton. Data Aram I tahun 2012 mencapai 23.712.029 ton.

Volume ekspor dalam bentuk Gaplek, Tapioka ,Chip ,dan bentuk lainnya tahun 2008 mencapai 108.590 ton dengan nilai US$ 27.251. Sementara impor tahun 2008 mencapai 64.443 ton dengan nilai US$ 11.754.

Pada tahun 2011 volume ekspor 125.260 ton senilai US$ 57.865 sementara volume impor tahun 2011 mencapai 98.023 ton senilai US$ 53.496.

Tujuan ekspor ubi kayu ke China, Korea dan Pasaran Eropa , sementara impor dari China dan Vietnam. Impor terjadi pada bulan April dan Mei dimana produksi dalam negeri berkurang, puncak produksi terjadi di bulan Juni, Juli sampai September.

Berdasarkan analisis kebutuhan ubi kayu, tahun 2011 kita surplus 701.254 ton dan diproyeksikan tahun 2014 kita surplus 3,3 juta ton, dengan proyeksi produksi 24.271.716 ton.

Seolah-olah kita impor padahalnya kita juga ekspor, tapi memang defisit untuk sesama singkong.

Industri bahan baku itu spesifik yang membutuhkan bahan baku dari negara lain. Sementara negara lain butuh jenis singkong dari negara kita, ini perdagangan biasa.

Jagung juga kita impor untuk pakan ternak, tapi kita juga ekspor. Kita produksi jagung 18 juta ton, tahun kemarin kita impor 3 juta ton, tahun ini paling tinggi 1,5 juta ton, sekarang kita bisa tekan mudah-mudahan 1 juta, kardena produksi meningkat, jadi nggak ada alasan. Kadang-kadang barang itu ada cuma persoalannya itu transportasi, hambatan itu transportasi NTB, Aceh.

Apakah ada masalah soal ketersedian lahan?

Problema kita itu ada di lahan, ketika saya mendeklarasikan swasembada kedelai. Saya mendeklarasikan butuh lahan kedelai 500.000 hektar, gula 350.000 hektar. Disisi lain ada 7,3 juta lahan terlantar. Apa yang terjadi BPN (badan pertanahan nasional) mengumumkan 2 juta hektar untuk pertanian, kemudian digugat oleh pemegang HGU, lalu pemerintah kalah.

Jadi didepan mata banyak lahan yang bisa dimanfaatkan, BPN menjanjikan 2 juta hektar untuk kementerian pertanian, tapi sampai sekarang lahan untuk kedelai belum ada, gula juga belum. Jadi problem kita, kalau kementan siap mendayagunakan yang mau investasi juga banyak.

Juga kendala, budaya tanah ulayat juga menjadi kendala pengembangan food estate kita..Kita masih dihadapkan soal tanah ulayat. Juga status hutan, banyak lahan-lahan hutan yang menjadi potensi tanaman pangan, tapi lagi-lagi terbentur.

Misalnya lahan Inhutani di Lampung, ada potensi 50.000 hektar cocok untuk tebu, tak didayagunakan.Tapi jawaban menteri kehutanan, ini harus dihutankan, kalau dihutankan kapan?. Sementara Inhutani idle tak melakukan aktivitas. Karena katanya melanggar aturan kalau dialihkan menjadi lahan tebu, tapi kenapa nggak dipinjamkan saja dulu.

Misalnya 10-20 tahun. Hal-hal seperti ini kita harus membenahi soal lahan, termasuk reforma agraria, petani kita gurem bekerja dengan 0,3 hektar jadi nggak efisien, lahannya sempit, biaya tinggi, sehingga tak kompetitif produk pertanian kita dengan negara lain.

Ini yang menjadikan produk pangan kita harus tinggi supaya tetap petani bergairah menanam. Seperti kedelai, petani nggak tertarik, kedelai impor lebih murah. Mereka tertarik tanam jagung, karena harganya menarik, kedelai ditinggal jadi drop produksinya.

Artinya kementerian pertanian harus dapat dukungan soal kaitan pengadaan lahan, irigasi, air menjadi kunci, sementara 52% irigasi kita rusak dan konversi lahan.

(hen/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads