Mengorek Bos OSO Grup, Si Pemilik Bisnis Jet Pribadi

Wawancara Khusus Oesman Sapta Odang

Mengorek Bos OSO Grup, Si Pemilik Bisnis Jet Pribadi

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 13 Des 2012 10:36 WIB
Mengorek Bos OSO Grup, Si Pemilik Bisnis Jet Pribadi
Foto: Suhendra-detikFinance
Jakarta - Oesman Sapta Odang, pendiri OSO Grup salah satu pengusaha daerah yang sukses menggeluti bisnis skala nasional. Kini bisnisnya menggurita mulai dari pertambangan, perkebunan, transportasi, properti, dan lain-lain.

Oesman yang lahir di Sukadana, Kalimantan Barat, 18 Agustus 1950 ini punya keyakinan tersendiri dalam memilih bisnis. Salah satu bisnisnya, penyewaan jet pribadi, merupakan hasil kejeliannya membaca masa depan. Bahkan ia sebentar lagi akan menjadi pemain perminyakan dengan membangun kilang senilai US$ 5 miliar.

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan pengusaha low profile ini di lokasi hotel miliknya, The Stones Hotel, Legian, Bali Rabu (12/12/2012):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pengusaha yang sudah banyak memiliki bisnis, Anda bisa dibilang termasuk pengusaha sukses?
Ukuran sukses itu kan sangat-sangat relatif, ukuran kebahagian dan kepuasan itu juga relative, ada orang yang suka dengan Rp 150 dia puas, ada yang puas hanya Rp 50 dan ada juga yang Rp 150 tidak puas.

Lalu seorang Oesman Sapta saat ini sudah sampai tahap mana?
Kalau saya, bagaimana menyelesaikan masalah dan bekerja dengan baik dan itu bukan soal nilai tapi soal tanggung jawab, sistem. Jadi tidak bisa ukuran itu besar kecil, ukuran itu suatu penyelesaian suatu produk yang ukurannya bisa dilihat orang lain.

Bisnis anda kan banyak di pertambangan, perkebunan, properti, tranportasi, setelah ini mau ke mana?
Jadi begini, bisnis itu nggak ada habisnya, semakin hari semakin tidak ada habisnya, semakin ekspansi semakin menarik semakin banyak pertarungan. Itu kadang-kadang orang yang tidak puas satu macam pekerjaan, lalu semua dikejar, dan belum tentu semuanya dia sukses.

Itulah hitungan-hitungan yang harus dilihat relevan dengan melihat secara faktual, bahwa keuntungan itu dapat membiayai suatu proyek dan sangat menguntungkan dan dapat diharapkan. Jadi belum tentu perusahaan yang mercusuar itu tidak mencerminkan suatu keuntungan, jadi trademark business yang mungkin dia tidak untung dari situ tapi untung dari tempat lain, ada juga pengusaha yang menyembunyikan keuntungan atau low profile.

Berbicara soal trademark, anda menggeluti bisnis properti termasuk hotel baru di The Stones di Bali, apa anda akan fokus ke properti?
Properti di Bali sangat-sangat menjanjikan dan nomor satu di Indonesia ada di Bali, untuk sekarang ini. Saya tidak akan main di properti tapi multicore. Semua ini ada tren, ada saatnya properti di Bali bisa jatuh, ada Jakarta masa lalu bisa jatuh, tapi jatuhnya properti tidak akan menjatuhkan harga nilai tanah.

Jadi investasi yang paling aman di sana (properti), tidak mungkin turun, tapi tidak lama naik itu biasa, tapi sangat cepat kenaikannya itu biasa karena situasional.

Jadi anda memang pengusaha yang konservatif?
Ya memang konservatif, karena saya tidak mau gagal, saya nggak mau gagal. Kita harus berhitung, tapi kadang-kadang ada perhitungan-perhitungan untuk promosi, ada juga yang sebagai trademark, sebagai tanda bahwa kita dikenal orang, sebagai brand image.

Soal trademark, apakah hotel baru anda The Stone sebagai trademark anda?
Kita sudah punya hotel sebelumnya.

Anda rencana ekspansi properti atau bisnis lainnya lain?
Ya tentu ke daerah-daerah yang potensial propertinya, tetap hotel, pertambangan, perkebunan, tentunya sesuai dengan kemampuan kita, tidak mau ikut-ikutan.

Kalau ada termasuk pengusaha yang mengandalkan utang, untuk ekspansi?
Kita nggak tergantung sama bank, ada yang kita perlu dengan bank ada juga yang tak perlu dengan bank. Kita juga membangun equity (modal), supaya refinancing lebih mudah. Nggak semua uang dipakai untuk sebuah proyek.

Belum lama ini anda mengumumkan mau bangun kilang minyak, apa alasan anda masuk bisnis minyak?
Kita lihat sendiri, ketergantungan kita terhadap impor minyak jadi kan besar sekali. Harga minyak selalu naik, akibatnya negara kita selalu dirugikan akibat harga minyak yang tinggi, dan konsumen kita yang tinggi permintaannya dan industri kita menjadi lemah. Ini karena kebutuhan kita tinggi tapi harga bahan bakarnya begitu tinggi.

Kalau masih menggunakan minyak, seperti solar, tentu harus kita ubah dengan gas dan batubara, tapi penyulingan, minyak itu tetap dibutuhkan, walaupun nanti akan ada konversi menyebabkan penurunan permintaan bahan bakar tetapi penggunaan minyak tetap saja membutuhkan tinggi sesuai dengan kebutuhan penduduk.

Anda termasuk pengusaha yang berani bangun kilang, Pertamina saja pemain lama nggak pernah jadi bangun kilang baru?
Ya memang karena ada keinginan agar tidak jadi. Karena ketergantungan dengan impor.

Apa anda tak khawatir? Soalnya ada istilah mafia minyak yang tak menginginkan Indonesia punya kilang baru agar tetap impor BBM?
Kalau anda mendukung saya tidak takut, tapi kalau anda berpikir seperti itu saya takut.

Tapi ada kemauan membangun kilang minyak di Indonesia itu luar biasa?
Kita mengajak investor asing membangun kilang di negara kita, kita menyediakan lahan, kita menyediakan tempat, mereka yang mengerjakan, maksud kita adalah menurunkan nilai harga jual dan kita mensuplai negara-negara tetangga Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Bahkan bisa Taiwan dan China.

Minyaknya dari mana nantinya?
Ya tentu dari minyak partner kita, Ajarbaizan, sekarang segera mungkin sedang diatur oleh Pak Tanri Abeng (Chairman OSO Grup) saya kan nggak ngerti di bidang ini. Kebetulan perusahaan saya diajak dan kita ajak orang-orang terbaik kita, dan lahan terbaik kita sebagai lahan untuk pembangunan refinery (kilang) di Karimun.

Terkait mafia impor apa anda tak mendapat hambatan membangun kilang yang mencapai US$ 5 miliar?
Semua usaha itu ada hambatan di Indonesia ini apa yang tak dihambat, kalau bisa dihambat kenapa tidak. Ini yang harus diubah, presiden SBY minta perizinan seminggu nggak usah 3 bulan.

Apa tidak takut dengan mafia impor minyak, karena anda bangun kilang, mereka pastinya akan menekan anda?
Saya nggak bicara begitu, karena belum sampai ke tingkat itu, mudah-mudahan lancar-lancar saja. Makanya saya minta doanya agar kita bisa bantu rakyat dengan cara menurunkan harga minyak dengan kita membangun refinery di Indonesia. Soal jumlah kapasitasnya masih dalam survei.

Anda keluar uang berapa bangun kilang?
Modalnya dari mereka, kita mana ada duit, kita hanya lahan saja.

Rencana ke depan, bisnis anda mau ke mana?
Saya lebih cenderung pada perminyakan, pertambangan dan properti. Dan perkebunan. Alasan di perkebunan kita negara agraris masak kita impor terus, jagung, kedelai, gula, semua kita impor. Termasuk soal impor singkong, itu nggak pantas dong. Masak negara kita yang begini kaya, singkong itu bisa 120 ton per hektar kalau mau di Indonesia ini. Lebih mahal dari harga batubara sekarang ini. Singkong Rp 900 per kg, atau Rp 900.000 per ton, batubara di bawah itu.

Anda ada rencana masuk bisnis singkong?
Pelan-pelan lah jangan semua kita ambil, ada orang lain yang kita dukung.

Beberapa tahun ini harga batubara, sawit sedang jeblok, sebagai pengusaha yang berbisnis dua komoditi itu seperti apa?
Ya kita nggak bisa berhenti, nggak bisa, ya kita sudah tanam sudah manage, ya kita tunggu sampai harga pada kembali pada asalnya. Kalau batubara, nggak bisa batubara menjadi bahan bakar yang merugikan pasti menguntungkan. Apalagi Jepang sudah menyatakan dirinya akan tidak memakai nuklir tetapai memakai batubara. Jadi itu salah satu yang menjadi landasan di Asia Pasifik. Bahwa batubara itu tetap menjanjikan ke depannya.

Jadi bisnis anda yang porsinya paling dominan porsinya apa?
Porsi saya kecil-kecilan saja, cukup makan, jangan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar.

Anda kok tak masuk Forbes sebagai orang terkaya di Indonesia?
Kenapa saya masuk kesitu, apa sudah kaya saya? Saya belum lah (kaya), lihat berapa orang yang kaya, berapa orang sudah menikmati kekayaan Indonesia, tapi itu juga masih belum puas, seharusnya berterima kasih lah pada negara.

Anda selama ini dikenal punya banyak jet pribadi, tujuannya buat kebutuhan atau lifestyle?
Nggak, itu kita sewaain, jadi di samping disewa kita pakai sendiri. Melangkah bolehlah sedikit-sedikit.

Bisnis sewa jet pribadi sepertinya makin menggiurkan?
Kalau saya memulai sesuatu pasti ada masa depannya, buktinya sekarang setelah saya bikin bisnis sewa jet pribadi, sekarang berduyun-duyun, marketnya nggak feasible kalau kebanyakan.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads