Kisah I Gusti Ngurah Putra Ingin Bangkitkan Nindya Karya

Wawancara Khusus

Kisah I Gusti Ngurah Putra Ingin Bangkitkan Nindya Karya

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 23 Okt 2013 11:01 WIB
Kisah I Gusti Ngurah Putra Ingin Bangkitkan Nindya Karya
Jakarta -

BUMN konstruksi PT Nindya Karya (Persero) telah menghadapi tuntutan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) selama 3 kali. Meskipun akhirnya Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan PKPU dari pihak supplier, PT Uzin Uts Indonesia (UUI).

Aksi tuntutan tetap dilayangkan kembali meskipun Nindya Karya telah melakukan upaya pelunasan namun ditolak si pemohon PKPU.

Aksi permohonan PKPU tidak lepas dari kinerja perseroan yang terpuruk sebelum dilakukan program restrukturisasi mulai 2011. Berangkat dari program restrukturisasi, saat ini Nindya Karya yang berada di bawah pengawasan PT Perusahaan Pengelola Aset (persero) mulai bangkit. Banyak proyek besar yang dikerjakan seperti jembatan sepanjang 1,8 Km di terminal peti kemas Teluk Lamong, Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga proyek raksasa yang bakal diikuti Nindya Karya adalah pengembangan jalan tol di atas laut Jakarta-Surabaya bersama konsorsium BUMN.

Mau tahu bagaimana kondisi Nindya Karya saat ini dan apa yang akan dicapai perseroan ke depan. Berikut hasil petikan wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Nindya Karya I Gusti Ngurah Putra di Jakarta, Selasa (22/10/2013)

Β 
Bagaimana pandangan Nindya Karya menanggapi seringnya kena tuntutan PKPU?

Kalau kita manajemen maunya dengan membangun korporasi nggak bisa sendiri harus ada mitra. Karena perusahaan ini kalau nggak ada mitra supplier dan sub kontraktor itu sulit hidup. Jadi kita harus membina mitra dan bangun bersama.

Kaitan dengan ini selesai. Kita siap selesaikan mari kita bangun kembali. Kita berharap begitu pertama berusaha untuk datang untuk menyelesaikan dan membayar tapi kita nggak diterima terus bagaimana.

Β 
Dari versi pemohon PKPU. Utang baru dibayarkan oleh Nindya Karya pasca diajukan PKPU?

Utang itu kan sudah 5 tahun kebetulan kita baru. Namanya perusahaan bisa keselip. Manajemen baru nggak pernah menerima komplain dari dia.

Yang ada kemaren tanggal 10 Juli konfirmasi datang. Kita lakukan inventarisasi utang-utang. Kita mau menyelesaikan utang. Terus kita malah mau di PKPU-kan. Kita kaget. Justru kita mau menyelesaikan dan nggak ada niatan lain.

31 Juli coba selesaikan utang lama sudah ada konfirmasi ternyata pertama kita transfer. Uzin itu balik lagi. Kita ulang lagi trasnfer lagi tanggal 2 tapi tidak bisa. Terus 12 Agustus kita dapat panggilan terus tanggal 13 sidang. Bank menginformasikan sebelum tanggal 12, nggak bisa bayar karena rekening sudah ditutup.

Dengan begitu kami berpikir PKPU ada maksud nggak baik kenapa ditutup. Kita berasumsi begitu. Hasil PKPU pertama ditolak terus kita minta nomor rekening ke Uzin. Dibawa dengan orang Nindya Karya di sana ternyata nggak mau terima karena ada kop surat Nindya Karya.

Karena nggak mau terima, kita balik lagi. Kita kirim surat dan isi suratnya kita mau bayar. Mana rekeningnnya. Surat kedua dikirim juga nggak direspons. Terus masuk PKPU ke-2.

Sampai putusan selesai, masih di pengadilan. PKPU 2 mereka ditolak. Tidak ada bahasa bunga disitu. Pada PKPU ke-3, dia kan infonya dari hakim minta mediasi. Mereka mengajukan Rp 1,6 miliar. Secara formal mereka nggak ajukan di PKPU. Itu 5 kali tuntutan.


Pasca tuntutan yang berulang kali ini. Apa langkah direksi Nindya Karya?

Kalau sudah mengganggu. Kita terganggu konsentrasi. Apalagi ke mitra. Kita dikira betulan. Ini hanya Rp 300 juta mengganggu operasional. Kita sudah minta lawyer ini selesaikan baik-baik. Kita juga kordinasi dengan Kementerian BUMN.

Masih adakah utang serupa seperti PT Uzi di Nindya Karya?

Itu sudah nggak ada. Itu sudah bergulir semua. Berita Nindya Karya di PKPU-kan ada di mana-mana. Itu luar biasa. Tapi nggak ada mitra kita yang komplain karena pembayaran selama ini lancar. Nah ini Uzin kita klarifikasi semua utang-utangnya yang menjadi ganjalan. Tujuan kita kan mengklarifikasi. Itu ternyata digunakan untuk gugat ke PKPU

Sebetulnya Nidya Karya saat kondisi keuangan kurang baik seperti apa?

Namanya perusahaan ada pasang surut. Saat kita masuk ke sini. Kita sedang restrukturisasi perusahaan ini. Restrukturisasi ini ada 3 pilar. Paling penting bidang keuangan, kedua di bidang organisasi dan SDM dan yang ke-3 menyederhanakan sistem.

Restrukturisasi ini selesai tanggal 14 September 2012. Sekarang kita ingin perusahaan lebih stabil. Kita tingkatkan kapasitasnya. Satu-satunya keuangan sudah selesai. Sistem masih berjalan. Organisasi kita sangat fleksibel. Kita ikuti pasar.

Yang sekarang sedang berjalan kita dekatkan mengenai pembinaan SDM. SDM yang dibaca datanya. Nindya Karya pada beberapa periode nggak rekrut. Karena kita mau agresif kita mau membangun SDM jauh lebih besar.

Kondisi SDM di Nindya Karya sekarang bagaimana?

Kalau karyawan tetap 350 orang tapi yang PKWT (kontrak) jumlahnya segitu. Dan penambahan akan dilakukan terus. Ini tergantung proyek banyak. Jadi kenapa nggak tambah.

Kinerja keuangan Nindya Karya saat ini bagaimana?

Target kontrak tahun ini Rp 4,5 triliun. Itu bookorder. Carry over Rp 1,7 triliun. Nilai Pendapatan atau produksi Rp 2,6 triliun. Laba bawahnya Rp 40 miliar. Pencapaian kontrak sampai sekarang sudah 80% dibandingkan tahun lalu.

Kontrak tahun lalu Rp 2,4 triliun sampai akhir tahun. Laba di bawah tahun lalu sekitar Rp 32 miliar. Pendapatan tahun lalu Rp 2,5 triliun. Belanja modal Nindya Karya tahun ini Rp 40 miliar untuk pembelian alat, persiapan gudang dan perbaikan kantor. Semantara untuk anak perusahaan kita belanja modalnya Rp 51 miliar. Itu sudah kontrak.

Bisa diceritakan soal aksi korporasi Nindya Karya?

Kalau aksi kan dari aksi baru dapet proyek. Sebetulnya aksi korporasi itu melakukan restrukturisasi 3 pilar. Dengan sudah selesai total keuangan. Kita akan tinggal menyelesaikan organisasi, budaya perusahaan. Kita pure profesional. Sistem juga kita update supaya nggak menghambat operasional.

Secara bisnis untuk memperkuat daya saing, kita harus memperkuat kepercayaan kepada mitra. Kalau mitra nggak percaya mereka nggak mau support. Kalau mereka nggak mau support maka harga penawaran kita pun jadi mahal.

Kedua untuk mempertinggi daya saing. Kita improve metode kerja kita. Yang paling hebat aksi korporasi untuk meningkatkan daya saing. Kita bangun anak perusahaan di industri hulunya.

Kita bangun pabrik beton. Ini progresnya sudah 70%. Akhir tahun ini diharapkan sudah komisioning. Itulah aksi korporasi ke depan. Sehingga untuk mencari proyek perlu aksi tadi.

Bagaimana portofolio perusahaan. Kalau proyek nasional tentu kita buat cabang di seluruh Indonesia. Cabang itu dikoordinir oleh 5 divisi. Yang ke-2 kita mulai masuk EPC untuk perkuat portofolio.

Selain itu kita ingin mengoptimalkan keinginan untuk bekerjasama sinergi BUMN. Itu yang sasaran kita. Nanti baru detail proyek yang kita peroleh seperti apa.

Bisa diperjelas perincian kontrak yang diperoleh Nindya Karya?

EPC dan kontrak konvensional. Itu sama saja. EPC itu engineering dari kita kalau procurement sama juga. Sekarang 15% dari total kontrak itu EPC. Kontrak diperoleh? Kita mendesain SPBG. Terus desain alignment pipa gas yang lewat di Lenteng Agung. Itu EPC juga. Dulu kita buat PLTM 1,5 MW. Di Sulawesi ada 2.

Proyek bergengsi apa yang telah dan sedang dikerjakan Nindya Karya?

Nindya Karya bangun bendungan berpengalaman, jalan tol pengalaman, oil and gas berpengalaman. Jembatan Antasari juga. Mungkin dulu kesempatannya belum karena modal Nindya Karya paling kecil. Dari yang gede-gede itu. Kalau kemampuan organisasi cukup cuma kapasitas perlu ditingkatkan. Dari orang, duit dan alat itu yang perlu kita tingkatkan terus.

Sinergi BUMN yang sudah diciptakan?

Yang bikin rumah sakit di KBN itu salah satu sinergi BUMN.

Terkait ide sinergi jalan tol Jakarta-Surabaya dan pembangkit BUMN. Peran Nindya Karya di sana bagaimana?

Kalau yang tol itu kita ikut dan tanda tangan dari 19 BUMN. Kalau powerplant belum.

Mungkinkah proyek jalan tol di atas laut ini diwujudkan?

Kalau yang namanya proyek di pinggir pantai. Yang di dalam pantai seperti Suramadu saja mungkin. Kenapa nggak mungkin cuma izinnya. Pak menteri (Dahlan Iskan) kan sudah bilang izinnnya sulit. Kalau Nindya Karya sangat berpengalaman. Nindya Karya baru saja menyelesaikan jembatan di Surabaya di Pelindo hampir 1,8 KM. Itu di Telok Lamong. Jadi Nindya Karya sangat mampu.


Terkait himbaun Menteri BUMN untuk tidak tergantung proyek pemerintah?

Pak Menteri menyampaikan jangan cari proyek dengan nyogok-nyogok. Kalau kita nggak cari proyek pemerintah. Yang kerjakan proyeknya siapa? Tenderlah sesuai aturan. Kita buat surat edaran untuk mengikuti proses. Kita sudah buat surat edaran untuk ikut code of conduct sehingga berbisnislah dengan benar.

Pokoknnya jangan diulang. Harus dibedakan sistem yang dibangun perusahaan dan tingkah laku personal. Dari dulu nggak ada sistem yang nyuruh nyogok.

Bisa dijelaskan berapa persen porsi proyek pemerintah dan swasta?

Yang besar itu BUMN. Itu dari Pelindo, Angkasa Pura, ASDP, KBN kemaren ada dari Pusri. Semen Tonasa dan Semen Baturaja. Itu mayoritas dari BUMN. Lebih besar BUMN dari pemerintah. Kita nggak ambil proyek swasta.

Adakah rencana Nindya Karya untuk IPO?

Kita belum 1 tahun di PPA (Perusahaan Pengelola Aset). Setelah kita settle. Kalau kita ngomong IPO perusahaan ini harus sustain. Kalau sustain nilai perusahaan ini baru tinggi. Kita juga ingin. Mungkin perusahaan terbuka lebih open. Tapi keputusan ada di pemerintah. Karena ini menyangkut izin di DPR juga.

Saat ini 99% saham Nindya Karya di bawah PPA, Adakah rencana lepas dari PPA?

Kalau program lepas dari PPA di 2019. Karena ada UU PT. Perusahaan boleh buyback hanya 10% dari modal. Itu boleh buyback kalau saldo rugi sudah positif. Kita perkirakan sudah mulai positif start 2015. Angsuran mulai 2016 karena laporannya di 2015.

Kalau laporan keuangan saldo rugi akumulasi. Sekarang Rp 300 miliar sudah dikurangi Rp 30 miliar. Itu proses buyback sampai 2019. Kalau kasus di Waskita, di BUMN kan dulu oleh pemerintah. Saham PPA diambil oleh pemerintah. Setelah jadi BUMN dulu baru dijual (IPO).

Bagaimana tantangan memimpin perusahaan sakit?

Yang penting semua orang yakin dan punya motivasi tinggi. Kita konsentrasi penuh bangun perusahaan. Ini satu terkandala karena beberapa tahun rekrut. Ini regenerasi sulit.

Bagaimana mimpi direksi terhadap Nindya Karya ke depan?

Kita ingin tumbuh lebih. Misalkan orang lain tumbuh 25%. Kita mau tumbuh 30%. Mimpi Nindya Karya selalu tumbuh di atas industri rata-rata. Untuk itu kita perkuat portofolio bisnis.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads