Batal Akuisisi BTN, Bank Mandiri Tetap Ingin Jadi Terbesar di ASEAN

Wawancara Dirut Bank Mandiri

Batal Akuisisi BTN, Bank Mandiri Tetap Ingin Jadi Terbesar di ASEAN

- detikFinance
Kamis, 05 Jun 2014 08:05 WIB
Batal Akuisisi BTN, Bank Mandiri Tetap Ingin Jadi Terbesar di ASEAN
Jakarta - Sebagai bank terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) punya mimpi untuk menjadi bank berkapitalisasi paling besar di ASEAN di 2020. Banyak cara yang bisa ditempuh menuju target ini.

Bank pelat merah ini sekarang dipimpin oleh Budi Gunadi Sadikin yang menjabat sebagai direktur utama. Pria kelahiran 1964 ini tidak mengawali karir di dunia keuangan.

Setelah lulus dari Teknik Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi berkarir di IBM dengan jabatan Staff Sistem Informasi Asia Pacific di Tokyo, Jepang. Karirnya di dunia finansial dimulai saat ia bergabung dengan Bank Bali di awal 90-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ditemui detikFinance di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/6/2014), Budi yang mulai bergabung dengan Bank Mandiri pada 2006 lalu ini bercerita mengenai batalnya akuisisi BTN, pengaruhnya ke target jadi bank dengan kapitalisasi terbesar di ASEAN, tertutupnya opsi cari modal di lantai bursa, sampai fee OJK yang terbesar di antara perusahaan keuangan lain.

Simak hasil wawancaranya secara lengkap di bawah ini.

Presiden baru nanti, baik itu Jokowi atau Prabowo, mendukung pembangunan infrastruktur. Apa ini bisa jadi peluang bagi Bank Mandiri untuk menggenjot kredit di sektor itu?
Ya memang infrastruktur itu kan korelasinya dengan pertumbuhan ekonomi, GDP (Gross Domestic Product), ini sudah jelas. Sehingga memang dibutuhkan pembangunan infrastruktur.

Bank Mandiri sendiri melihat itu sebagai opportunity. Cuma saya ada catatan sedikit. Catatan yang pertama adalah pertumbuhan infrastruktur itu membutuhkan dana. Sekarang likuiditas perbankan ketat sekali.

Karena perbankan Indonesia udah di atas 90% LDR-nya (Loan to Deposit Ratio). Padahal untuk kita support pertumbuhan GDP, kasarnya misalnya 6%, inflasi misalnya 6%, jadi total growth itu real-nya jadi 12%, itu dibutuhkan pertumbuhan kredit 150%. Inflasi dikali growth dikali kredit itu butuhnya 18%.

Nah, dana yang ada di sistem perbankan Indonesia sekarang sudah berat untuk support pertunbuhan kredit 18% ke atas. Karena itu tadi, karena ketat.

Banyak yang bertanya, kok Indonesia negara besar, negara kaya, kok susah bener sih uangnya. Padahal penetrasi loan to GPD kita juga masih rendah, masih sekitar 30%. Masalahnya di mana?

Ada dua masalah besar yang harus di-address untuk bisa men-support pembangunan infrstruktur yang membutuhkan dana besar. Yang pertama, kita negara kaya, perusahaan kaya, orang kaya juga ada, tapi uangnya itu tidak di sistem perbankan Indonesia.

Masih besar sekali yang ada di sistem perbankan Singapura. Itu yang perlu kita pikirkan bagaimana kita membawa uang-uang itu kembali ke Indonesia supaya bisa kita pakai untuk pembangunan.

Yang kedua adalah, banyak uang-uang (dalam negeri) juga belum masuk ke sistem perbankan. Dari 260 juta rakyat Indonesia mungkin yang punya rekening sekarang baru 50-60 juta. Jadi uangnya itu masih dalam bentuk non giral, dalam bentuk uang tunai.

Padahal kalau dalam bentuk masuk ke tabungan itu bisa jadi dipakai untuk bank ngasih kredit. Kredit ini yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi. Dulu waktu zaman Pak Harto (Presiden RI kedua, Soeharto) pernah ada yang namanya Tabanas.

Secara masif rakyat Indonesia diajari untuk menabung. Nah, berkat itu masuk nasabah-nasabah baru, dan uangnya masuk ke sistem perbankan dan bisa dipakai untuk mendukung pembangunan. Isunya untuk pembangunan infrastruktur ke depan itu. kalau dilihat dari sisi perbankan, kita membutuhkan pendanaan yang cukup yang bisa men-support pembangunan infrastruktur.

Contohnya, PLN saja butuh Rp 90 triliun per tahun untuk bangun segala macam. Ini besar kan, dari mana dia dapat sebesar itu? Bank Mandiri sebagai bank (dengan aset) terbesar tidak sanggup financing, 30% dari nilai itu saja tidak sanggup, apalagi bank lain.

Apa ada strategi khusus dari Bank Mandiri untuk menarik dana-dana tersebut supaya masuk ke sistem perbankan?
Memang yang utama itu lebih ke pemerintah. Itulah kenapa sebabnya kita ingin juga membuka cabang di Singapura supaya bisa lebih memahami lah. Kita juga sudah tahu dan sudah mendengar kenapa nasabah lebih comfortable taruh uang di sana, ada beberapa issue dari sisi hukum, dari sisi pajak yang memang harus kita address.

Tapi kita memang ingin juga meyakinkan mereka kalau uang itu bisa ditaruh di sini akan lebih produktif untuk Indonesia. Yang kedua, yang bisa kita pegang langsung adalah kita harus buka cabang lebih banyak, supaya bisa menjangkau masyarakat Indonesia untuk bisa buka rekening.

Saya kasih contoh misalnya saya punya pembantu, saya punya tukang kebun, mereka tidak punya rekening bank. Itu di dalam kota, apalagi yang di desa-desa.

Sebenarnya kita bisa meniru industri telekomunikasi. Dulu telepon rumah dan kantor itu ada 30 juta sampai sekarang jumlahnya segitu tidak maju-maju. Tapi kemudian keluar teknologi mobile di 1994 sampai sekarang 20 tahun itu sudah penetrate 200 juta sudah ada.

Ya itu tadi, pembantu saya tidak punya rekening bank tapi handphone dia punya. Artinya penetrasinya lebih bagus kan. Langkah yang bisa Bank Mandiri lakukan adalah kita mau masuk ke layanan bank menggunakan teknologi mobile ini.

Itu kemarin izinnya dari BI (Bank Indonesia) sudah keluar, layanan keuangan digital kalau tidak salah namanya. Kemudian sudah didukung OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga dengan aturan branchless banking. Ini sebenarnya konsep yang kita bicarakan bersama OJK dan BI. Untuk bisa mengakselerasi penambahan nasabah perbankan secara lebih cepat.

Apakah tidak hanya Bank Mandiri, bank lain bagaimana?
Ada beberapa bank lain juga yang sudah memikirkan ke arah sana, tapi bank besarnya sih kita.

Sudah sejauh mana peranan Bank Mandiri di sini?
Kita sudah mulai lakukan sejak tahun lalu, tapi memang perlu izin dari OJK dan BI. Regulator kan sifatnya konservatif, jadi mesti memastikan banknya siap dan punya infrastruktur yang mendukung sehingga bisa melakukan layanan baru ini, dan akhirnya sudah keluar itu regulasinya.

Jadi Bank Mandiri akan tumbuh melalui jaringan yang luas, tapi kan ada target untuk jadi bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di ASEAN. Saat ini posisi market capitalizationnya di mana?
Saat ini kita sekarang sekitar US$ 20-21 miliar. Yang terbesar kan DBS di US$ 30 miliar. Nanti di tahun 2020 kita ingin kejar sampai US$ 55 miliar untuk bisa memastikan jadi nomor satu.

Dan itu tidak butuh aset yang besar. Yang penting return to equity sama sustainable profit. Karena kalau profit besar otomatis market cap kita lebih besar juga. Buat saya profit lebih penting.

Jadi jaringan akan lebih diperluas?
Kenapa kita harus buka jaringan karena saya lihat potensi bisnisnya besar sekali. Jadi begini, kita perluas jaringan untuk nambah profit, nanti kalau profit nambah berarti equity kita juga nambah.

Kenapa buka di Indonesia, karena Indonesia opportunity-nya paling besar dan penetrasi masih rendah. Loan to GDP sekitra 30%-an saving to GDP 40%-an kalau dihitung Malaysia, Singapura, sudah 100%-an ke atas.

Jadi sudah jenuh sebenarnya. Jadi kalau kita spend investasi di sana (Malaysia dan Singapura) maka return-nya akan lebih kecil dibandingkan kita spend di sini.

Jadi batalnya akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) itu tidak pengaruh terhadap target ASEAN ini?
Sebenarnya BTN itu lebih ke permodalannya ya. Untuk bisa ekspansi sampai capai target kapitalisasi besar, bank itu kan bahan bakunya likuiditas sama modal. Karena kalau kita mau tumbuh maka modalnya harus ikut. Kan ada aturannya yang soal CAR itu.

Jadi kalau jadi beli BTN kan dapat modal lebih besar, nah itu semakin dekat ke target market cap terbesar di Asia dong?
Lebih deket. Saya kasih contoh begini kenapa kita perlu nambah modal. PLN itu nasabah kita, butuh investasi Rp 90 triliun per tahun. sekitar Rp 40 triliun untuk transmisi, Rp 40 triliun untuk power plant, Rp 10 triliun untuk lain-lain.

Bank Mandiri sebagai bank terbesar kita hanya bisa support investasi PLN itu paling Rp 25 triliun, karena modal kita kan hanya Rp 85 triliun. Kalau kita hanya sanggup Rp 25 triliun, bank-bank lain pasti lebih kecil dari kita. Jadi tidak mungkin cukup.

Nah, itu yang seharusnya dilakukan. Karena perusahaan-perusahaan di Indonesia itu bisnisnya sudah makin besar dan itu kan butuh dukungan perbankan. Kalau perbankan modalnya tidak kuat, ya tidak bisa dukung.

Secara permodalan posisi Bank Mandiri sekarang bagaimana?
Di Indonesia kita lebih besar, tapi di Asia itu mungkin sekitar nomor 12 atau 13, kecil sekali. Ini yang harus ditingkatkan. Di dalam negeri paling besar.

Jadi setelah BTN gagal, Bank Mandiri akan mengincar bank lain?
Kalau kita selalu terbuka opportunity anorganik karena itu memang yang dibutuhkan untuk menguatkan modal. Karena sebenarnya cara tambah modal itu ada tiga.

Satu dari laba ditahan. Cuma kita kan biasanya 30% diminta sebagai dividen. Kemarin untung kita Rp 18 triliun, ya 70%-nya bisa kita tahan atau sekitar Rp 13,6 triliun. Modal kita pun nambah setiap tahun.

Kalau itu kita asumsikan 12% jadi kita hanya bisa ekspansi hanya sekitar Rp 100 triliun per tahun. Itu PLN saja butuh Rp 90 triliun, belum perusahaan lain. Nanti bisa habis, kita kan jadi tidak bisa dukung mereka.

Tapi kalau hanya begini kita bisa kalah dari bank-bank Asia yang modalnya naik tinggi tiap tahun. Nah, bisa tidak kita kalau mengejar mereka dengan tambahan modal yang lebih tinggi? Ada dua yang bisa kita lakukan.

Pertama, dengan rights issue. Kemarin Bank Mandiri rights issue dapat Rp 12 triliun, nanti mungkin berikutnya bisa Rp 15 triliun, langsung naik lah itu modalnya. Kita bisa saja ambil rights issue lagi Rp 20 triliun karena sebenarnya market suka sama kita.

Problem-nya adalah kalau kita rights issue, kan pemerintah juga harus beli. Kalau tidak beli kan terdilusi. Pemerintah tidak mau terdilusi, dia tidak mau turun dari 60% ownership. Sekarang pemerintah sudah 60%.

Dan pemerintah kan tidak punya uang. Jadi kalau kita mau raise Rp 20 triliun, pemerintah sebagai pemegang saham 60% harus setor Rp 12 triliun. Nah itu akibatnya opsi ini jadi tertutup buat kita. Sayang sekali, padahal sebenarnya bisa.

Alternatif kedua adalah konsolidasi, ya itu tadi. Dan ini terjadi di seluruh dunia. Dulu Singapura banknya 10, lalu jadi 8 kemudian 5 dan terus jadi 3. Itu supaya tumbuhnya cepat dan size-nya bersaing.

Sehingga nanti masyarakat ekonomi ASEAN akan merasakan untungnya. Bukan di 2015 tapi di 2020. Jadi sebenarnya kita masih punya waktu 5 tahun untuk bisa untuk bisa mempersiapkan diri.

Kalau kita bisa konsolidasi sekarang nanti diharapkan 2020 sudah siap. Kalau tidak siap nanti kita kalah kelas. Sekaran kita tinju kelas ringan masih sanggup, tiba-tiba di 2020 disuruh tanding masuk kelas berat tapi tidak ada persiapan langsung masuk ring, ya kalah.

Ada usulan untuk mengurangi setoran dividen ke pemerintah, jangan 30% tapi dikurangi, tanggapan Bank Mandiri bagaimana?
Kalau saya ditanya sebagai profesional untuk bisnis dan menjaga sistem perbankan kita kuat dan kita juga bisa ekspansi memang sebaiknya seminimum mungkin. Tapi kita juga paham, pemerintah dari sisi fiskal sedang berat karena subsidi. Dan kita juga milik pemerintah, jadi saya bisa memahami kalau owner membutuhkan itu untuk yang lain.

Porsi 30% itu sebenarnya besar atau tidak?
Iya. Uangnya itu yang 30% situ sebenarnya kalau ditaruh di bank bisa digunakan untuk ekspansi produktif. Tapi kalau dipakai untuk ke pemerintah itu dipakai untuk bayar gaji (PNS). Kalau kita pakai kan bisa untuk bangun infrastruktur, lebih jelas.

Jadi idealnya dividen berapa?
Kita waktu itu bicara di sekitar 20%-an. Pernah disampaikan tapi akhirnya ditolak juga, karena pemerintah butuh (uang).

Tantangan buat Bank Mandiri di tahun Pemilu?
Kita sudah lihat di 2004-2009 ya, oke kok. Sudah tidak ada korelasi yang serius antara ekonomi dan politik kita. Malah pada tahun-tahun pemilu biasanya bisnis bergairah. Banyak orang pesan kaos, pasang iklan, coba saja lihat. Banyak perusahaan income-nya naik.

Tahun Pemilu mempengaruhi ke target kredit tahun ini?
Mungkin kredit konsumsi iya, karena orang banyak spending. Seperti tukang kaos, tukang sablon. Tapi sebenarnya yang lebih pengaruh ke sistem perbankan adalah situasi ekonomi, sekarang kan lagi berat realtif dibandingkan tahun lalu. Target pertumbuhan kredit 17%-an sampai Rp 400 triliunan.

Porsi kredit terbesar di mana?
Sekarang sudah di commercial dan SME (Small Medium Enterprises/UKM). Kalau dulu kan korporasi. Sekarang kalau dari sisi portofolio sudah 40%-60% paling banyak di commercial.

Kalau dilihat dari aset Bank Mandiri posisi tahun lalu, itu bayar fee ke OJK bisa sampai Rp 200 miliar lebih, tanggapannya bagaimana?
Kita ini yang paling besar (setor). Kalau saya lihat aturan itu sudah ada ya, mengubahnya juga susah. Jadi jalan saja lah. Memang lumayan besar.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads