Sri Mulyani kemudian digantikan oleh Agus Martowardojo, eks Direktur Utama Bank Mandiri. Pada 2013, Agus kemudian berpindah menjadi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Darmin Nasution.
Jabatan menkeu pun sempat dirangkap oleh Hatta Rajasa, yang kala itu masih sebagai menko perekonomian. Tak lama, Presiden SBY pun akhirnya menunjuk Chatib Basri sebagai menkeu, sampai sekarang.
Berjalan hingga sekarang, ternyata mantan kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini menyimpan banyak cerita dalam jabatannya. Terutama dalam proses pengambilan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Lalu bagaimana Chatib melaluinya? Apa yang harus dilakukannya untuk beradaptasi dengan lingkungan Kementerian Keuangan?
Berikut adalah petikan wawancara khusus detikFinance dengan Chatib Basri di kantor Kemenkeu, Gedung Djuanda, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014):
Terpilih menjadi Menkeu, apa yang anda pikirkan saat itu?
Saya sebetulnya bukan orang baru di sini. Saya di sini sudah sejak 2005 akhir sampai 2010, pas Ibu Sri Mulyani resign. Saya mungkin termasuk menkeu yang tak punya waktu untuk melakukan penyesuaian.
Saya diangkat jadi menteri sekitar bulan Mei 2013, besoknya saya harus langusng ke DPR untuk menaikkan harga BBM. Itu nggak pernah ada selang satu hari pun. Saya ingat waktu itu saya pelantikan siang, serah terima dan langsung rapat dengan eselon I yang datang dengan bahan untuk dipersentasikan di DPR, untuk naikin harga BBM.
Tidak ada kesulitan untuk beradaptasi?
Jadi sebetulnya proses penyesuaiannya, saya cukup beruntung saya sudah belajar di 2006 sampai 2010. Jadi ketika masuk sini tinggal refresh memori saja. Persoalan di Kemenkeu itu more or less hampir sama. Isunya masih sekitar itu saja, mungkin setting-nya saja yang sedikit beda.
Dalam arti kata 2 tahun terakhir beda karena jelang pemilu, sehingga politiknya lebih tough. Lihat saja proses di DPR bisa banggar raker 5 kali sehari. Tapi dari sisi subtansi itu hal-hal yang sama dengan sebelumnya. Jadi saya sebetulnya cukup beruntung untuk penyesuaian itu terjadi ketika itu dan bisa langsung tune in.
Bagaimana keseharian setelah menjadi Menkeu?
Saya itu sering dibawain koper kalau pulang. Sekarang untung sudah agak lumayan. Itu dulu kopernya ada dua yang isinya nota dinas dan saya harus tanda tangan. Itu ditaruh di koper saking banyaknya. Beda dengan sekarang sudah lumayan. Itu kemarin saja pulang saya tetap Sabtu-Minggu itu untuk begitu. Tapi karena makin hari makin familiar dengan hal ini, tapi kan tetap harus hati-hati. Jadi dari segi waktu, bawa ke rumah pasti.
Bagaimana saat 2013, ketika pasar keuangan mengalami koreksi cukup dalam?
Apalagi waktu 2013. Waktu rupiah overshoot itu marketnya panik. Orang waktu itu bicara Indonesia kembali ke krisis 1998. Lihat saja. Itu kan kalau pemerintah ngomong orang kan nggak akan percaya. Saya bilang ini kita keluarkan paketnya, itu semua investor dan media bilang ini nggak efektif. Baru disampikan pada konfrensi pers saja itu dibilang nggak efektif. itu kan menimbulkan preasure.
Saya mempunyai aplikasi di ponsel untuk memantau rupiah dan bond. Saya mesti monitor terus. Preasure itu menjadi sangat kuat, apalagi saat tappering off itu setiap waktu saya harus monitor. Itu kan rapat FOMC (Federal Open Market Committee) diputuskan jam 2 pagi. Saya ingat pada waktu itu akan pertemuan APEC di Bali, September.
Bagaimana komunikasi dengan lembaga lain saat itu?
Itu saya harus komunikasi yang intensif dengan Gubernur BI Agus Martowardojo, Ketua DK OJK Muliaman D Haddad juga. Tapi terutama Pak Agus. Kalau ada perkembangan apa, pagi-pagi saya langsung telepon. Untungnya Gubernur BI kenal lama dengan saya.
Kan kadang-kadang dia muncul di sini, saya muncul di BI. Saya bilang "Mas kondisinya begini, kayaknya kita mesti koordinasi". Jadi pada periode itu betul-betul high. Sekarang agak lumayan. Apalagi kalau kemudian APBN P. Saya bisa sampai jam berapa, kemarin kita sampai jam 11.00 malam.
Apakah pekerjaan sampai terbawa ke rumah?
Pasti akan kebawa ke rumah. Makanya saya kalau Sabtu atau Minggu usahakan tidak. Tapi pertemuan dengan DPR saja waktu itu hari minggu. Itu harus dilakukan.
Bagaimana kalau nanti ditawari kembali menjadi menteri di pemerintahan baru?
Saya nggak berpikir itu. Saya konsentrasi, saya mesti jaga fiskal. Saya serius. Ini kan anggaran kita nggak gampang.
Mengapa tidak gampang?
Fluktuasi dari ekternal dan kurs masih ada. Jadi yang paling mungkin adalah bagaimana menjaga defisitnya di bawah 2,4%. Itu satu.
Kemudian kedua adalah tappering off itu kemungkinan berakhir akhir tahun 2014, fundamental ini yang mesti harus disiapkan. Jadi nanti menkeu baru ketika masuk itu dia nggak kaget-kaget berada di situasi yang tidak bagus. Itu kenapa kemaren saya perjuangkan APBN-P.
Sebetulnya dilihat dari sisi pemerintahan sekarang, toh ini akan berakhir Oktober. Sampai begitu ketatnya perdebatan di DPR, jadi nggak, nyaris deadlock segala macam, itu untuk menjaga fiskalnya kalau pemerintahan baru masuk itu aman. Kemudian nanti di Januari itu bisa merubah APBN nya dengan yang lebih baik fokus saya kesana.
Apa yang ada di pikiran Bapak sekarang?
Saya mau libur. Mengerjakan yang begini, coba pada saat tappering off itu, harus berhadapan dengan BBM dan tappering off, APEC, G20. Kemudian di mana globalnya juga betul-betul sesuatu yang jadi pengalaman. Makanya kalau ditanya apa yang ada dalam pikiran saya, saya mau libur.
(hds/ang)











































