Bukan Dukun, Chatib Basri Ramalkan Suku Bunga di AS Naik Tahun Depan

Wawancara Menkeu Chatib Basri

Bukan Dukun, Chatib Basri Ramalkan Suku Bunga di AS Naik Tahun Depan

- detikFinance
Rabu, 16 Jul 2014 08:40 WIB
Bukan Dukun, Chatib Basri Ramalkan Suku Bunga di AS Naik Tahun Depan
Jakarta - Perekonomian Indonesia mengalami fluktuasi yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir. Banyak permasalahan yang harus dilalui setiap tahunnya.

Khususnya pada 2008, di mana terjadi krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang kemudian menjalar menjadi masalah global. Sampai saat ini, dampak krisis tersebut masih terasa.

Menteri Keuangan Chatib Basri dalam wawancaranya kepada detikFinance, Senin (14/7/2014) menjelaskan gambaran ekonomi setiap tahunnya. Berikut petikan wawancara saat ditemui di kantor Kemenkeu, Gedung Djuanda, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat:

Bagaimana Bapak melihat ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir?
Tahun 2006 sampai 2007 relatif oke. Tahun 2008 itu berat sekali, karena kita harus berhadapan dengan krisis global keuangan. Memang jauh lebih berat ketika dibandingkan tappering off kemarin karena waktu itu praktis globalnya kolaps. 

AS tumbuhnya negatif. Pertumbuhan ekonomi kita waku itu cuma sekitar 4,5%. Sisi lain itu likuiditas ketat sekali, makanya waktu berhadapan dengan tahun 2013, saya katakan ini situasinya tidak seberat 2008.

Jadi 2008 jauh lebih berat dibandingkan sekarang?
Saya cukup beruntung tahun 2008 karena saya terlibat langsung dalam handling isu makronya. Terutama pada waktu itu pada bagian saya adalah handle isu mengenai balance of payment, current account deficit (CAD). Jadi kalau lihat dari 2008 itu kondisinya lebih berat dari sekarang. 

Kalau isunya sama, apa itu berarti solusinya tidak ampuh?
Dalam 4 bulan setelah mengumumkan soal paket itu bulan Agustus, semua pada tanya apakah efektif? Efektif saya bilang, tapi kasih saya waktu 4 bulan. Termasuk juga ekonom bilang ini nggak akan efektif. 

Apa buktinya solusi yang dikeluarkan ampuh?
Buktinya kita keluar fragile five. Itu sebetulnya. Bukan karena saya tahu efektif begitu saja, tapi saya punya perbandingan dengan 2008, dan apa yang saya lakukan itu sesuatu yang mestinya kalau dilakukan selama nggak ada hal yang aneh sekali, itu akan begitu. Current account itu akan bisa ditangani. 

Apakah siklus perekonomian bisa diperkirakan?
Isunya itu predictable. Seperti saya bilang tiap kuartal II itu current account deficit naik, tetapi akan turun lagi. Bukan karena saya dukun, tapi itu sesuatu yang bisa dipelajari. Cuma kadang-kadang kan yang jadi soal itu bagaimana memberi edukasi untuk pasar. Karena pasar bergerak dalam hitungan jam dan hari. Jadi kadang-kadang dia nggak mau lihat apa yang terjadi di setiap bulan. Dia panik sekarang. Nah itu bagaimana kita meyakinkan itu. 

Kondisinya sekarang apakah lebih baik?
Jadi situasi sekarang itu back to normal. Kan di APBN-P itu asumsinya Rp 11.600-11.800 per doolar AS. Itu adalah sesuatu yang kita predict. Tapi kan kadang market suka overshoot. Lalu dia lihat, pilpresnya aman dia bisa balik ke Rp 11.500 per dolar AS, tapi mungkin kalau sudah pasti, bisa lebih kuat lagi. Tapi sebetulnya fundamental kita ada di sekitar itu. 

Situasi yang normal ada situasi tanpa quantitative easing (QE). Kalau di cek lagi sebelum QE itu ada di level sekarang kira-kira. Tapi kenapa menguat sampai ke Rp 8.900 per dolar AS, karena ada QE. Akibatnya ada likuiditas dan kemudian tidak masuk ke AS dan masuknya ke emerging market, seperti Indonesia. Itu luar biasa naik bond-nya, tentu uangnya kembali ke normal. 

Makanya saya menyebut ini sebagai normalization dari monetary policy di AS. Nanti ini (tappering off) akan dilakukan lagi. Bukan karena saya dukun, ini akan berakhir Oktober -November 2014. Mungkin 6 bulan setelahnya, saya bisa salah ya, Yellen akan naikan interest rate.

Apa dampaknya kalau AS menaikkan suku bunga?
Nah, kalau nanti naikkan interest rate itu akan ada preasure lagi. Makanya dalam asumsi APBN 2015 kita taruh Rp 11.500-12.000 per dolar AS. Jadi sesuatu yang sebetulnya bisa diprediksi.

(hds/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads