Kala Chatib Basri Minta Kebijakan Mobil Murah Ditinjau Ulang

Wawancara Menkeu Chatib Basri

Kala Chatib Basri Minta Kebijakan Mobil Murah Ditinjau Ulang

- detikFinance
Rabu, 16 Jul 2014 14:05 WIB
Kala Chatib Basri Minta Kebijakan Mobil Murah Ditinjau Ulang
Jakarta - Kebijakan untuk memproduksi mobil murah ramah lingkungan alias low cost green car (LCGC) menuai banyak kritik. Banyak pihak yang kemudian mempertanyakan dampak dari kehadiran mobil terebut.

Di antaranya adalah perihal konsumsi bahan bakar. Kehadiran LCGC akan semakin menambah konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Belum lagi tambahan mobil di jalan raya tentunya menyebabkan kemacetan.

Menteri Keuangan Chatib Basri dalam wawancara dengan detikFinance, Senin (14/7/2014), menjelaskan asal usul aturan tersebut diterbitkan. Berikut petikan wawancaranya saat ditemui di kantor Kemenkeu, Gedung Djuanda, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal kebijakan LCGC, saat itu Anda baru menjabat menteri. Akhirnya banyak dikritik. Bagaimana tanggapan Anda?
LCGC itu adalah project yang sudah lama di siapkan, dan waktu itu saya belum di Kemenkeu terus terang. Jadi yang saya tahu adalah teman-teman di Kemenkeu itu sudah menyiapkan. Pada waktu itu masih Pak Agus Martowardojo (Menkeu) dan Pak MS Hidayat (Menperin).

Jadi saya yakin waktu itu dibuat sudah ada keyakinan ini akan cukup baik. Memang saya kira soal ekspansi produksi, saya menganggap bahwa itu valid. Terbukti waktu itu industri bisa tumbuh, investasi bertambah, dan tenaga kerja terserap. Objective (tujuan) untuk menciptakan lapangan kerja, kemudian untuk peningkatan investasi, saya kira tercapai.

Kemudian saya masuk ke Kemenkeu itu PP-nya sudah jadi. Selalu dianggap bahwa saya yang tanda tangan. Memang waktu itu saya masuk 2 hari setelah itu PP itu diterbitkan.

Benarkah LCGC akan ditinjau ulang?
Concern saya adalah kemudian adalah pengunaan BBM-nya. Saya terus minta ke BKF (Badan Kebijakan Fiskal) ini aturannya seperti apa sih? BKF menjawab itu ada aturannya tentang efisiensi energi. Makanya low cost green car. Jadi bensinnya lebih irit, 1 liter bisa 20 km sehingga permintaan konsumsi BBM nya turun. Makanya disebut green car.

Tapi pada saat yang sama saya berpikir, meskipun lebih irit, volume konsumsinya pasti naik. Jadi ini bisa berpengaruh kepada BBM-nya. Itu kemudian saya bilang coba deh review lagi. Kemudian saya kirim surat ke Kemenperin.

Apa kemudian LCGC bisa dicabut?
Jangan anggap saya menegasikan untuk mencabut program yang lalu, nggak sama sekali. Concern saya hanya pada BBM-nya. Waktu itu juga disampaikan menggunakan BBM non subsidi, apa yang bisa dilakukan? Makanya sempat ada ide mengenai nozel, ada ide mobilnya langsung mesinnya dibuat khusus untuk pertamax. Itu yang sekarang lagi dibahas, kan makan proses.

Sekarang volume kita dibatasin kan 46 juta kl. Nah makanya dilihat LCGC-nya gimana. Kalau dari segi investasi, penciptaan lapangan kerja, kan bagus. Tax revenue juga naik. Saya juga tidak ada rencana kemudian untuk menarik kembali. Saya cuma mau tanya ini mesti diapakan, kalau tidak sesuai baru dibahas kembali.

Target untuk menyelesaikan persoalan ini?
Saya minta, kan mereka bilang persoalannya begini kalau diganti nozelnya itu ada investasi baru. Apa yang bisa dilakukan? Problemnya cuma satu, kan cuma tinggal 3 bulan, kebijakan strategis itu tidak banyak yang bisa dilakukan. Jadi tergantung seberapa cepat selesai ya kita lakukan. Kalau nggak kan di pemerintahan selanjutnya. Dugaan saya, pemerintah selanjutnya mereka juga akan ada concern yang sama.

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads