Cerita Bos Blue Bird Soal Sulitnya Membuka Bisnis Taksi di Daerah

Cerita Bos Blue Bird Soal Sulitnya Membuka Bisnis Taksi di Daerah

- detikFinance
Senin, 21 Jul 2014 12:32 WIB
Cerita Bos Blue Bird Soal Sulitnya Membuka Bisnis Taksi di Daerah
Jakarta - Blue Bird merupakan perusahaan taksi yang besar. Perusahaan yang didirikan oleh Mutiara Djokosoetono ini memiliki sekitar 30 ribu unit taksi yang melayani 8,5 juta penumpang per bulan di seluruh Indonesia.

Kini, Blue Bird dipimpin oleh cucu dari sang pendiri. Namanya Bayu Priawan Djokosoetono. Bayu masih berusia muda, pria ini dilahirkan di Jakarta pada 24 Mei 1977.

Tidak hanya menjabat sebagai chairman di Blue Bird Group Holding, pria lulusan Monash University Melbourne, Australia, ini juga menjabat di posisi yang sama di Menara Alisya Group yang bergerak di bidang energi, properti, serta makanan-minuman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski banyak pesaing, Blue Bird mampu bertahan menjadi salah satu yang terbaik di bisnis taksi. Apa kira-kira dilakukan manajemen untuk menjaga dan meningkatkan daya saing perusahaan?

Simak dalam wawancara detikFinance dengan Bayu yang dilakukan pada Jumat (18/07/2014):

Dengan banyaknya perusahaan taksi di Indonesia saat ini, bagaimana Blue Bird menghadapi persaingan?
Saat awal membangun Blue Bird, kita berjibaku dan membuktikan kita bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Motto kami itu adalah ANDAL, yaitu Aman, Personalize, Mudah, itu motto service kami. Itu memiliki arti sendiri-sendiri seperti aman kita memberikan rasa yang aman dan supir terlatih dengan baik juga jujur. Kemudian ada mudah, yaitu taksi kita tersebar di mana-mana dan mudah dicari. Mudah didapat dan mudah dibayarnya juga baik dengan cash, voucher, dan menggunakan kartu kredit dan debit juga bisa.

Lalu personalize, itu artinya kita memberikan added service. Kita perlu konsentrasi yang tinggi untuk menciptakan ini semua. Kami ini makin tinggi jabatan di perusahaan makin besar untuk melayani semua. Seperti Blue Bird itu ada dua customer yaitu internal dan eksternal. Customer eksternal tentu adalah pelanggan kita, kalau internal itu pengemudi kita.

Mereka ada ujung tombak memberikan pelayanan kepada customer. Salah satu caranya adalah memberikan rasa nyaman baik kepada pekerja maupun kepada pelanggan kita. Khusus pengemudi, kita memberikan kesejahteraan kepada mereka dan kita melayani mereka. Jadi benefit-nya begitu.

Apakah itu cara perusahaan mendekatkan diri kepada pekerja?
Iya, lalu semua keputusan yang diambil perusahaan kami sifatnya buttom up bukan top down. Artinya setiap kali ada kebijakan seperti tarif dan operasional itu pengemudi dan serikat pekerja dilibatkan. Jadi ini supaya setiap kebijakan yang diambil perusahaan mereka berkontribusi juga.

Dalam waktu dekat apakah akan ada ekspansi ke berbagai daerah?
Yang sudah kita upayakan, contohnya Makassar memang kita mau buka. Tetapi belum karena masih dalam proses perizinan. Kemudian Yogyakarta kita ingin juga masuk ke sana. Kemudian kita ingin juga masuk ke Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur kita incar dan ingin kita buka ke sana. Lalu Lampung, kemudian Sulawesi lah, apakah Palu dan Kendari.

Ada tidak kendala Blue Bird berekspansi keluar daerah?
Tentu banyak. Biasanya kami kalau masuk ke luar daerah menjadi pihak yang inferior.

Kenapa?
Selalu terjadi perlawanan dan penolakan terhadap Blue Bird di daerah itu. Karena biasanya Blue Bird masuk itu industri taksi yang di sana tidak bagus karena tidak pakai argo, mobilnya tidak baik. Begitu kita masuk dengan standar pelayanan kita, tentu perusahaan lokal menolak. Tantangannya kita tidak pernah menjadi pihak yang mendapatkan prioritas. Contohnya di airport, taksi jenis lain boleh kita tidak boleh. Bahkan di beberapa daerah kita tidak boleh mengangkut penumpang sama sekali.

Apakah ini yang menjadikan Blue Bird sulit berekspansi?
Bukan karena itu, tetapi masalah utamanya adalah pemerintah. Kadang pemerintah daerah ada yang memberikan keleluasaan pada kami ada yang tidak. Jadi dari sisi pemerintah pun harus memiliki kesadaran kalau mereka ingin mengubah transportasi daratnya, ya harus menjalankan inovasi.

Ketika Blue Bird masuk ke sana akan memberikan dampak pada taksi-taksi yang beroperasi di daerah itu. Ketika kami masuk perusahaan taksi lain berubah melakukan peremajaan dan supir taksinya menjadi baik dan sebagainya. Jadi tidak pernah kita masuk industrinya makin jelek, justru semuanya melakukan perubahan. Jadi ada efek positifnya. Tetapi banyak kepala daerah yang takut Blue Bird menjadi rusuh.

(hds/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads