Soal Wacana Bikin Taksi Helikopter, Ini Jawaban Bos Blue Bird

Soal Wacana Bikin Taksi Helikopter, Ini Jawaban Bos Blue Bird

- detikFinance
Senin, 21 Jul 2014 14:15 WIB
Soal Wacana Bikin Taksi Helikopter, Ini Jawaban Bos Blue Bird
Jakarta - Indonesia merupakan negara dengan pasar yang sangat menjanjikan. Populasi yang besar dan kelas menengah yang terus tumbuh menjadi daya tarik bagi berbagai bisnis, termasuk transportasi.

Blue Bird merupakan salah satu perusahaan transportasi papan atas di Indonesia, terutama di bisnis taksi. Perusahaan yang didirikan oleh Mutiara Djokosoetono ini memiliki sekitar 30 ribu unit taksi yang melayani 8,5 juta penumpang per bulan di seluruh Indonesia.

Bayu Priawan Djokosoetono, Chairman Blue Bird Group Holding, menyatakan bahwa pasar dalam negeri sangat menjanjikan bagi bisnisnya. Bahkan sampai-sampai Blue Bird punya wacana untuk memiliki 'taksi udara'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapan Blue Bird bakal punya 'taksi udara'? Apakah Blue Bird berencana untuk go international? Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Bayu pada Jumat (18/07/2014):

Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, tantangannya seperti apa?
Yang terpenting menjaga kualitas dari pelayanan dan menjaga profesionalisme perusahaan kami. Dengan menjaga pelayanan dan komitmen perusahaan saya tidak khawatir dengan ASEAN Economic Community. Kecuali kalau kita lupa seharusnya kita tetap harus berinovasi, memberikan pelayanan yang terbaik. Jadi kita fokus masalah lain.

Ada rencana untuk ekspansi keluar negeri?
Saat ini belum, karena di Indonesia sendiri market-nya masih cukup luas dan kita fokus ke nasional dulu. Tetapi di luar memang banyak peluangnya, beberapa kali kita lihat contohnya Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, Vietnam, Brunei juga. Tetapi dalam pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga tumbuh dengan baik dengan adanya middle income growth. Di daerah pun berkembang dan dinamis masyarakatnya. Jadi Indonesia masih lebih.

Ada target kira-kira kapan bisa go international?
Sebetulnya prioritas kami jangan sampai fokus internasional tetapi kebutuhan lokal tidak terpenuhi. Jadi kapannya kita belum tahu dan bergantung apakah Indonesia sudah stagnan belum. Kalau stagnan mungkin saja, tetapi saat ini kebutuhannya masih cukup luar biasa. Dari ASEAN saja kita 40% populasi. Kuenya justru paling banyak ada di Indonesia, ngapain juga kita keluar?

Selain taksi, bisnis yang lain bagaimana?
Saat ini kami memiliki banyak anak usaha. Kita punya logistik, kita punya bus, kita juga punya juga jasa IT, properti, dan alat berat. Memang kita berharap terus mengembangkan. Tetapi nggak semuanya bagus, contohnya alat berat pertambangan, tidak sebagus 2-3 tahun lalu.

Kembali lagi ke taksi, katanya ada rencana untuk mengembangkan 'taksi udara'?
Ini wacana. Jakarta kota metropolitan. Karena Jakarta ini sudah cukup besar dan luas pertumbuhannya sedangkan jarak dari satu tempat ke tempat lain cukup jauh, apalagi dengan macet seperti ini, ada wacana kita sediakan alat transportasi udara untuk di kota. Tetapi ini masih wacana. Kita ingin menyatukan konsep jasa transportasi terpadu dari udara dan darat tetapi harus cukup infrastruktur untuk itu semua. Kita belum melakukan penelitian mendalam, FS (feasibility study) sudah kita lakukan. Kapannya saya belum bisa jawab. Ini helikopter.

(hds/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads