Kisah Bambang Susantono, dari PNS di PU Hingga Calon Menteri

Wawancara Khusus

Kisah Bambang Susantono, dari PNS di PU Hingga Calon Menteri

- detikFinance
Jumat, 29 Agu 2014 11:20 WIB
Kisah Bambang Susantono, dari PNS di PU Hingga Calon Menteri
Bambang Susantono, Wakil Menteri Perhubungan
Jakarta - Bambang Susantono, Wakil Menteri Perhubungan, adalah salah satu sosok yang cukup menonjol di pemerintahan saat ini. Mantan Deputi Menko Perekonomian ini mengawal sejumlah proyek infrastruktur perhubungan yang cukup vital, seperti jalur ganda kereta api (double track) Jakarta-Surabaya.

Tak heran Bambang digadang-gadang akan mengisi salah satu posisi menteri di pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih 2014-2019, Joko Widodo-Jusuf Kalla. Nama alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung ini tercantum dalam daftar 88 besar Seleksi Menteri detik.com.

Bambang memulai karir di pemerintahan sebagai PNS di Kementerian Pekerjaan Umum. Ia sempat menjadi Deputi Menko Perekonomian Bidang Prasarana dan Pengembangan Wilayah, sebelum menjabat sebagai Wakil Menteri Perhubungan sejak November 2009 yang merupakan puncak karirnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana tanggapan Bambang mengenai kemungkinan untuk menjadi seorang menteri? Apakah dia siap menerima 'tantangan' ini? Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Bambang Susantono kala bertemu di Stasiun Tawang, Semarang, Kamis (28/8/2014):

Dari penelusuran kami dan informasi dari Tim Pakar Seleksi Menteri detik.com, Anda tidak memiliki catatan hitam dalam urusan kriminal atau korupsi. Apakah Anda memiliki informasi lain dan punya catatan hitam di masa lalu?

Saya memang tidak pernah ada catatan hitam sih. He he he. Sekarang semua terbuka bisa dilihat di Google.

Anda digadang-gadang akan menjadi menteri di kabinet Jokowi JK. Bagaimana tanggapan Anda?

Tentu kalau saya mau ditempatkan di mana, pertanyaan itu relevan kepada yang menunjuk.

Kalau berandai-andai Anda diminta Jokowi-JK untuk menjadi menteri, kira-kira posisi apa yang pas?

Tentu orang melihat background dan keahlian saya. Memang yang saya geluti dari awal itu bidangnya infrastruktur, pengembangan wilayah, dan transportasi.

Jokowi-JK telah mengejawantahkan program dalam Nawa Cita. Jika Anda menjadi menteri, bagaimana langkah konkret untuk menjalankannya?

Nawa Cita itu kalau kita lihat esensi pengembangan tiga hal. Pertama pengembangan hard infrastructure, pembangunan segala bidang dan segala aspek. Kedua soft infrastructure, yaitu masalah good governance atau tata kelola yang baik dan tidak korupsi. Ketiga yang sangat penting adalah SDM (sumber daya manusia). Orangnya berkarakter, pembangunan karakter, revolusi mental. Jadi hard, soft, and brain adalah tiga hal yang tidak terpisahkan. Itu memang inti dari pembangunan yang akan dilakukan ke depan dengan warna khusus yang akan ditentukan presiden dan wakil presiden.

Artinya sudah punya konsep Nawa Cita yang akan Anda lakukan?

Kalau membangun transportasi harus tiga-tiganya juga. Kita harus membangun infrastruktur, sarana dan prasarananya, kita harus membangun sistemnya pakai elektronik, perizinan disederhanakan. Transportasi itu deal-nya dengan pergerakan barang dan penumpang dan itu membutuhkan hard infrastructure dan soft infrastructure. Jadi semuanya dibikin mudah. Yang tidak kalah penting adalah orangnya.

(hds/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads