Bank Sentral Jerman: Kami Mempercayai Jokowi Seperti Mempercayai SBY

Bank Sentral Jerman: Kami Mempercayai Jokowi Seperti Mempercayai SBY

- detikFinance
Kamis, 25 Sep 2014 07:58 WIB
Bank Sentral Jerman: Kami Mempercayai Jokowi Seperti Mempercayai SBY
Dewan Komisaris Bank Sentral Jerman Andreas Dombret (Foto: Dewi/detikFinance)
Jakarta - "Kami akan sangat mempercayai Pak Jokowi seperti mempercayai Pak SBY." Setidaknya kalimat itulah yang menggambarkan pandangan Bank Sentral Jerman terhadap perekonomian Indonesia yang akan dipimpin Presiden terpilih Joko Widodo menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan habis masa jabatannya pada Oktober 2014.

Kalimat tersebut dilontarkan langsung oleh Perwakilan Bank Sentral Jerman untuk Asia Tenggara Patrick Hoffmann saat berbincang bersama sejumlah wartawan nasional di Kedutaan Besar Jerman, Jl. MH Thamrin, Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Pernyataan tersebut disampaikan saat melakukan perbincangan seputar perekonomian kedua negara yaitu Indonesia dan Eropa, Jerman khususnya yang sama-sama tergabung dalam anggota G20.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nanti di Brisbane akan ada pertemuan KTT, pertama kali akan ketemu Jokowi di bulan November. Kami akan sangat mempercayai Pak Jokowi seperti mempercayai SBY. Kalau butuh bukti, ini membuktikan betapa pentingya kepercayaan anggota G20 terhadap Indonesia," ujar dia.

Di tempat yang sama, Dewan Komisaris Bank Sentral Jerman Andreas Dombret menjelaskan, meskipun sempat terjadi resesi di perekonomian Eropa, namun saat ini sudah menunjukkan pemulihan.

Secara khusus, perekonomian Jerman yang merupakan salah satu negara terbesar di Eropa sudah menunjukkan perbaikan dibuktikan dengan angkatan kerja dan gaji yang naik.

"Yang penting secara umum bahwa ekonomi Jerman tetap positif. Angkatan kerja naik di Jerman, seperti juga angka gaji real meningkat, ini membantu untuk tetap mengikuti proses kemajuan ekonomi di Jerman. Melihat kawasan Eropa secara umum. Melihat indikator-indikator, banyak yang memperlihatkan terjadi perbaikan," ungkap Dombret.

Selain soal ekonomi Eropa secara umum, Dombret juga menanggapi perekonomian dan kondisi likuiditas perbankan Indonesia yang saat ini tengah ketat.

detikFinance mendapat kesempatan melakukan wawancara langsung dengan Dombret. Berikut petikannya:

Tujuan Anda ke sini? Adakah bentuk kerjasama khusus dengan Indonesia? Pesan yang akan dibawa ke Indonesia?
Indonesia dan Jerman adalah anggota G20 dan di dalam G20 tersebut harus ada kerjasama yang harus percaya satu sama lain, itu sangat penting. Kita baru saja bertemu di Australia pada G20 dan bulan depan pun ada sesi pertemuan IMF, saling bertemu di Washington di G20 juga, tapi pertemuan-pertemuan ini tidak bisa menggantikan kunjungan pribadi, langsung. Sudah waktunya bahwa hubungan yang baik dilanjutkan dengan kunjungan untuk menggarisbawahi bahwa tidak ada agenda khsusus kecuali memperbaiki hubungan kerjasama.

Ada hubungannya dengan Jokowi?
Saya di sini hanya untuk urusan politik moneter.

Likuiditas di perbankan Indonesia sedang ketat, bagaimana dengan Jerman, Eropa umumnya?
Sebagai komisaris di satu bank, saya tidak bisa mengatakan satu per satu bank tapi saya bisa mengatakan sektor perbankan-nya. Intinya likuiditas perbankan di Eropa sangat tinggi. Yang dikarenakan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) memberikan kemungkinan pengumpulan likuiditas dalam jumlah besar mengingat interest rate, suku bunga rendah. Apa yang kita bicarakan mengenai politik moneter Amerika (kenaikan Fed Rate), kelihatannya itu menunggu pada satu normalisasi dia bergerak ke arah situ itu mempengaruhi seluruh dunia termasuk di Eropa.

Benarkah market akan berpindah ke Asia setelah Eropa kondisinya krisis?
Saya ingin mengingatkan bahwa krisis finansial tidak dimulai di Eropa tapi di AS, Lehman Brothers bangkrut itu awal krisis moneter yang ada, bukan Eropa, bukan kita, memang benar kita banyak permasalahan tapi bukan krisis perbankan tapi utamanya anggaran negara banyak, negara-negara yang terlalu banyak mengambil utang dan para investor kemudian kehilangan kepercayaan kepada beberapa negara yang ada, krisis finansial di AS juga, saat ini utang negara-negara Eropa sudah mulai bisa diatasi, kita tidak boleh melakukan satu kesalahan saja saat ini, seperti biasa kita melakukan kerja rutin, seperti juga kita harus melakukan reformasi kepada perbankan dan anggaran negara, dan menurunkan jumlah utang, ekspor adalah menunjukkan kemampuan daya saing.

Krisis Ukraina, ada ancaman resesi ke Eropa? Langkah jangka pendek?
Ukraina itu masalah geopolitik. Semua yang ada di sini yang mengerti ekonomi mengerti bahwa known unknown dan unknown-unknown, dengan kata lain tidak ada yang menyangka ada krisis ini dan semua terkejut, efeknya pada awalnya sangat keras karena memang kita tidak siap adanya krisis ini. Agak susah mengatasi bagaimana krisis ini, dalam konteks politik moneter tidak bisa memberikan jawaban terhadap masalah geopolitis ini dan harus diselesaikan secara diplomatis.

Ekonomi di Jerman melambat? Langkah apa yang akan diambil? Ada desakan dari Perancis untuk melakukan pengetatan moneter? Bagaimana langkahnya?
Jangan khawatir terhadap ekonomi Jerman seperti yang sudah dikatakan, kita ada penurunan marjin di kuartal kedua juga diakibatkan banyaknya hari libur, kita lihat kuartal satu berjalan baik. Kita lihat seluruh tahun. Kalau kita melihat prospektif akan berkembang baik mungkin tidak secepat Indonesia tapi kita juga punya demografi berbeda dan tahun depan pun akan terjadi peningkatan di Jerman tentu dengan prasyarat masalah geopolitis bisa ditangani.

Soal kebijakan moneter ketat di Eropa?
Mohon maaf saya tidak bisa menyampaikan sebelum Gubernur Bank Sentral Eropa menyampaikan, mungkin setelah diumumkan saya bisa datang lagi dan mengumumkan

Adakah kerjasama khusus dengan BI?
Kita bekerjasama dengan BI secara baik tapi baik itu bukan berarti tidak bisa ditambah lebih baik lagi. Saya ingin menegaskan bahwa ke sini tidak ada permintaan khusus atau permasalahan khusus, kunjungan saya ini menunjukkan respect saya ke Indonesia tapi umumnya biasanya terjadi hal-hal yang baik yang biasanya diawali dengan saling kepercayaan dan bisa terjadi bilamana saling mengenal secara pribadi dan secara langsung. Tadi pagi saya sudah bicara dengan Gubernur BI dan Deputi Pak Perry dan besok ketemu lagi dengan Deputi dan pembicaraan lebih erat lagi. KTT di Brisbane 15-16 November untuk menambahkan pertemuan antara 2 kepala negara.

Soal likuiditas di Eropa yang disampaikan baik, sementara di Indonesia ketat. Di sana ada perang bunga deposito untuk meraih dana nasabah akibat ketatnya likuiditas ini?
Likuiditas di Eropa bukan hanya mengenai suku bunga rendah tapi pelaksanaan untuk berusaha melakukan sesuatu unkonvesional yang dilakukan bank sentral, sekarang ini bank-bank di kawasan Eropa tanpa pembatasan, dengan jaminan mendapatkan tambahan likuiditas dari bank sentral, penting dengan jaminan dan tanpa batasan, ini membuat bank-bank sangat likuid

Apa saja tantangan ekonomi Eropa?
Ada 2 risiko besar yang harus diperhatikan yaitu ada krisis Ukraina dan kemungkinan bahaya dan adanya resesi atau kemalasan untuk mereformasi diri dari kawasan Euro, di mana bisa kita lihat krisis Ukraina apa jalan keluarnya ke depan, masih kabur, politik bisa membantu kelelahan reformasi di Euro, politik di Eropa harus melakukan yang benar untuk menciptakan lagi ayunan semangat pergerakan ekonomi Eropa.

Apa sih yang sudah dilakukan di kawasan Eropa?
Sebelumnya akan cerita politik uang, moneter, ini juga yang diharapkan di sentral bank, sedikit yang mengatakan bahwa politik moneter di Eropa gagal menahan eskalasi di Eropa tetapi saya memiliki pemikiran ketakutan atau pertimbangan bahwa politik moneter yang dilakukan itu semakin sedikit pengaruhnya. Kemudian kita berada pada satu titik di mana harga yang kita lakukan lebih mahal daripada hasil yang kita dapatkan.

Jadi, politik moneter tidak bisa menyelesaikan krisis yang ada di Eropa dan ini sudah sepakat dari banyak sekali usaha politik moneter yang sudah kita lakukan, di Euro Zone itu sentral bank nya sudah masuk dalam kawasan berbahaya tapi paling tidak politik moneter bisa membeli waktu dan tidak membeli politik dengan harga yang harus kita bayar dan itu akan meningkat dengan apa yang kita lakukan, jadi politik harus menggunakan waktu yang maksimal. Politik Euro akan ada kemajuan dengan satu agenda reformasi

Soal integrasi finansial di Eropa?
Mulai di kawasan Eropa, bicara mengenai integrasi finansial. Langkah terbesar yang kita lakukan setelah mendapat mata uang tunggal Euro, 120 bank terbesar yang ada dalam kawasan Eropa akan kita awasi langsung, ini fondasi pertama persatuan bank-bank Eropa dan satu pengawasan bank khusus di Eropa memungkinkan untuk mengawasi bank-bank di Eropa dengan standar yang tinggi, yang sama, tidak ada perbedaan, tidak ada pengawasan bank negara satu per satu sekaligus, ada peningkatan dari pengawas dan para institut yang ada, ini penting untuk menurunkan bahaya bahwa para pengawas jangan sampai memiliki koneksi sangat erat kemudian dalam konteks nasional yang salah, pengawasan persatuan bank ini tidak hanya memiliki satu pengawasan yang sama. Bagaimana kita melakukan mekanisme proses bagi bank-bank yang memiliki masalah keuangan.

Satu mekanisme ini sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang disebut too big too fail, bila ada yang begitu, mereka tetap saja berjalan tanpa ada yang bisa ditutup, bank-bank besar harus mengakui itu dengan sistem yang ada, bank-bank besar juga harus mengakui kegagalannya tanpa mengabaikan yang ada.

Soal penyelamatan bank gagal?
Ada peraturan baru yang kemudian akan menjamin di masa depan bahwa negara tidak bisa dipaksa untuk menyelamatkan bank dengan uang pajak, silakan saja bank bangkrut tanpa ada risiko bahwa seluruh sistem keuangan hancur. Ini satu langkah yang besar yang juga terkait dengan penguatan terhadap penyatuan mata uang. Dan persatuan bank ini mengurangi fregmentasi dari pasar keuangan yang ada. Persatuan bank ini hanya menjamin debt to equity.

Cara mengatasi krisis ekonomi Eropa?
Sementara lebih penting untuk menyelesaikan krisis yang ada di Eropa dan meningkatkan daya saing dan memperbaiki neraca anggaran di Eropa ini tidak bisa satu malam tapi perlu waktu panjang. Pengalaman di Jerman bahwa beberapa waktu lalu masih disebut pesakitan di Eropa dan kita tidak akan lagi melakukan kesalahan sekarang.

Negara-negara yang kena krisis saat ini sudah mulai masa penyembuhan dan banyak sekali negara di Eropa sudah mulai terang di ujung terowongan.

Bahkan untuk Yunani yang paling kena dampak krisis sudah melakukan perbaikan dibuktikan bahwa S&P sudah menaikkan rating untuk Yunani dan kemampuan berkompetisi dari negara-negara krisis sudah mulai membaik. Bilamana kompetisi meningkat secara otomatis ekspor meningkat, semua negara memberikan satu saldo mulai positif di pembukuan Eropa.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads