Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 29 Des 2014 12:47 WIB

​Wawancara Khusus Menteri ESDM

'Hancurkan Sistem di Sektor Migas, Kemudian Menata Kembali'

- detikFinance
Sudirman Said, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri ESDM
Jakarta - Sejak 27 Oktober 2015 dilantik sebagai Menteri ESDM, Sudirman Said hampir selalu sibuk dengan berbagai kegiatan. Apalagi Kementerian ESDM yang dipimpinnya menjadi sorotan publik lantaran menjadi instansi yang dinilai 'basah'.

Di tengah kesibukannya, detikFinance diberi kesempatan wawancara dengan eks Direktur Utama PT Pindad (Persero) ini. Wawancara berlangsung di kediaman Sudirman di daerah Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2014).

Ditemani suguhan kopi tubruk, kue tradisional, dan rujak buah, detikFinance ngobrol santai dengan Sudirman terkait sepak terjangnya selama 3 bulan ini memimpin Kementerian ESDM. Berikut petikan wawancaranya:

Setelah 3 bulan memimpin sektor ini bagaimana rasanya? Apalagi Anda sebelumnya bekerja di industri pertahanan (Pindad)?
Yang pasti ketika diminta pimpin Kementerian ESDM, pastinya kaget. Saya lagi fokus sekali di Pindad, kemudian tidak berhitung, tidak kenal Presiden Jokowi sebelumnya. Dipanggil kaget, apalagi diberi tugas urusi hal ini, lebih kaget lagi. Tapi kan sejak dulu setiap warga negara yang diberi tugas untuk sesuatu yang baik ya tidak bisa menolak. Bismillah, kita kerjakan.

Setelah 3 bulan ini bagaimana?
Setelah 3 bulan, saya sebenarnya tidak terlalu kaget bahwa medannya begitu berat ya. Saya sempat di Pertamina, lama di energi juga. Jadi kita tahu situasinya dan yang pasti memang, saya merasa ini sektor yang lama sekali tidak ditangani dengan serius.

Pengertian ditangani serius ya untuk sebesar-besarnya pemanfaatan rakyat. Itu terlihat betul, dan simbolnya bahwa ketika saya masuk pendahulu saya terkena kendala hukum. SKK Migas juga seperti itu. Hal-hal yang menjadi penanda ada cara-cara ngurus yang salah. Tapi buat saya itu hikmah.

Kementerian ESDM menjadi sorotan akibat beberapa pejabatnya tersandung kasus hukum. Apakah itu beban bagi Anda?
Beban dalam artian bagaimana cara meningkatkan atau membangun public trust. Tapi ada hikmah karena situasinya begitu buruk sehingga kontribusi sedikit pun maka akan dihargai oleh masyarakat. Saya merasakan bahwa karena ekspektasi orang rendah, termasuk ekspektasi kepada saya juga tidak terlalu tinggi, jadi setiap langkah-langkah perbaikan itu mendapat apresiasi yang baik. Itu yang saya rasakan.

Tantangan besar tapi juga menyenangkan. Saya kebetulan senang hal-hal yang rumit-rumit ya. Bagaimana rumit jadi sederhana, ya sudah kita enjoy saja kita jalani dengan penuh kegembiraan.

Saat ini banyak yang mengkritik Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang dipimpin Faisal Basri, termasuk hasil rekomendasinya. Bagaimana menurut Anda?
Orang banyak yang mengkritik tentang langkah-langkah Mas Faisal. Dibilang nggak paham, terlalu banyak bicara, segala macam. Tapi yang orang mesti pahami, setiap reformasi mendasar akan menempuh tiga tahapan, yakni:

  1. Dekonstruksi yang artinya menghancurkan, melelehkan, atau mencairkan hal-hal yang selama ini menjadi praktik.
  2. Rekonstruksi. Setelah dihancurkan, kemudian mulai ditata kembali.
  3. Pelembagaan institusi kembali.

Yang sekarang dikerjakan adalah dekonstruksi, dan memang membutuhkan big push suatu dorongan kuat. Saya yakni Mas Faisal dan teman-teman itu orang yang sangat cocok. Bukan hanya perlu didekonstruksi pemain-pemain yang ada, tapi juga pola pikir, atau keyakinan-keyakinan, cara pandang, dan cara kerja. Itu semua harus didekonstruksi, walau kalau ngomong dihancurkan itu agak kasar.

Bagaimana Anda menggambarkan menghancurkan dan membangun kembali?
Misalnya begini. Cara pandang negara harus melindungi kepentingan Pertamina dengan cara memberikan monopoli itu salah. Cara melindungi Pertamina adalah dengan membuka kompetisi, dengan aturan-aturan yang sehat. Itu kan soal cara pandang.

Kemudian, teman-teman Hiswana Migas khawatir bagaimana dengan margin? Margin itu tidak ada hubungan dengan jualannya apa, margin itu urusannya regulasi pemerintah. Itu yang akan kita lakukan.

Contoh lainnya, cara pandang bahwa karena kilang Pertamina merugi atau tidak efisien, maka jangan bangun kilang. Itu juga salah. Kilang itu bukan urusan margin, kilang itu urusan kedaulatan energi. Negara harus turun tangan memberikan komitmennya, memberikan support untuk membangun.

Kemudian cara pandang bahwa seolah-olah kita itu kalau beli minyak crude (minyak mentah) bergantung hanya satu pasar, itu juga yang harus dan sedang dihancurkan. Cara pandang lama dan praktik lama harus dihancurkan.

Mungkin saja sekali-kali tim independen itu kan off track, kita tidak boleh kendalikan mereka. Tugas kita selanjutnya merekonstruksi, setelah lapangan itu rata, saya menata kembali kemudian saya melembagakan.

Soal rekomendasi tim yang dipimpin Faisal Basri juga banyak sorotan publik, bagaimana Anda menyikapinya?
Ini rekomendasi baru satu dari sekian yang dikaji. Nanti Petral bagaimana, sektor hulu migas bagaimana, hubungan antara Pertamina dengan anak usaha perusahannya bagaimana, hubungan dengan SKK Migas dengan Dirjen Migas dengan Pertamina dengan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) bagaimana, itu bagian-bagian yang akan datang. Itu menjadi tugas saya mengambil input dan kemudian menatanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kalau sekarang orang panik dengan statement atau pernyataan tim ini di publik, itu belum selesai. Jadi itu buat saya merupakan bagian dari pendidikan publik.

Saya merasa apa yang mereka kerjakan masih on track. Tinggal tugas saya menangkap pesan-pesan yang muncul di masyarakat sebagai bagian dari proses penataan ulang. Tentu saja pemain lama yang selama ini menikmati zona nyaman akan melawan dengan segala cara. Itu sudah saya hitung sejak awal.

Anda terlihat sangat berani membuat gebrakan. Apa modal Anda?
Menurut saya tidak ada yang luar biasa. Ini hanya pekerjaan, ditugaskan oleh presiden lakukan ini ya kerjakan saja. Yang mungkin tidak biasa adalah dulu-dulu orang tahu semua tapi tidak dikerjakan itu saja. Kalau soal berani atau tidak berani, itu relatif saja. Saya tidak merasa punya beban apa-apa, dan mungkin karena saya tidak punya beban masa lalu. Saya enteng saja jalani ini semua.

Apakah ada tekanan dari pihak yang merasa terganggu dari gebrakan Anda selama ini?
Orang yang merasa kemapanannya terganggu, pasti. Seorang dubes datang, dan investor, bankers datang bilang, bukankah Anda sedang menggangu kepentingan banyak orang? Saya bilang semua orang berhak berdagang, semua orang berhak berbisnis. Tapi yang harus kita cegah adalah bisnis yang mempunyai orientasi merusak sistem, dan kalau merusak sistem artinya merusak kepentingan rakyat.

Kalau kita meluruskan artinya kita meraih kembali hak-hak rakyat. Keyakinan saya bahwa rakyat di belakang kita, jadi itulah yang membuat kita tidak ada kecemasan. Kalau suatu saat harus bertubrukan karena membela rakyat, nggak mungkinlah rakyat diam. Jadi itu barangkali yang selama ini kita yakini.

Kan terasa siapa yang support, siapa yang tekan, siapa yang sinis. Orang-orang baik semua line up, berbaris di belakang apa-apa yang kita kerjakan. Saya punya keyakinan negara ini makin harus makin menuju kebaikan. Jadi tenaga untuk melakukan perbaikan makin hari makin kuat. Itu juga yang membuat saya makin yakin ini harus dikerjakan.

(rrd/hds)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed