Sehatkan Portofolio Emiten, Perkuat Broker, Tingkatkan Pengawasan

Wawancara Dirut Baru BEI

Sehatkan Portofolio Emiten, Perkuat Broker, Tingkatkan Pengawasan

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 26 Jun 2015 10:16 WIB
Sehatkan Portofolio Emiten, Perkuat Broker, Tingkatkan Pengawasan
Dirut Baru BEI Tito Sulistio usai RUPST (Foto: Dewi/detikFinance)
Jakarta -

Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mengangkat direktur utama (dirut) baru. Tito Sulistio terpilih untuk menggantikan Ito Warsito yang habis masa jabatannya.

Pergantian ini dilakukan saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis 25 Juni 2015 kemarin.

Setelah RUPST, detikFinance berkesempatan untuk bertemu Tito di ruangan khusus usai rapat di gedung yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil menyantap hidangan buka puasa, Tito pun menjawab beberapa pertanyaan detikFinance dalam wawancara singkat sore kemarin. Berikut petikannya.

Bagaimana perasaannya terpilih menjadi Dirut BEI? Apa tugas penting yang harus segera dilakukan?
Tanggung jawab, kerja keras, saya memberi usulan, strategi, sekarang tanggung jawab make it happen dengan bantuan teman-teman saya.

Tantangan paling susah untuk memimpin BEI?
Terbesar buat saya adalah, pada dasarnya bursa efek adalah sebuah gambar besar, kami report ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan), pemerintah juga bergerak. Tantangan terbesar saya adalah mendapatkan support dari semua stakeholders, mari kita bersama-sama, itu yang paling berat.

Banyak sekarang stakeholder yang tanda kutip 'kecewa', emiten bilang ya saya nggak ditransaksiin, saya didiskriminasi, broker bilang ah investor kurang, investor bilang ah saya rugi, sementara pemerintah bilang hey pasar modal berfungsi dong.

Tantangan terbesar bagaimana pasar modal dijadikan untuk mobilisasi dana jangka panjang untuk semua nggak hanya besar tapi kecil, pemerataan kepemilikan, jadikan pasar modal sebagai sarana investasi. Bagaimana memberikan fasilitas bagi perusahaan besar dan kecil

Bagaimana cara Anda mengatasi emiten-emiten nakal?
Itu sudah ada aturan mainnya kok, yang telat didenda. Kita lihat dulu, kalau perusahaannya lagi susah, ekonominya rugi, ya bagaimana dong. Ya kita juga harus lihat, kita lihat situasinya, dia nakal atau dia lagi susah, kan banyak faktanya.

Memang emiten lagi susah, ekonominya turun, apakah kita juga harus tambah kesusahan mereka? Selama mereka tidak berbuat jahat, kalau mereka lagi susah, berbuat salah, mari kita benerin. Kalau mereka jahat, kita pelintir kupingnya, tapi kalau mereka lagi susah, laporannya susah, mari kita bicara. Asal mau terbuka, yang penting transparansi, datang, pintu saya terbuka.

Selama ini pasar modal masih dikendalikan asing bagaimana rencana Anda?
Kata siapa? Sekarang begini, total aset manajemen di Indonesia totalnya Rp 250 triliun, jumlah investor yang aktif di bawah 50.000, APBN kita Rp 2.000 triliun, sementara di luar (negeri) perusahaan aset manajemen lebih dari Rp 20.000 triliun, wajar nggak kalau asing lebih besar secara number?

Duit mereka lebih banyak, jadi bagaimana dana asing yang masuk itu pada dasarnya untuk berinvestasi di perusahaan Indonesia sehingga perusahaannya gede kan? Ruginya apa? Dana itu masuk beli saham kita, dananya untuk pembangunan.

Ketika ada penarikan dana asing besar-besaranan kan kita bisa goyang?
Pertanyaannya bagaimana itu dana tidak ditarik, buat pasar yang menarik, buat emiten yang banyak. Make it happen, jadi kalau asing goyang ekonomi dunia, gue mau naruh di Indonesia. Jadi kalau AS goyang, ya yang lu jagain Indonesia lah, artinya mari kita lihat apa yang sudah jalan.

Tiga kata untuk pasar modal Indonesia?
Sehatkan portofolio emiten, perkuat sekuritas/broker, tingkatkan pengawasan.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads