Lino berpendapat, dengan desain panjang dermaga Tanjung Priok yang pendek dan sempit, membuatnya sulit menghubungkan kereta api hingga langsung ke dermaga. Kalau dipaksakan, hal tersebut justru membuat aktivitas bongkar muat di dermaga terhambat dengan arus logistik yang sudah sedemikian padat.
Fungsi kereta pelabuhan sejak zaman Belanda arus barangnya belum seramai sekarang. Selama ini, menurutnya, kemampuan bongkar muat 1 crane di Pelabuhan Priok sekitar 30 boks per jam. Setiap kapal yang bersandar butuh 3 crane bongkar muat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lino bukan menolak kereta api, ia juga punya solusi sendiri mengatasi seretnya arus barang yang keluar dari Tanjung Priok. Seperti yang sudah dilakukan di pelabuhan-pelabuhan besar di negara maju, Lino menelurkan terobosan pembuatan angkutan tongkang kontainer lewat kanal yang saat sudah ada langsung ke Cikarang.
Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Lino awal pekan ini di dalam mobilnya sambil menuju ke bandara Soekarno-Hatta.
Β
Alasan kereta api pelabuhan bukan solusi dwell time?
Orang selalu berpikir selesaikan kemacetan pakai kereta api di pelabuhan. Saya bilang itu keliru, Jepangs saja yang negara kepulauan market share kereta pelabuhan cuma 3,8%, apalagi di kita kereta api lintasannya sebidang, harus lewat Kemayoran, lewat Senen, Jatinegara, kemudian Bekasi.
Di Jepang, kereta lewat bawah atau ke atas jalan dan tidak ada yang sebidang. Di Rotterdam dan Hamburg hanya 10%. Kereta api bisa bersaing kalau jaraknya paling tidak 300 km untuk bisa dikatakan efisien, karena kontainer harus sampai di rumahnya, kalau kereta api harus ganti truk buat pindahkan, kalau kurang dari 300 km tidak bisa compete.
Sekarang interval paling jauh Priok dengan Cirebon yang hanya 250 km, dan kontainer sebagian besar buat kawasan industri seperti Cikarang. Kalau kereta pelabuhan bisa dapat 3% saja itu sudah sangat istimewa buat saya. Itu tidak selesaikan masalah kalau hanya 3%, saya bukan tidak setuju kereta.
Angkutan kanal lebih baik dibanding kereta pelabuhan yang sesuai dengan Tanjung Priok?
Jadi solusinya kita buat CBL (Cikarang Bekasi Laut). Kanal banjir kan sudah ada yang selesai dibuat tahun 1979, kanal itu lebarnya dengan sedikit modifikasi bisa dilewatin tongkang kontainer dari Priok ke Cikarang. Jembatan kita naikan sedikit agar kontainer bisa masuk.
Satu tongkang bisa bawa 150 kontainer, di jalan raya itu kalau dijejerin itu bisa 3 km, cukup 150 kontainer dengan satu tongkang, dari Priok pakai tongkakng bawa ke Cikarang. Nanti ada dermaga di Cikarang, dari dermaga baru pindah ke truk yang langsung angkut ke pabrik di sana.
Dengan cara itu kita bisa menekan biaya angkut US$ 30-50 per teus tergantung jarak. Banyak sekali negara yang sudah pakai water way. Itu sharenya di negara maju sudah 45%.
Kalau sudah dikeruk, saya mau minta izin kanal yang sudah ada saat ini, dipanjangin sampai ke Cikampek. Kalau itu kontainer bisa dipindah ke kanal, berapa besar itu kurangi kemacetan.
Kapan Pelindo II mulai keruk kanal?
Secepatnya, masalahnya sekarang di semua izin yang belum keluar-keluar. Izinnya kan banyak sekali, bebaskan lahan dari Pemda, jalan dan jembatan dari Bina Marga, AMDAL dari lingkungan hidup, dan banyak lagi izin yang diperlukan.
Kita lagi kerja keras sekarang buat percepat izinnya. Kalau mengeruk dan bangun semua 2 tahun cukup, artinya kalau awal tahun depan selesai izin 2018 awal sudah beroprasi.
Nilai investasi berapa?
Kita hitung ada Rp 3,5 triliun semua. Itu fungsinya sangat banyak kanal kalau kita manfaatkan, antara lain buat penyimpanan air, disimpan buat irigasi, buat kontrol banjir, kontrol cadangan air baku, karena nanti airnya kita bendung agara nggak kebuang semua ke laut. Negara lain sudah pakai kanal, kita miirnya masih truk dan kereta api. Waterway ini sudah hal biasa di negara lain.
Rencana Pelindo II bangun angkutan kanal di Sumatra Selatan Sudah Sampai Mana?
Itu water way di sungai Musi untuk Bukit Asam. Di sana, kapasita batu bara sangat besar tapi tak bisa dibawa keluar, setahun hanya 13 juta ton yang bisa dibawa, 10 juta pakai kereta api, dan 3 juta pakai truk. Dulu sudah banyak investor bangun double track, tapi akhirnya nggak jalan kan.
Kenapa harus bangun kereta api kalau kita sudah dikasih sungai sama Tuhan. Sungai Musi itu kan belok-belok, kalau musim kering nggak bisa dilewatin, kita buat lurus yang kelok-kelok itu dan airnya dibendung.
Kalau batu bara bisa dibawa ke luar itu kita bisa saving banyak. Sekarang kan kalau tak salah cost US$ 30 per ton. Dengan tongkang kapasitas 10.000 ton hanya perlu US$ 14 per ton.
(ang/ang)











































