Wawancara Khusus Menperin (1)

Cerita Sang Menteri dari Pulau Terluar RI

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 09 Nov 2015 07:29 WIB
Foto: Lani/detikFinance
Rote Ndao - Matahari sudah tenggelam di Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan titik terluar Indonesia di bagian selatan. Sebuah pantai eksotis dengan ombak perairan selatan Indonesia dari Samudera Hindia yang jadi idola peselancar dunia. Pulau dengan deretan pantai eksotisnya ini merupakan tempat kelahiran Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin.

Pulau Rote menyimpan banyak cerita masa kecil Saleh Husin, yang lahir di Ba'a, Rote Ndao, 16 September 1963. Saleh Husin merupakan warga Pulau Rote pertama yang jadi menteri.

Dibesarkan di daerah yang menyuguhkan keindahan pantainya, masa kecil Saleh Husin tidak lepas dari kehidupan 'anak pantai' mulai dari memancing hingga berenang di laut setiap hari.

Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini dibesarkan dari keluarga sangat sederhana. Ayah Saleh Husin bekerja menawarkan jasa angkutan kapal kayu dan ibunya membuat kue dan es. Dituntut kebutuhan hidup, Saleh Husin harus berjualan kue keliling kota.

Diam-diam impiannya saat SMP adalah menjadi jendral TNI. Lalu bagaimana perjalanan 'anak pantai' penjaja kue ini hingga jadi Menteri Perindustrian?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Saleh Husin saat di Anugerah Beach and Resort, Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, akhir pekan lalu

Bisa ceritakan masa kecil Anda di Pulau Rote?
Saya lahir di Ba'a, Pulau Rote. Sampai dengan SMP tinggal di Pulau Rote. Mulai dari SD di SDN 1 Ba'a lalu lanjut ke SMPN 1 Ba'a. SMA saya merantau ke Kupang. Dulu transportasi masih susah. Jadi ke Kupang naik kapal layar. Kebetulan ayah saya yang membawa kapal itu ya nelayan juga, jadi kalau liburan bisa numpang pulang.

Pernah jualan kue sampai SMP?
Ibu kebetulan bikin dan jualan kue. Terus ya kita anak-anak yang jualan. Saya anak ketiga dari tujuh bersaudara. Saya jualan dari SD kelas lima sampai SMP kelas tiga. Jualan kue kaya roti goreng keliling kota. Harganya dulu satu biji hanya lima perak (Rp 5). Kadang-kadang jual ikan juga. Itu sekitar tahun 1970-an.

Kabarnya Anda saat kecil jago mancing dan renang di laut?
Kita kan anak-anak pesisir. Jadi biasanya begitu pulang sekolah ya main di laut. Main bola di pantai. Napasnya kuat, fisiknya juga.

SMA merantau ke Kupang, padahal ada SMA di Pulau Rote?
Saya bertekad sejak SMP lanjut sekolah SMA harus merantau pokoknya. Di Pulau Rote ada SMA, tapi belum terlalu bagus. Apapun caranya, SMA saya harus keluar dari Rote. Saya mau ke Kupang. Guru saya cerita tentang orang-orang Rote yang sudah jadi tokoh nasional di Jakarta seperti mantan Gubernur BI Adrianus Mooy (Gubernur Bank Indonesia periode 1988-1993), Prof. Wilhelmus Zakaria Yohannes (ahli radiologi) mantan rektor pertama UGM, di tentara ada jenderal dari Rote. Pokoknya saya harus jadi sama seperti mereka. Kalau jadi jenderal bisa jadi menteri. Zaman Pak Harto kan hampir seluruhnya jenderal militer.

Jadi ambisi waktu SMA justru jadi Jenderal TNI?
Iya, selain itu, saya pikir ingin kuliah gratis. Kuliah gratis ya masuk Akabri. Jadi jenderal kan gagah, akhirnya selesai SMA bersama beberapa teman dari NTT berangkat ke Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah.

Ikut tes, dari sekian orang udah pada gugur, tinggal berdua saat tes penentuan akhir. Saya gagal karena bermasalah dengan mata. Mayoritas anak-anak pesisir kan matanya katarak karena sering nyebur di laut nggak pakai kacamata renang.

Setelah gagal seleksi Akabri, apa yang dilakukan?
Setelah gagal, mau pulang ke Rote kan malu. Udah terlanjur di Jawa, apapun yang terjadi harus menemui Danjen Akabri nekat ke Jakarta naik kereta. Badan masih six pack, kepala botak, dikira angkatan jadi naik kereta gratis.

Untuk apa ketemu Danjen Akabri?
Saya temui saja, ikut dia tinggal di rumahnya. Saya minta ketemu datang ke kantornya, lalu diminta ke rumah. Di rumah mungkin komandan itu lihat ini anak item dari timor mau ngapain.

Danjen nggak kenal saya, hanya saya tahunya Beliau orang Rote juga. Saya cerita masalah di Magelang, Pak jenderal saya mau pulang kampung malu. Kalah boleh saya numpang tinggal. Terserah mau jadi pembantu atau apalah. Siapa tahu tahun depan bisa lolos Akabri.

Setelah itu Anda daftar Akabri lagi?
Ya saya tinggal di Menteng di rumah Danjen tadi sampai ikut seleksi lagi. Saya tahu diri, tiap hari tanpa disuruh pun nyuci piring, ngepel, cuci pakaian, itu saya lakoni pagi sore. Selebihnya saya bebas main ke rumah tetangga, main sama anak-anak pembesar yang juga tinggal di sekitar situ.

Pergaulan saya akhirnya sama anak pembesar. Tahun 1984 akhirnya daftar Akabri lagi bareng Boy Rafli Amar. Jadi tahu betul gimana kita berangkat naik bus sama-sama. Suka duka seleksi di Magelang. Kembali lagi gagal karena mata.

Gagal dua kali, tetap nekad di Jakarta?
Mungkin ini garis tangan. Jalan hidup saya bukan di militer. Saya pikirkan untuk kuliah. Caranya biar bisa kuliah ya harus cari duit dulu dengan mulai dagang.

Apakah Anda masih tinggal di rumah Danjen?
Masih numpang di sana. Sebelumnya saya kirim surat ke ibu saya agar dibantu uang untuk dagang. Dikirim Rp 500 ribu via wesel. Zaman dulu belum kenal bank.

Dari situ akhirnya dijadikan modal usaha. Bikin atribut sekolah, saya ke C 59 di Bandung. Itu banner segitiga seperti flyer untuk hiasan pakai tulisan nama sekolahnya. Satu flyer harga Rp 1.000, mau buat 1.000 biji. Saya kasih DP dulu, flyer itu mau dijual, baru untuk lunasi sisanya.

Akhirnya jadi pedagang flyer atribut sekolah?
Iya akhirnya jualan atribut itu, kebetulan kenal anak-anak pembesar seperti Ferdi Hasan saat itu masih SMP. Saya nggak boleh masuk ke dalam sekoah untuk jualan, jadi Ferdi dan teman-teman lain yang jualan.

Dalam waktu satu jam habis langsung. Saya jual Rp 2.500, akhirnya saya punya duit Rp 2,5 juta. Langsung berangkat ke Bandung, lunasi utang Rp 500.000 dan bikin lebih banyak lagi.

Bagaimana dengan kuliah Anda?
Belum, kan belum punya duit. Saya kebetulan waktu itu dekat suka main bareng anaknya Pak Try Sutrisno mantan Wapres. Konglomerat sepanjang Sudirman-Thamrin akhirnya mulai melirik, siapa sih yang nggak mau dekat sama keluarga Try Sutrisno waktu itu masih Panglima Besar TNI.

Akhirnya mulailah kita bikin usaha dan pabrik ini itu. Dalam usia 27 tahun udah punya mobil.

Anda jadi orang sukses umur 27 sudah bisa beli mobil sendiri?
Iya 27 sudah punya mobil. Terus begitu uang sudah punya, kuliahnya belum, masih asyik cari duit. Lalu kenal sama seorang dekan. Diajak kuliah di Universitas Krisnadwipayana jurusan ekonomi.

Tapi karena posisi kuliah sudah punya uang dari kerja, kuliah malah jarang masuk kelas. Dibawa ke ruang dekan untuk diskusi dengan saya tuker pikiran dari sisi pengusaha. Bareng dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan masuk Unkris tahun 1991.

Keenakan jadi pengusaha ya?
Enak betul dan lifestyle berubah. Mulai kenal lifestyle konglomerat kaum jetset.

Di Rote ada bisnis apa?
Dulu sempat ada bisnis perikanan ikan, penangkapan ikan cakalang, tapi terus tutup.

Usia 30 sudah jadi konglomerat? Apa bisnisnya?
Bukan konglomerat juga, saya kan komisaris di bisnis air minum dalam kemasan. Terus ada HPH Sumatera Barat terbesar. Ada pabrik laminating, finger joint dan lainnya. Orang-orang lihat bukan siapa saya, tapi behind-nya. Partner sama anak-anak Try Sutrisno. Kehidupan high class sudah pernah saya dialami. Naik limo dan privat jet sampai satu hotel sama Chuck Norris (aktor film action )

Hidup jadi kaum jetset di usia 30 bagaimana rasanya?
Usia 30 saya sudah sampai ke titik puncak. Kepikiran married tapi takut. Masuk usia 31 baru menikah. Begitu punya anak perempuan langsung rem semua, lifestyle berubah total.

(ang/ang)