Follow detikFinance
Senin 09 Nov 2015, 08:16 WIB

Wawancara Khusus Menperin (2)

Tukang Kue, Politisi, Hingga Jadi Menteri Perindustrian

Lani Pujiastuti - detikFinance
Tukang Kue, Politisi, Hingga Jadi Menteri Perindustrian Foto: Lani/detikFinance
Jakarta - Perjalanan seorang Saleh Husin hingga menjadi seorang Menteri Perindustrian (Menperin) sangat panjang.

Putra asli Pulau Rote Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memulai dari berdagang kue saat di bangku sekolah SD-SMP, gagal menjadi tentara, memulai bisnis kecil-kecilan, sukses berbisnis, masuk politik hingga jadi pejabat negara.

Saleh Husin salah satu dari sekian putra Pulau Rote yang 'jadi orang'. Beberapa tokoh dan pejabat ada yang dari Pulau Rote seperti Gubernur Bank Indonesia periode 1988-1993 Adrianus Mooy dan lainnya.

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Saleh Husin saat di Anugerah Beach and Resort, Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, akhir pekan lalu

Bisa cerita awal Anda terjun ke dunia politik hingga jadi anggota DPR?
Ada tawaran terjun ke dunia politik. Saya awalnya nggak mau karena masih euforia dengan bisnis.

Apakah sejak awal di politik berniat jadi menteri?
Oh nggak, waktu SMA kan saya maunya jadi jenderal biar bisa jadi menteri. Lalu teman ajak dorong Amien Rais jadi Presiden. Sejak saat itu terjun ke politik.

Meski ke politik, saya ingin jalur jenderal. Saya masuk ke Lemhanas dulu lewat jalur partai tahun 2006. Saya persiapkan betul, baru terjun ke politik.
 
Tujuannya apa ke politik?
Saya pikir waktu itu di usia masih kepala tiga saya sudah cukup dengan diri sendiri. Saya lalu mikir, ini daerah kelahiran saya siapa yang mau bangun? Siapa lagi kalau bukan kita. Buat diri saya sendiri sudah tidak pikirkan apa-apa lagi. Kalau mau berbuat untuk daerah, harus mau masuk sistem, akhirnya terjun ke politik lewat DPR. Jadi anggota DPR saya buktikan, sekarang jalan dari barat ke timur Pulau Rote sudah aspal hotmix semua. Embung (tempat penyimpan air) dimana-mana.

Pernah terpikir jadi gubernur?
Oh nggak pernah tertarik jadi gubernur, bupati pun nggak minat.

Kenapa fokus kontribusi ke infrastruktur?
Saya lihat tanpa infrastruktur yang maju mana mungkin daerah ini berkembang. Di DPR kan kolektif, perjuangan bersama.

Bagaimana Anda bisa jadi menteri?
Masuk putaran kedua mulai ikut dorong Pilpres. Kebetulan saya dengan Pak Wiranto (Partai Hanura) kemana-mana bareng tugas saya lobbying karena pergaulan selama saya cukup bagus.
 
Bapak menteri pertama dari Pulau Rote, perindustrian pula, apa kontribusi buat daerah?
Nah itu yang membuat saya kepikiran. Sampai saya cerita ke presiden, kadang saya malu hampir tiap minggu saya keliling ke berbagai daerah, resmikan pabrik, investasi triliunan, tapi kok nggak ada peresmian pabrik dari NTT? padahal menteri perindustrian dari NTT.

Kenapa bisa seperti itu?
Itu yang menjadi pikiran. Gimana caranya harus ada satu industri yang harus dibangun di NTT.

Sudah ada minat investasi apa di NTT?
Kita sedang dorong industri garam. Industri di Nagekeo. Mudah-mudahan ini sedang berusaha bersama gubernur modal bangun pabrik semen Kupang III.

Padahal Bapak sudah bangun prasyarat infrastruktur supaya industri bisa masuk Pulau Rote?
Ada beberapa minat lain. Saya sudah bicara dengan beberapa teman pengusaha agroindustri untuk bangun pabrik pengolahan tapioka, singkong atau jagung di daerah NTT kan banyak. Lalu skala-skala kecil melalui Ditjen IKM seperti tenun, gula semut, rumput laut.

Di Pulau Rote, mana yang cocok, investasi industri atau Industri Kecil Menengah (IKM)?
Lebih cocok IKM. Kalau industri besar paling mungkin agro. Pabrik pengolahan singkong atau tebu. Tapi tebu kan agak susah di sini harus cari hamparan seluas 10.000 hektar.

Mungkin singkong yang sedang saya coba komunikasikan dengan teman-teman pengusaha. Saya ingat potensi gula semut, saya langsung telepon pengusaha GarudaFood, bilang lagi di Rote ada gula semut bagus. Dia minta sampel supaya nanti bisa dikembangkan apakah mau dipakai GarudaFood atau dikemas untuk dijual lagi.

Ada potensi apa lagi di Pulau Rote?
Pulau Rote itu surplus beras. Pasokan beras di gudang Bulog NTT itu banyak dari Rote. Di sini daerah surplus beras.

Jadi misi dalam waktu dekat untuk NTT selain industri garam?
Ya garam sedang coba kami komunikasikan dengan pengusaha. Kemudian lontar ini ada ratusan ribu pohon.

(ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed