Menkeu Mengulang Kembali Angan Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%

Wawancara Khusus

Menkeu Mengulang Kembali Angan Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 20 Jan 2016 09:48 WIB
Menkeu Mengulang Kembali Angan Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi 2015 diproyeksi sekitar 4,8%, atau lebih rendah dibandingkan asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan yang sebesar 5,7%. Banyak faktor yang menghadang ekonomi untuk tumbuh lebih tinggi.

Tahun ini, pemerintah kembali memasang langkah optimistis.β€Ž Tanpa melupakan perhitungan berbagai risiko yang muncul. Kata yang tepat digunakan adalah, pertumbuhan ekonomi yang optimistis, namun juga realistis.

Dalam wawancara khusus dengan detikFinance di Beijing pekan lalu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoroβ€Ž memaparkan proyeksi ekonomi 2016.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut kutipan wawancaranya:

Selesai dengan 2015, bagaimana proyeksi perekonomian 2016?

Yang pasti begini, 5,3% waktu kita jadikan asumsi itu juga dengan acuan yang sama. Suku bunga acuan The Fed sudah pasti naik gradual, China yang melemah kita sudah tahu waktu itu, ditambah harga komoditas masih rendah. Kita waktu itu juga tidak bilang salah satunya lebih bagus, jadi artinya itu sudah memakai asumsi pesimistis.

Nah kenapa lebih baik, satu kita harapkan dari belanja pemerintah lebih baik. Kedua dengan iklim investasi yang lebih baik, kita harapkan investasi swasta juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga membuat tahun depan lebih baik dari tahun ini.

Apa mungkin tidak ada persoalan lain di luar itu?

Iya persoalan pasti ada, tapi belanja pemerintah kan seprti sekarang penyerapan sudah sejak Januari dan dengan penyerapan begitu, nggak ada lagi isu soal nomenklatur harusnya belanja tahun 2015 sebesar 90,4%, tahun 2016 itu bisa naik minimum ke 95-97%. Jadi dari belanja pemerintah sendiri kontribusi besar dari tahun lalu.

Belanja pemerintah kan konstribusinya kecil untuk perekonomian?

Belanja pemerintah jangan hanya dilihat dari besarannya, tapi multiplyer effect-nya. Pemerintah misanya rekontruksi bikin jalan. Kan perlu semen, perlu tenaga kerja perlu segala macam dan kalau pemerintah aktif membangun, swasta juga tertarik untuk aktif. Dan kalau dilihat optimisme swasta ini sudah lebih baik di 2016.

BI Rate sudah turun, seberapa besar pengaruhnya ke perekonomian?

Begini, kalau BI Rate turun kan berarti sinyal ekspansi ekonomi. Artinya nanti tingkat bunga di perbankan juga ikut turun, dengan tingkat bunga turun, diharapkan permintaan kredit naik. Nah itu kan sumber pertumbuhan ekonomi. Kalau dilihat tahun lalu pertumbuhan kredit kan 11%, diharapkan tahun ini bisa lebih dan bisa menolong ke 5,3%.

Bagaimana dengan kondisi nilai tukar, apa kemudian dikorbankan?

Ya kalau dari kita tingkat bunga itu tidak sekedar instrumen pertumbuhan. Ada yang lebih penting juga adalah stabilitas moneter, untuk nilai tukar. Percuma ketika ekspansi, nilai tukarnya nggak stabil. Jadi menurut saya BI Rate yang ideal adalah BI Rate yang menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan.

Ada masalah, ketika ekonomi digenjot lebih tinggi, neraca perdagangan defisit. Bagaimana dengan sekarang?

Ceritanya agak berbeda sekarang. Kenapa? Karena dulu neraca perdagangan yang menjadi penyebab defisit itu adalah migas. Nah dengan harga migas turun, berarti defisit makin turun, ya kita ekspornya masih kecil memang tapi impornya kan turun. Nah kalau impor naik karena barang modal itu justru sinyal bagus. Artinya investasi mulai jalan. Jadi menurut saya selama masih bisa dikendalikan, sejauh menjaga neraca migas, maka akan baik-baik saja.

Kalau ekonominya ingin lebih aman dan stabil lagi, harusnya kita bisa memenuhi sebagian kebuthan investasi dari dalam. jadi ketika ekonomi naik, impor kan nggak ikut naik. Masalahnya kita itu tadi, pertumbuhan naik, impor naik. Jadi pada saat yang sama pemerintah terutama Kemeperin dan kemenkeu mendorong industri melalui insentif. Dari pada impor akan lebih baik bangun di sini.

(mkl/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads