Alasan Tomy Winata Jual Daging Sapi Beku Rp 75.000/Kg

Wawancara Tomy Winata

Alasan Tomy Winata Jual Daging Sapi Beku Rp 75.000/Kg

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 14 Jun 2016 11:25 WIB
Foto: Rivki
Jakarta - Pendiri Artha Graha Network, Tomy Winata, menaruh perhatian pada persoalan pangan. Lewat lembaga nirlaba Artha Graha Peduli (AGP), pengusaha kelahiran Jakarta ini termasuk yang paling sering membantu pemerintah menekan harga pangan seperti sembako lewat pasar murah di ribuan titik, sampai menggelontorkan daging murah beku.

Khusus untuk daging sapi, salah satu anak perusahaannya, PT Sumber Agro Semesta (SAS), mendapatkan kuota impor daging untuk stabilisasi harga dari pemerintah beberapa waktu lalu.

Tomy mengaku tak habis pikir bagaimana harga daging impor, baik bakalan maupun beku, bisa jadi barang mahal di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut petikan wawancara detikFinance saat menemuinya di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang terletak di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, akhir pekan lalu.

Alasan AGP selama ini paling aktif bantu pemerintah tekan harga daging?
Nggak ada, pemerintah nggak boleh kalah. Karena kita tahu harga daging cuma Rp 55.000/kg sampai Rp 60.000/kg, kalau kita kasih potong kasih upah, cold storage dan lainnya kita bisa kasih Rp 70.000/kg ke masyarakat. Saya hanya ingin potong saja kartel-kartel yang nggak bertanggung jawab.

Daging sapi kalau kita impor hanya US$ 2,8/kg, Australia artinya Rp 28.000/kg lebih, dipotong-potong buat jadi daging Rp 70.000/kg atau Rp 65.000/kg. Kok jadi Rp 130.000/kg, kalau you bilang harga daging sapi Rp 41.000/kg kan spekulan.

Mungkin juga bisa orang Indonesia atau orang Australia yang bilang spekulan, tapi harga aslinya kan US$ 2,8/kg. Itu daging dari Australia yang hidup ya.

Karkas kan kita tahu zaman nggak ada spekulan harganya hanya US$ 3,6-3,8/kg, kalau kita impor CL 95 hanya US$ 3,8, ya kita hanya bukan operasi paling murah, kita hanya operasi sesuai harga yang sesungguhnya saat harga normal.

Nah kasihan pemerintah ini harus dihajar dengan spekulan sembako dan daging, justru harusnya saat pemerintah harus dibantu, orang malah naikkan harga, kita Artha Graha nggak mau main begituan, kalau modalnya US$ 4,2 ya kita jual Rp 75.000/kg,

Sejak kapan khusus daging jualan murah?
Kita setiap tahun bantu, sudah lama, kita nggak tahu kapan pemerintah atur strateginya. Kayak operasi daging ini saja sejak 31 Mei. Kita sudah launching.

Ada yang nggak bener kan, ini kan adalah gizinya rakyat, kenapa anda nggak main di prime cut seperti tenderloin, sirloin, wagyu, kobe, kenapa nggak main di prime cut, tapi main di secondary cut.

Ini (secondary cut) daging rakyat jangan diganggu, kalau mau untung banyak ya di daging-daging yang dimakan 'toke-toke' besar, 'toke-toke' asing, jangan diganggu juga beras. Jangan jadi buto ijo. karena ada untung semua dimasukin, nggak boleh.

Anda lihat di sini (TWNC) ada Harimau, mereka punya rusa dan babi di hutan, tidak serang sapi di kandang, sapi kita dilepas di alam terbuka di sini, tidak serang ayam bebek kita, artinya apa? Dia buas tapi punya etika, karena kita nggak rampas makanan mereka. Kita nggak makan rusa yang mereka punya, binatang buas saja punya etika.

Bapak kan punya capital, kenapa nggak bisnis peternakan sapi, atau paling tidak punya ranch di Australia?
Semuanya saran yang baik, kenapa kita nggak buat, saya nggak komen dulu. Saya dulu sudah siap, tapi bukan saya tunda, ada suatu sistem yang hindari kita masuk ke daging, ada suatu kekuatan yang membuat kita nggak bisa pegang daging. Tapi saya nggak jelek-jelekin siapa.

Apa hambatannya?
No comment.

Selama ini pasokan daging yang dijual di pasar murah dari SAS?
Iya.

SAS kan perusahaan benih awalnya, jadi sekarang merambah di importir sapi?
SAS juga punya ranch, punya (pabrik) pakan juga, apa pun kan yang penting niatnya baik. Dia juga punya di Jonggol (Peternakan), dia juga punya penggemukan, kita juga ada 700 sapi yang rencananya akan dilepas jelang Lebaran.

Rencana lain bentuk pemerintah turunkan harga daging?
Saya maunya satu, harapan kita daging jangan jadi mainan spekulan. Daging dan ikan itu tanggung jawab protein rakyat, harapan saya bangsa Indonesia yang miskin saja, sekurang-kurangnya 10 kg setahun per kapita.

Selama ini daging sapi mahal karena rantai pasok panjang?
Yah benar, harus dipotong, yang punya izin impor nggak punya modal, cari pemodal, begitu datang sapinya bukan yang diizin impor. Pemodal nggak peduli ketahanan pangan, yang penting jual bisa untung.

Selain daging sapi, SAS juga bantu di beras?
Ada kan dari dulu SAS sudah di beras. SAS awalnya beras dan masih jalan.

Ada rencana buat kawasan khusus pengembangan kawasan pangan?
Artha Graha nggak pernah berpikir jadi konglomerat pangan, Artha Graha jadi bapak angkat masyarakat yang peduli pangan, kita kuasai pangan tidak ada konsepnya. Tapi dayagunakan masyarakat yang peduli pangan jadi small bisnis man kita bantu ketemu end user, tapi Artha Graha jadi pengusaha pangan, saya bilang tidak. Simpel.

Alasan Bapak sangat concern ke ketahanan pangan?
China sudah problem untuk kasih makan bangsanya yang sudah 1,5 miliar, Amerika 300 juta lebih, lah Indonesia kalau nggak dipikirin kasih makan anak Indonesia pakai apa? Sementara China dan Amerika saja sudah repot, negara lain juga sudah kerepotan. Populasi penduduk tambah, Indonesia 30 tahun lagi jadi 350 juta, kalau nggak peduli ketahanan pangan mau aksih makan apa? Sekarang saja masih impor.

Simak wawancara eksklusif detikcom dengan TW berikutnya, hanya di detikFinance. (ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads