Mimpi Pertamina Jadi Perusahaan Kelas Dunia

Wawancara Khusus Dirut Pertamina

Mimpi Pertamina Jadi Perusahaan Kelas Dunia

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 02 Agu 2016 11:00 WIB
Mimpi Pertamina Jadi Perusahaan Kelas Dunia
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Tak ada kata terlambat bagi Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto, untuk membangun Pertamina menjadi perusahaan energi berskala global. Tahap awal, perombakan struktur perusahaan dari operating holding menjadi strategic holding, menjadi fokus utama mantan Dirut PT Semen Indonesia Tbk ini.

Penataan pun dilakukan pada anak-anak perusahaan yang memiliki lini bisnis di sektor properti, maskapai penerbangan, asuransi, sampai operator rumah sakit.

Di sisi hulu, penambahan cadangan migas di sumur-sumur luar negeri terus dikebut. Kemudian di hilir, produk-produk Pertamina mulai diperluas, beberapa produk di antaranya bahkan mulai unjuk gigi di pasar global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Dwi di sela-sela kesibukan rapat di kantor Pertamina, Jakarta, pekan lalu:

Apa strategi menjadikan Pertamina sebagai world class energy company?
Di visi Pertamina ini disebutkan, Pertamina harus jadi world class company. Apa sih maksudnya? Makanya kita ada ukuran world class di downstream, ada ukuran world class di upsetream, kalau kita coba redefine apa sih ukurannya? Kita harus punya referensi siapa yang kita anggap world class, contohnya untuk di downstream itu Shell.

Itu kan dia buka ritel di mana-mana di banyak negara. Kalau mau dikatakan world class ya Pertamina harus buka ritel di mana-mana, dan memang salah satu masalahnya adalah ketika buka di Indonesia itu gampang, tapi orang kita mau buka di negara lain sulit.

Kan negara lain nggak bisa begitu mudah buka izin buat kita. Tapi tetap harus dilakukan, di ritel pun as worldclass company harus punya ritel di luar negeri, kalau di dalam negeri ya kita sudah jago dari dulu.



Bagaimana langkah yang dilakukan untuk menjadi perusahaan berskala dunia?
Ya, saat kapasitas kilangnya punya Pertamina bisa sudah lebih besar dari kebutuhan di dalam negeri. Kemudian juga di upstream mana yang kita sebut sebagai world class energy, misalnya BP, Petronas, Sinopec, perusahaan-perusahaan yang besar di upstream, atau Saudi Aramco yang memang sudah sangat besar sumbernya di dalam negeri mereka sendiri.

Untuk jadi perusahaan dunia, dia juga harus lebih besar (produksi) di kilangnya, sehingga dia juga bisa jualan crude-nya. Maka kita harus pergi ke overseas dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus bisa berjualan crude.

Apakah salah satu caranya dengan mempercepat holding?
Holding di bidang tertentu dia fokus di situ. Kenapa butuh itu? kalau perusahaan semakin besar kemudian dia tetap jadi operating holding atau masih mengurusi operasional, bebannya akan semakin besar. Sehingga kemudian istilahnya terlalu gemuk, nggak bisa bergerak cepat. Maka mimpi kita harus jadi besar, harus jadi holding. Petronas pun bisa lebih besar dengan cara itu. Caranya dipisahkan yang holding dengan operasional, Petronas yang di Kuala Lumpur ya itu holding-nya saja. Dia punya Carigali, punya ini punya itu.

fasilitas pengeboran minyak Pertamina di Aljazair


Pertamina ingin jadi strategic holding, apa yang ingin dicapai?
Jadi holding berbeda dengan konglomerisasi, kalau perusahaan yang bergerak di banyak sektor nggak fokus, namanya konglomerisasi. Yang ingin kita bangun bukan seperti itu, kita harus fokus, barangkali juga perbaiki yang bisnis non core kita seperti rumah sakit, Patra Jasa (properti), ini mau diapain? Kita mau dorong justru yang seperti ini ke listed company saja. Kita tawarkan masyarakat untuk ikut memiliki karena ini kan bukan core kita.

Kita kan fokus di migas, holdingisasi ada sebagai wadah berpikir hanya strategis saja, atau bisa juga untuk self service, kemudian development growth ke depan yang beranggotakan operating-operating company yang banyak. Dengan begitu ada pemisahan fokus, di operasi pekerjaannya banyak, transaksi jumlahnya luar biasa, setiap hari harus tandatangani di meja yang sifatnya operasional.

Dengan holding, ada yang fokus berpikir strategi 10 tahun ke depan bagaimana, analisa terus, kita cek lagi apa yang sudah selesai, bangun kilang butuh 5-10 tahun baru selesai, apa lagi yang akan dilakukan 6 tahun lagi, harus disiapkan uangnya dari mana, bangunnya bagaimana, harus ada yang pikirkan itu.

Jadi ada fokus, orang kalau sudah sibuk dengan operasional tertinggal yang strategis, holdingisasi itu memasukkan beberapa perusahaan yang satu grup jadi sinergi supaya masuk dalam satu rumah agar segala sesuatu bisa cepat dilakukan, agar tidak overlap di investasi, agar tidak overlap di operasi, itu tujuan holding.

Dan kedua, fokus sesuatu yang sifatnya future, atau self service sesuatu yang dibutuhkan bersama-sama, kalau masing operasional adakan sendiri-sendiri, sudah jumlahnya sedikit nanti harganya juga bisa berbeda. Tapi kalau digarap sama-sama di holding bisa penuhi dalam jumlah yang besar dan lebih efisien. (wdl/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads