Follow detikFinance
Selasa, 13 Sep 2016 10:09 WIB

Wawancara Khusus Dirut Inalum

Inalum Bakal Jadi Induk Holding BUMN Tambang Beraset US$ 6 Miliar

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Pembentukan holding BUMN tambang tinggal selangkah lagi. Kementerian BUMN akan mengusung PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk holding BUMN tambang.

Inalum dipilih sebagai induk karena 100% sahamnya masih dimiliki pemerintah. Setelah holding terbentuk, Inalum akan menaungi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Apa saja persiapan Inalum menghadapi holding BUMN tambang, dan bagaimana respons atas target pemerintah dengan adanya holding tersebut?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Inalum, Winardi Sunoto, saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pekan lalu.

Bagaimana persiapan Inalum menjadi induk holding BUMN tambang?

Kita sudah persiapkan dari tahun lalu. Kita sudah kaji semua. Diharapkan awal 2017 holding tambang sudah operasi. Peraturan Pemerintahnya (PP) tak lama lagi keluar. Persiapan RUPS juga harus sudah selesai.

Kita mau operational holding. Tapi kita lihat apa maunya pemegang saham, apakah mungkin strategic holding.

Apakah sudah berkomunikasi dengan calon anggota holding BUMN tambang?

Saya melihatnya positif. Komunikasi kita lebih encer, tidak ada halangan.

Untuk kantor pusat holding BUMN tambang rencananya akan disiapkan di mana?

Harus di Jakarta, nanti kita lihat.

Setelah holding BUMN tambang terbentuk, rencananya mau fokus di sektor apa saja?

Semuanya potensi yang kita miliki. Nggak ada yang kita tinggalkan. Batu bara, nikel, timah, aluminium, dan emas. Mungkin nanti tembaga setelah kita punya porsi lebih besar di Freeport.

Aset kita semua berkisar US$ 6 miliar. Inalum asetnya sekitar US$ 1,6 miliar, Antam sedikit lebih besar, PT Bukit Asam hampir sama dengan kita.

Menteri BUMN berharap holding bisa caplok tambang-tambang besar, khususnya asing. Bagaimana respons Anda?

Tujuan holding supaya daya saing lebih besar, skalanya lebih besar, efisiensi, dan menguasai sumber daya mineral baik melalui akuisisi dan lainnya. Dengan struktur modal yang kuat kita kuasai tambang-tambang, tujuannya itu.

Yang jelas, kita nanti jadi besar, lebih agresif lagi. Dengan holding itu nanti kita ingin BUMN ini mulai berperan. Kita bisa beli aset-aset asing. Sehingga kita juga akan besar. Batu bara diperkuat, tambang lainnya diperkuat, emas tembaga dan lainnya.

Targetnya, holding BUMN tambang bisa masuk 500 besar perusahaan dunia. Bagaimana menurut Anda?

Targetnya masuk 500, malah syukur kita bisa 250 perusahaan besar dunia pasca holding nanti.

Menteri BUMN Rini Soemarno, meminta setelah holding BUMN terbentuk jangan hanya jago kandang?

Di Indonesia kan cukup bagus, artinya banyak sumber daya mineral. Orang luar saja datang ke sini. Kita perkuat dulu di sini, baru lari ke luar. Apakah ke Vietnam atau yang lainnya, potensinya bagus.

Untuk ke depan, Ibu Rini mengharapkan Inalum bisa masuk ke pasar modal. Apakah siap?

Ya kita mau ke situ. Tapi harus selesaikan holding dulu. Kita lihat dulu nanti, disusun rencana jangka panjang 5 tahun ke depan setelah holding selesai. Kalau sekarang fokus dulu selesaikan holding. (drk/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed