Harga Beras di RI Lebih Mahal Dibandingkan Vietnam, Thailand, dan Myanmar

Wawancara Khusus Kepala Perwakilan FAO

Harga Beras di RI Lebih Mahal Dibandingkan Vietnam, Thailand, dan Myanmar

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 11 Okt 2016 11:07 WIB
Harga Beras di RI Lebih Mahal Dibandingkan Vietnam, Thailand, dan Myanmar
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Meski punya lahan pertanian yang cukup luas, namun ternyata harga beras di Indonesia masih lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Myanmar.

Menurut Kepala Perwakilan FAO (Food and Agriculture Organization of The United Nations/Badan Pangan PBB) untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders mengatakan, selain Indonesia, Filipina juga mengalami kondisi serupa.

"Indonesia dan Filipina perlu biaya tinggi untuk memproduksi beras, karena tak mudah bagi negara kepulauan. Area (pertanian) tidak seperti Vietnam, Thailand, dan Myanmar yang memiliki tanah dataran, sehingga bisa menanam padi dengan lebih murah," ujar Mark kepada detikFinance, saat ditemui di kantor perwakilan FAO, Menara Thamrin, Jakarta, Jumat (7/10/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena punya area datar, jadi bisa menanam padi dengan lebih murah. Jadi faktanya di Indonesia dan Filipina berasnya lebih mahal 70% dari pada negara lain di Asia Tenggara. Makanya jadi lebih murah melalui impor ketimbang produksi sendiri," tambah Smulders.

Menurutnya, negara-negara Indocina memang sudah tersohor sejak zaman dulu sebagai produsen beras. Aliran sungai Mekong yang juga mengalir sampai China membentuk dataran luas dengan irigasi alami yang memang sangat ideal untuk tanaman padi.

Sementara di Indonesia, lahan pertanian terbaik untuk tanaman padi hanya berada di Pulau Jawa yang semakin sempit. Masalah lain ketidakefisienan produksi padi di Indonesia, yakni kepemilikan lahan petani padi yang kecil.

"Masalah utamanya karena lahannya kecil-kecil, jadi beras di produksi dalam jumlah yang kecil. Tidak mudah buat mekanisme untuk produksi beras yang efisien. Karena lahan juga sedikit, rata-rata adalah petani bekerja part-time sehingga kurang mengupayakan produksi," ujar Smulders. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads