Bagaimana Kondisi Ekonomi di 2017? Ini Proyeksi JK

Wawancara Khusus

Bagaimana Kondisi Ekonomi di 2017? Ini Proyeksi JK

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 31 Okt 2016 10:49 WIB
Bagaimana Kondisi Ekonomi di 2017? Ini Proyeksi JK
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%. Adalah level yang cukup konservatif di tengah kondisi ketidakpastian perekonomian global.

Indonesia masih punya peluang untuk mencapai target tersebut. Ada beberapa komponen yang cukup kuat di dalam negeri yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sehingga 5,1% bukanlah target yang mustahil.

Konsumsi rumah tangga tetap akan menjadi andalan utama. Pendukung dengan peluang pertumbuhan yang cukup besar adalah investasi pemerintah dan swasta. Sementara ekspor diharapkan bisa memperkecil pelemahannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa proyeksi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terhadap perekonomian di 2017?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Wapres JK di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jumat (28/10/2016).

Bagaimana pandangan Anda tentang proyeksi perekonomian di 2017?

Saya bilang yang pasti untuk tahun depan, cuma satu, ketidakpastian. Karena ekonomi dunia, tidak bisa jalankan sendiri. Kita terhubung satu sama lain.

Terorinya begini, tidak ada satu negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dia harus membeli. Untuk membayar apa yang dia beli, dia harus menjual.

Ada yang mengekspor dan impor baru jalan. Kalau daya beli industri di China menurun, otomatis kita tidak bisa menjual. Kalau tidak bisa menjual, tidak bisa memenuhi pendapatan kita. Jadi ketidakpastian yang saya bilang, bukan hanya di sini. Justru di luar. Tapi kita masih lumayan berada di posisi menengah.

Apa langkah untuk menghadapi ketidakpastian itu?

Ya mempersiapkan diri. Karena itu harus menggunakan tenaga dalam kita. Apa tenaga dalam kita, pertama adalah resources yang ada. Harus dinaikkan value-nya. Makanya perlu dilarang ekspor barang mineral mentah.

Kedua, tentu kita harus menghemat anggaran kita agar belanja modal memberikan multiplier effect itu jangan sampai terganggu.

Ketiga, kita memperbaiki sumber-sumber yang selama ini kita mengimpor. Katakanlah beras, jagung, sapi. Itu (produksinya) harus digenjot supaya kita bisa menghemat dalam waktu yang akan datang.

Apa kelebihan Indonesia sehingga ekonominya masih bisa tumbuh?

Kita cukup beruntung dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, karena kita adalah pasar yang luas. Jadi industri di Jawa masih tetap jalan. Karena kebutuhan dalam negeri ini tinggi. Tapi dalam negeri ini harus ada income, baru bisa orang beli baju dan sepatu.

Apakah target pertumbuhan ekonomi 5,1% tahun depan realistis dan optimistis akan tercapai?

Iya. Kita menyusun itu dengan berbagai indikator, yaitu produktivitas, tingkat konsumsi dan belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, ekspor masih berapa. Dengan meningkatkan turis dan itu semua akan menjadi bagian. (hns/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads