Wawancara Khusus

Helman Sitohang, Orang RI Pertama Jadi CEO Credit Suisse Asia Pacific

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 02 Des 2016 07:02 WIB
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Sebagai seorang putra bangsa pertama yang menjabat posisi penting di bank terkemuka di dunia, Credit Suisse Asia Pasific, Helman Sitohang, mencoba membagi pengalamannya. Helman menjadi orang Indonesia pertama yang masuk dalam dewan eksekutif bank investasi asal Swiss tersebut.

Pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut berbagi cerita mengenai representasi Credit Suisse sebagai perusahaan investment banking dan wealth management, mulai dari Australia, China, Jepang, Korea, India, Pakistan dan negara-negara di Asia Tenggara.

Helman sukses mengantarkan Alibaba ke lantai bursa melalui Initial Public Offering (IPO) yang merupakan IPO terbesar di dunia saat itu, nilainya mencapai US$ 25 miliar atau sekitar Rp 337,5 triliun (kurs Rp 13.500).

Bagaimana ceritanya?

Simak petikan wawancara detikFinance dengan CEO Credit Suisse Asia Pasific sekaligus anggota Dewan Eksekutif Credit Suisse Swiss, Helman Sitohang, di sela kegiatannya dalam pertemuan CEO yang digelar Forbes di Sangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (29/11/2016).

Masuk ke tahun ketiga sebagai CEO dari Credit Suisse Asia Pasific, strategi apa yang diembankan perusahaan kepada anda untuk tumbuh di Asia?

Strategi yang diembankan perusahaan kepada saya, saya sebagai anggota board di Zurich, Swiss adalah untuk mengembangkan atau growth strategic di Asia Pasific. Karena kita melihat potensi dan growth yang ada di Asia Pasific. Dengan itu kita punya target untuk selalu meningkatkan aktivitas kegiatan kita dan meningkatkan investasi yang kita berikan di nasabah-nasabah kita di seluruh Asia Pasific.

Jadi intinya dalam segi angka, kita mengharapkan ada pertumbuhan yang cukup signifikan buat profitabilitas Credit Suisse di Asia Pasific. Dan seluruh anggota rekan-rekan saya di board executive dan direksi yang lain mendukung strategi kita di Asia Pasific.

Helman Sitohang, Orang RI Pertama Jadi CEO Credit Suisse Asia PacificFoto: Eduardo Simorangkir


Bisnis di wealth management bagaimana? Produk-produknya?

Kita institusi yang bergerak lebih spesifik di dua tadi itu (investment banking dan wealth management). Kita mungkin lebih kepada nasabah, atau nasabah yang skalanya lebih besar. Jadi nasabah kita di Asia tidak banyak, tapi skala transaksi yang kita kerjakan besar-besar. Dan itulah salah satu fokus dan keterampilan serta keahlian yang dimiliki oleh Credit Suisse.

Jadi kalau dibilang investment banking, produknya ya produk-produk capital markets, IPO, rights issue, bond. Untuk transaksi-transaksi tersebut yang kami arrange untuk nasabah kami di Indonesia, kami juga membawa investor-investor luar masuk dan berpartisipasi dalam transaksi tersebut.

Di samping itu juga kita punya aktivitas brokerage. Aktivitas brokerage kita ini di Asia selalu mempunyai ranking yang top 3, di mana pun kita beraktivitas.

Kita juga mempunyai aktivitas seperti bank-bank lain, yang namanya fixed income products, yang kita namakan foreign exchange, credit products, di mana kita memberikan kesempatan untuk jual beli bond dalam jumlah besar, kalau ada transaksi yang nasabah mau lepas atau mau beli bond. Kita juga mempunyai interest rate effects, credit products. Dan juga mempunyai masalah financing. Tapi biasa kita financing juga skala yang besar. Jadi skala-skala yang jumlahnya ratusan juta bahkan miliaran dolar. Tugas kita mengatur financing skala-skala itu.

Apa transaksi yang remarkable di Asia hingga saat ini?

Mungkin beberapa contoh transaksi, tahun ini (dua-tiga tahun terakhir) IPO terbesar yang terjadi di Asia Pasific yaitu IPO-nya Alibaba, Credit Suisse menjadi arranger utama. Bank yang mempunyai peran paling besar itu biasanya yang sebelah kiri. Credit Suisse berada di posisi yang paling kiri, yang artinya paling besar, arranger utama untuk IPO. IPO Alibaba sekitar US$ 25 billion. Itu IPO terbesar dalam sejarah di dunia (Amerika, Eropa, Asia).

Kemarin kita juga mengerjakan transaksi perusahaan di China, namanya ChemChina, membeli perusahaan di Swiss namanya Syngenta (seperti Bayer, tapi bergerak di agribisnis, misalnya benih-benih). Ini juga salah satu transaksi besar yang ada di China, perusahaan China membeli perusahaan di luar China.

The whole size, nilai perusahaan yang dibeli sekitar US$ 55-60 miliar. Dari situ kita juga financing sekitar 30 sekian miliar. Dan Credit Suisse sebagai salah satu bank arranger untuk transaksi itu. Jadi itu contoh-contoh untuk investment banking.

Kalau wealth management product, kita memberikan ide, saran, nasihat, produk untuk klien-klien mau investasi. Tapi investasi untuk misalnya fund, atau misal struktur fund-nya dibikin kadang-kadang ada fund yang kecil, atau fund-nya digabung, atau mau beli dua tiga fund sekaligus. Dicampur lagi dengan misalnya saham, bond, ya lebih kepada advance portofolio.

Transaksinya juga lebih kepada transaksi yang spesifik di mana skill dan keterampilan dan keahlian memberi ini datangnya dari berbagai research yang kita punya, dari keterampilan produk, keahlian produk yang kita punya untuk menggabungkan dan memberi nasihat atau input kepada produk-produk tadi.

Helman Sitohang, Orang RI Pertama Jadi CEO Credit Suisse Asia PacificFoto: Eduardo Simorangkir


Sumber pendanaan Credit Suisse dari mana?

Kita sama seperti bank biasa. Kita mempunyai deposito, interbank, menerbitkan bond (obligasi) di market. Jadi seperti bank pada umumnya.

Posisi Credit Suisse untuk pendanaan perusahaan-perusahaan di Indonesia?

Kita selalu bullish. Kita bank yang paling aktif di Indonesia untuk memberikan pendanaan, nasihat untuk aktivitas di pasar modal, IPO, atau dolar bond. Jadi dibanding semua bank global lokal, kita paling komit di transaksi-transaksi ini. Kita juga ke depan sangat positif proyeksinya. Karena Indonesia salah satu negara yang menurut kita mempunyai potensi ke depan yang bagus.

Karena di tengah ketidakpastian perekonomian dunia dua tiga tahun terakhir, nggak banyak negara yang mempunyai growth opportunity seperti Indonesia.

Sekarang Brasil pertumbuhannya jauh di bawah Indonesia, dulu kan mereka cukup bagus. Bahkan sempat negatif pertumbuhannya. Asia juga sempat kurang baik pertumbuhannya. Jadi di Asia ini, ya kalau dilihat Indonesia, India, China, 3 inilah yang saya kira banyak dilirik orang sebagai opportunity dan kesempatan yang ada.

Jadi Indonesia termasuk top list untuk lahan bisnis Credit Suisse?

Ya. Tapi saya kan tugasnya sebagai pemimpin di Asia juga selalu memberikan yang balance. Tapi Indonesia selalu, saya sebagai orang Indonesia mencoba memberikan input dengan pengetahuan saya, tentang pasar modal untuk memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan Indonesia untuk bisa lebih berkembang. Apakah mencari sumber pendanaan, mencari mitra dagang, apakah mencari ide-ide atau terobosan baru bagaimana supaya bisa lebih efisien, atau produknya lebih kompetitif.

Berapa persen porsi pendanaan Indonesia di Asia Pasifik?

Kita nggak pernah disclose dari segi persentase, tapi yang penting kita selalu melihat kalau dari segi perusahaan, kita kan harus lihat portofolio. Di seluruh dunia kita jumlahnya punya sekian, tentu di Amerika sekian, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Pasifik sekian. Di dalam Asia Pasifik sendiri, saya juga mengalokasikan ini dan tentu itu dinamik. Jadi semua tim saya mempunyai kesempatan yang sama untuk mengajukan proposal, untuk melihat. Tapi di dalam kita kan juga ada risk management, jadi semua negara mempunyai dinamika tersendiri.

IPO di Indonesia bagaimana?

Indonesia kita banyak mengerjakan perusahaan-perusahaan.

Ada yang sedang dijajaki?

Kalau yang dijajaki nggak boleh diomongin. Kalau yang sudah jalan, itu ada banyak. Salah satunya Trans Retail dari CT Corp.

IPO terbesar di Indonesia yang pernah dikerjakan?

Dulu kita banyak. Ada Mandiri, Telkom. Banyak deh. Prodia is being done (PT Prodia Widyahusada, bersiap IPO). Kita di market lagi mengejar Prodia sekarang. Tapi lagi di market, jadi nggak tahu besarannya berapa.

Apa ada pengaruh 'Trump Effect' ke bisnis Credit Suisse?

Hasil dari yang sekarang ini kan dengan program-program yang Presiden Trump terakhir mulai paparkan, itu kan kelihatan bahwa market cukup suka dengan ide-ide atau program-program tadi itu. Akibatnya memang orang jadi lebih bullish terhadap ekonomi dan prospek di Amerika dan prospek dolar AS sebagai mata uang.

Akibat konsekuensi dari situ kan, dana ini kalau di dunia kan tentunya satu bongkah, dana ini kan berpindah-pindah. Jadi kalau dia ada lihat yang lebih menarik di Amerika, dana itu sebagian ada yang pindah. Dana yang sebagian pindah ini tentunya pengaruh terhadap misalnya mata uang. Hal itu juga berhubungan ketat dengan suku bunga. Pengaruhnya tentu kalau suku bunga turun, dianggapnya di Amerika mungkin bunganya akan rendah terus, dengan ide Trump untuk investasi di infrastruktur, tentunya dana akan naik di sana. Tapi kalau bunga di AS naik, tentunya bunga di Asia nggak bisa turun lagi. Bahkan mungkin juga bisa naik sedikit. Ini yang kita lihat nanti.

Jadi dinamisme. Ini yang akan kita lihat 6-12 bulan ini akan kenapa, tapi gerakan-gerakan apa yang akan dilakukan di Amerika dan program implementasinya pasti ada pengaruhnya.

Apakah pengaruhnya besar sekali, sampai bisa mengakibatkan gejolak pada investasi di Asia?

Menurut saya tidak. Jadi ya hal-hal itulah yang dilihat. Nah di situ Credit Suisse masuk sebagai ahli di investment banking dan wealth management untuk memberikan pandangan, input, analisa, research, bagaimana kira-kira skenario yang terjadi kalau kira-kira kejadian. Itu yang musti kita lihat.

Jadi di dunia yang sekarang ini, kita memang mesti selalu adaptasi terhadap perubahan tadi. Sebelum Trump terpilih kan enam bulan lalu orang selalu pikirnya suku bunga akan rendah sekali. Sekarang ini tiba-tiba berbalik.

Dan di dunia ini, sekarang kita berada dalam masa di mana history atau suku bunga rata-rata di dunia ini ada dalam yang paling rendah sejarah ekonomi dunia modern. Artinya sekarang banyak negara di dunia yang suku bunganya negatif seperti di Swiss. Jepang juga negatif. Ini dalam sejarah dunia nggak pernah kejadian. Jadi ini balik kejadian 12-18 bulan terakhir. Bunga sedemikian rendahnya, sampai ada beberapa negara maju menjadi suku bunga negatif.

Suku bunga negatif ini juga mengakibatkan problem untuk misalnya dana pensiun, asuransi. Karena mereka kan juga waktu membuat program pendanaan, program investasi mereka, program produk-produk mereka kan asumsinya selalu mungkin suku bunganya lebih tinggi. Sekarang kalau dengar lebih rendah begini, apakah lagi negatif, itu bisa membuat inbalance di program mereka. Dan itu ada pengaruh terhadap pegawai yang akan pensiun, kesejahteraan, kesehatan, asuransi dan lain-lain, output-nya mungkin nggak bisa tinggi dulu. Karena bunga makin tinggi, memberikan kesempatan untuk investasi dan hasil investasi yang lebih tinggi.

Kalau suku bunga rendah, semua bukan hanya hasil dari obligasi itu yang akan rendah, tapi hasil return of equity-nya juga akan lebih rendah kan. Kalau return of equity lebih rendah, semua produk-produk ini juga akan menghasilkan sedikit.

Jadi ini kelihatan efek sampingnya banyak. Dengan Trump terpilih ini, tren tadi itu berbalik sedikit. Tapi berbaliknya seberapa jauh, kita belum bisa tentukan sekarang, karena dia juga belum aktif. Belum tentukan Menteri Keuangannya siapa, dan sebagainya. Nanti kalau sudah, baru kebijakannya akan kelihatan semua. Bisa saja mungkin jauh lebih tinggi yang diharapkan, atau bisa juga nggak setinggi yang pasar perkirakan sekarang.

Jadi ini yang selalu musti kita lihat. Dunia modern sekarang ini, antisipasi terhadap perubahan dan gejolak itu sangat penting. Jadi perusahaan-perusahaan itu harus selalu mempunyai semacam indera keenam untuk melihat waspada bagaimana perubahan ini, apakah pengaruhnya. Selalu harus ada analisa yang baik. Kita sebagai Credit Suisse, di situlah keahlian kita melihat, mempunyai banyak tim yang khusus keahlian di yang tadi itu. Kalau tiba-tiba berubah begini, produk yang kita tawarkan mungkin harus berbalik. Dan dunia keuangan zaman sekarang memang sangat kompleks.

Lantas apa strategi yang disiapkan Credit Suisse menghadapi tantangan tadi? Apa ada stimulus?

Strateginya mungkin bukan dalam bentuk stimulus. Tapi selalu adaptasi terhadap perubahan tadi. Jadi strateginya adalah bukan overreaction. Kalau stimulus kan kelihatannya ada overreaction, tapi strateginya adalah kita selalu siap. Selalu dekat dengan klien kita. Apapun keadaannya, apakah itu hanya gejolak kerikil begini, apakah gejolak yang dalam, dan kita komitmennya dengan klien kita akan selalu dekat supaya kita bisa selalu memberi input, advice, untuk mengatasi keadaan pasar tadi itu.

Seperti apa Credit Suisse melihat posisi Indonesia di Asia Pasific maupun dunia?

Kalau saya lihat sih, kita melihat prospek Indonesia selalu bagus. Karena demografinya, jumlah penduduk yang masih muda, juga dengan program-program pemerintah sekarang yang fokus terhadap masalah infrastruktur. Dan itu sangat penting untuk dibenahi karena ini juga mempermudah bisnis. Indonesia sekarang kan indeks persaingannya membaik.

Dalam sejarah rupanya termasuk salah satu yang cukup jarang. Dan Pak Jokowi menegaskan nggak mau berhenti di situ saja, mau dibikin lebih kompetitif lagi. Itu semua hal-hal yang positif, dan memberikan antisipasi bagi investor. Bukan hanya di luar, tapi juga dalam negeri. Dan investor dalam negeri juga bukan yang besar saja, yang kecil juga penting kan. Jadi dengan adanya semangat dan perasaan bahwa investasi akan ada proteksinya, peraturan yang jelas, dan dengan program ini, investor-investor diberikan kejelasan yang penting. Jadi ini yang saya lihat baguslah.

Dan mereka banyak melihat program-program lain yang dilaksanakan, kalau itu bagus, itu akan memberi motivasi positif untuk investor masuk lebih banyak. Jadi semua ini ada keterkaitannya.

Ada rencana untuk terbitkan obligasi untuk Credit Suisse?

Kalau kita kan selalu, dan selalu ada. Bahkan semua bank di dunia sekarang kan selalu punya program pendanaan. Karena kan yang namanya deposito kan sifatnya lebih jangka pendek. Jadi dalam peraturan sekarang ini, semua bank harus mempunyai persentase tertentu dalam jangka panjang.

Berarti ada tambahan pendanaan untuk Indonesia?

Hubungannya tidak langsung begitu. Itu lebih ke keadaan likuiditas kita. Tidak ada bedanya dengan bank lain.

Indonesia ada IPO yang besar dalam waktu dekat?

Belum.

Produk Credit Suisse selain investment banking dan wealth management di Asia?

Tidak ada. Di Swiss kita ada fully integrated banking. Itu betul-betul unik di sana. Kita ada ATM, credit card, mortgage seperti KPR.

Di Asia belum ada?

Tidak ada. Modal kita sudah pasti, jadi tidak berubah-ubah.

Tahun kedua di Board Executive, ada misi khusus secara pribadi maupun perusahaan untuk Indonesia?

Kalau dari segi perusahaan, tentunya kita komit seperti selama ini kita buktikan konsisten selama 20 tahun lebih. Waktu 1998, bank lain pada kabur, kita malah menambah pegawai. Waktu kita masa sulit, kita juga tetap di sini, konsisten dan nggak pernah berubah. Itu kualitas utama yang kita banggakan komitmen kita terhadap Indonesia. Bukan hanya karena saya dari Indonesia, tapi Credit Suisse mengerti peluang di Indonesia.

Buat saya pribadi, sebagai putra Indonesia tentunya ada kebanggaan kita bisa membantu program-program pemerintah dari segi pendanaan swasta maupun pribadi juga bisa masuk di jajaran direksi perusahaan besar dunia. Mudah-mudahan sekarang atau nanti ada gunanya buat negara, ilmu pengetahuan yang saya miliki. Selalu saya kasih input sepanjang tidak bersifat rahasia. (drk/wdl)