Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Jan 2017 11:23 WIB

Wawancara Khusus

Rencana Pertamina: Caplok SPBU di Eropa Hingga Bikin Mobil Listrik

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - PT Pertamina (Persero) tak mau jadi perusahaan yang hanya 'jago kandang'. Setelah memantapkan posisinya sebagai raja di dalam negeri, Pertamina mulai ekspansi ke luar negeri.

Rencana ekspansinya tak tanggung-tanggung, dari membuat SPBU di negara-negara tetangga, mengakuisisi SPBU di Eropa, hingga masuk ke bisnis mobil listrik.

Kepada detikFinance, Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, menjelaskannya dalam wawancara khusus di Hyatt Regency Hotel, Yogyakarta, Kamis (19/1/2017). Berikut petikannya:

Kalau di hulu Pertamina sekarang mencaplok blok-blok di luar negeri. Kalau di hilir bagaimana rencana ekspansi ke luar negeri?
Kami ingin jadi perusahaan berkelas, enggak bisa main di domestik saja. Tapi di domestik juga harus tetap jadi raja. Jadi harus jadi raja dulu di domestik, lalu keluar untuk menunjukkan bahwa kami tidak cuma jago kandang. Ekspansi kami lakukan bertahap.

Pertama kami lakukan kerja sama, belum hadir secara fisik. Misalnya di bisnis avtur, pelumas dulu juga awalnya begitu. Di pelumas awalnya kami kerja sama berpartner dengan distributor di Australia. Avtur kami melayani di berbagai negara, tapi di sana yang melayani bukan Pertamina.

Tahap kedua baru kami hadir secara fisik. Itu yang bisa sekarang Lubricants, sudah punya pabrik di Thailand. Rencananya juga di China. Lalu di aviasi, sebentar lagi di Jeddah, izinnya sudah keluar. Syarat mereka kan ada partner lokal, beli minyaknya harus dari Saudi Aramco. Kami akan bersaing dengan 6 kompetitor lain.

Di Timor Leste juga sudah retail SPBU, kami kerja sama dengan partner lokal, ada 1 yang Pertamina murni dan SPBU Timor tapi powered by Pertamina, joint venture. Myanmar untuk ritel kami sudah tender, memang mundur-mundur karena situasi politik di sana. Kami juga lagi menjajaki di Filipina, Laos, dan Vietnam.

Kemudian kami mau rebut pasar Selat Malaka lewat Pertamina Internasional Downstream (PIDS). Kementerian BUMN sudah setuju, tinggal set up direksi. Kami sudah bangun terminal BBM di Pulau Sambu, itu BBM taruh sana untuk berkompetisi di Selat Malaka, nanti bisa untuk Myanmar dan sebagainya.

Partnernya siapa untuk bisnis avtur di Jeddah?
Partner lokal kami di sana adalah Dallah Group.

Rencana Pertamina: Caplok SPBU di Eropa Hingga Bikin Mobil ListrikFoto: Michael Agustinus


Kabarnya ada yang menawarkan Pertamina jaringan SPBU di Eropa?
Kemarin waktu kami launching Pertamax Turbo di Italia. Partner di Italia menawarkan, ada yang jual jaringan, kami lagi mengecek, ngitung-ngitung. Tapi kami harus lihat dari segala aspek karena energi ini berubah terus. Eropa kan sudah menolak batu bara, mereka juga akan menolak minyak nantinya. Mereka sudah mulai lari ke energi terbarukan. Jangan nanti kami sudah beli tapi kemudian rugi.

Jadi masih mempertimbangkan prospek ke depan untuk bisnis SPBU di Eropa?
Iya, harus dikaji menyeluruh itu. Termasuk di Indonesia pun harus kami kaji, SPBU kita modelnya mau seperti apa.

Mau buat SPBU dengan model seperti apa ke depan?
SPBU harus jadi integrated energy dulu, jadi mau charge mobil listrik bisa, yang pakai gas bisa isi gas, isi BBM juga bisa. Itu integrated. Untuk mengisi nitrogen buat ban juga bisa. Mobil listrik mau ganti baterai juga bisa. Harus kami siapkan.

Harus kami pikirkan juga, apakah kami enggak masuk ke industrinya? Misalnya pabrik baterainya mobil listrik. Pasar kami sekarang sudah lumayan banyak. Lihat saja jalan tol lampunya pakai apa? Solar cell kan? Itu kan pakai baterai buat nyimpan energi? Baterainya impor enggak? Kan impor. Di daerah-daerah terpencil PLTS juga komponennya impor. Ini kami lagi kaji segala kemungkinan.

Nantinya SPBU juga harus menjadi energy integrated and food station. Kerja sama dengan bulog dan sebagainya. Jadi satu harga untuk energi, satu harga untuk perut. Bukan hanya BBM Satu Harga.

Berapa banyak SPBU di Eropa yang ditawarkan ke Pertamina?
Ada 2 perusahaan. Yang satu punya 300 SPBU, yang satu lagi 3.000 SPBU. Negara-negara di luar negeri itu jumlah SPBU-nya banyak. Seperti Thailand misalnya, SPBU-nya ada 16.000. Karena SPBU-nya kecil-kecil, pendapatannya bukan hanya dari BBM, tapi ada tempat sarapan, jadi BBM itu bisnis penunjang.

Kalau kami kan BBM bisnis utamanya, di paling depan dan harus gede. Ini akan kami ubah, SPBU enggak usah besar-besar tapi meeting point-nya orang berkumpul. Namanya penunjang bisa di belakang. Tapi masalahnya, apakah nanti izinnya tetap sebagai SPBU? Itu kan beda.

Selama ini kok bisnis energi baru terbarukan (EBT) Pertamina kurang berjalan? Bagaimana rencana pengembangannya?
Direktorat Gas dan EBT akan dipisah, yang EBT lari ke Wadirut, saya lagi cari orang untuk mengisinya. Di antaranya kami ada rencana mau masuk ke industri baterai mobil listrik yang tadi saya ceritakan, tunggu lah. Prepare planning-nya banyak. Kami ajak joint venture perusahaan luar tapi dengan syarat bahan bakunya dari sini supaya murah. Panasonic, Samsung, lagi kami ajak ngobrol. Untuk mobil listrik, Tesla kita baru jajaki saja, Build Your Dream (BYD) juga. (mca/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com