Follow detikFinance
Rabu 01 Mar 2017, 08:43 WIB

Wawancara Khusus Dirut KAI

APBN Tak Sanggup, Siapkah KAI Biayai LRT Jabodebek?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
APBN Tak Sanggup, Siapkah KAI Biayai LRT Jabodebek? Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) awalnya disiapkan menjadi operator kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT). Namun kini, pemerintah meminta KAI juga terlibat sebagai investor prasarana LRT rute Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodedek) senilai Rp 23 triliun itu.

Upaya ini sebagai solusi mengatasi pembiayaan yang tak bisa sepenuhnya ditanggung APBN. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan rencana tersebut sehingga proyek LRT terus berjalan dan rampung sesuai target.

Lantas, apa respons KAI terhadap rencana itu? Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, menjelaskan seputar rencana tersebut dalam wawancara khusus dengan detikFinance di Gedung Jakarta Railway Center (JRC), Jalan H. Juanda, Jakarta Pusat, Senin (27/2/2017). Berikut kutipannya:

Bagaimana rencana menjadikan KAI sebagai investor LRT Jabodebek?
Ya itu baru direncanakan, nanti akan keluar dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres). Nah, sekarang sedang digodok matang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Jadi nanti Perpresnya akan digodok dan dikeluarkan. Ya kita siap, kalau itu bentuknya Perpres kan sama dengan Undang-Undang, kita menjalankan perintah Undang-Undang kan. Jadi harus kita jalankan.

Apa alasannya KAI diminta jadi investor LRT?
Ya kan kita operator dan kita BUMN. Kalau pemerintah punya pikiran seperti itu, ya harus kita dukung dong. Kasarnya kan begini, ujungnya itu kan operasi, operator, nah sekarang yang operasikan kereta yang ada hari ini itu siapa sih, ya cuma KAI. Yang lain? Baru akan, akan, akan. Kita? Ya lihat saja KRL, sudah 900 ribu orang dibawa. Yang lain? Coba MRT, sudah ngangkut belum? Kan belum. LRT-nya DKI yang di Velodrome sudah ngangkut belum? Kan belum. Yang sudah ngangkut siapa? Ya kereta api, angkutan masal dalam kota Jabodebek yang paling besar siapa? Ya kereta api.

Sampai hari ini belum ada Perpres. Jadi saya belum bisa mengatakan kalau itu pasti. Bisa saja rapat nanti siang tahu-tahu itu berubah. Kan tergantung Perpres, kalau Perpres lama KAI itu hanya operator, jadi enggak ada masalah. Jadi kita hanya tinggal beli rolling stock, lalu mengoperasikan. Kita sudah ada kerja sama training atau pendidikan dengan SMRT Singapura. Kalau MRT-nya Singapura itu sama dengan LRT-nya kita. Sistem operasionalnya sudah mirp-mirip.

APBN Tak Sanggup, Siapkah KAI Biayai LRT Jabodebek?Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance


Jadi investor berarti modalnya semua dari KAI?
KAI dan Adhi Karya. Patungan.

Apakah Adhi Karya juga akan jadi investor?
Makanya tadi saya katakan kalau ini sedang dalam pembahasan. Ya nanti tinggal output-nya apa? Silakan saja Perpres. Tetapi seingat saya, pembicaraannya Adhi Karya juga ikut. Tapi itu tergantung putusannya bagaimana. Kan ini mereka (pemerintah) yang putuskan, KAI yang jalankan.

Apa mungkin KAI jadi investor sendiri?
Ya mungkin saja, kenapa enggak. Kalau pemerintah mendukung. Intinya pemerintah mendukung saja.

Dukungan seperti apa?
Ya dukungannya dalam bentuk Perpres keluar. Penugasan. Kalau penugasan kan semua penyelesaian nanti pemerintah akan backup.

Kalau soal anggaran bagaimana? KAI Kuat?
Ya makanya itu, anggaran itu kan seandainya pemerintah sudah mengeluarkan Perpres, maka anggaran ini kan dipikir bersama dengan pemerintah. Artinya, KAI ini kan punya pemerintah, sehingga nanti mungkin dukungan dari pemerintah itu bisa memberikan solusi bagaimana KAI ini bisa menyiapkan anggaran, kan begitu. Dukungan dari bank-bank BUMN juga siap.

Nilai proyek LRT Rp 23 triliun?
Rp 23 triliun itu prasarananya. Sarananya mungkin Rp 3 triliun.

Berarti bukan dari kas internal KAI?
Iya betul, karena secara prinsip kan begini, prasarana itu kan tugas pemerintah, bukan tugasnya operator. KAI kan operator. Tetapi kalau ini keluar dalam bentuk Perpres, maka dukungan pemerintah itu diterjemahkan di Perpres itu. Bahwa KAI didukung oleh pemerintah untuk menjalankan proyek prasarana mau pun sarana.

Apa manfaatnya bagi KAI jadi investor LRT?
Sebenarnya kalau secara prinsip, KAI jadi investor itu kan dukungan dari pemerintah, sebenarnya ini kan tugas pemerintah. Sehingga ini hanya jalan keluarnya saja untuk KAI, yang nantinya tetap yang menanggung itu pemerintah. Jadi bukan investor sebenarnya. Jadi nanti konsepnya, ini kan masih di dalam pembicaraan. Jadi nanti kalau Perpresnya turun, baru saya bisa ngasih penjelasan.

Kita siap untuk mendukung apa yang memang diputuskan pemerintah, dalam artian kita mau jadi operator bisa, kita mau jadi investor juga bisa. Karena seperti jalur kereta bandara, kan yang bangun jalurnya kita, tetapi kan kita serahkan ke pemerintah, karena semua prasarana, itu kan diserahkan kepada pemerintah. Lalu kita mendapat konsinyasi sampai 30-50 tahun. Jadi prasarana sudah selesai dibangun, meskipun uang dari KAI, itu diserahkan kepada pemerintah, Kementerian Perhubungan. In return, kita mendapatkan hak pakainya itu sekian puluh tahun. (hns/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed