Follow detikFinance
Rabu 01 Mar 2017, 09:22 WIB

Wawancara Dirut KAI

PT KAI Ingin 3 Jalur Kereta Api Ini Direaktivasi

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
PT KAI Ingin 3 Jalur Kereta Api Ini Direaktivasi Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Pemerintah berencana mereaktivasi jalur kereta api di Jawa dan Sumatera. Tahun ini pun ada beberapa jalur kereta api yang akan direaktivasi.

PT Kereta Api Indonesia mengusulkan agar reaktivasi dilakukan pada jalur-jalur prioritas. Artinya, berada di wilayah yang ada permintaan moda transportasi kereta api.

Misalnya, Padang-Bukittinggi, Bandung-Ciwidey, dan Cianjur-Padalarang. Bagaimana rencana reaktivasi jalur kereta api tersebut? Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, menjelaskan seputar reaktivasi jalur kereta api dalam wawancara khusus dengan detikFinance di Gedung Jakarta Railway Center (JRC), Jalan H. Juanda, Jakarta Pusat, Senin (27/2/2017).

Bagaimana rencana reaktivasi jalur kereta api?
Kalau reaktivasi jalur itu sebenarnya tugas Dirjen Perkeretaapian (Kementerian Perhubungan). Memang sudah direncanakan, tetapi kalau soal tahun ini mana yang akan direaktivasi, mungkin ada baiknya ngobrol dengan Dirjen. Karena ada banyak pilihan-pilihan reaktivasi.

Waktu itu kita tinjau sama Menteri Perhubungan yang ada di Yogyakarta, yang mau lari ke Borobudur. Kemudian, rekativasi jalur-jalur yang ada di Sumatera, misalkan Padang ke Bukit tinggi. Kemudian reaktivasi jalur misalkan Jakarta-Bogor, Bogor-Sukabumi, Sukabumi-Sumedang. Nah Sumedang ke Bandung sudah nyambung sebenarnya, sudah tracknya itu, ini sudah dilihat, dilirik. Kemudian yang track di dalam Bandung sampai ke Ciwidey, itu ingin direaktivasi. Tapi prioritas dari reaktivasi, coba tanya ke Dirjen karena beliau yang menganggarkan, kami kan operator. Jadi nanti kalau dia lakukan reaktivasi, nanti operasionalnya kita, yang beli kereta kita.

Mana kira-kira sudah siap atau paling cepat bisa dilakukan?
Kalau menurut saya semuanya siap. Tinggal anggarannya mau diprioritaskan ke mana. Kita dukung yang mana saja, karena itu banyak, di Aceh pun ada yang perlu direaktivasi.

Ada usulan jalur prioritas dari KAI ke Dirjen Kereta Api?
Kita komunikasikan dengan Dirjen. Masukan kita juga kita sampaikan. Yang tadi itu, poin-poin kita masukan dari kita. Bukittinggi-Padang, jalur Bandung-Ciwidey. Kemudian Cianjur-Padalarang. Tapi semua kan ada di tangannya Pak Dirjen. Pak Dirjen berpikir yang mana ya monggo saja. Tapi kan terserah Pak Dirjen mau yang mana. Itu prioritas-prioritasnya. Yang lainnya banyak sekali, misalkan Demak-Kudus, Pati-Rembang, kan ada. Itu tidak kita kategorikan untuk diprioritaskan. Tapi kalau mereka menganggap itu lebih penting karena itu kan pelayanan publik ya monggo, kita ikut Pak Dirjen saja. Kita siap mengoperasikannya.

Yang jadi pertimbangan apa?
Ya demand, artinya penumpang ini, masyarakat sudah membutuhkan betul atau enggak. Kan seperti, gambarannya Bandung-Ciwidey. Itu kan angkutannya sudah padat. Macet itu dari sana Ciwidey, ke Bandungnya. Jadi menurut saya, itu harusnya jadi salah satu pertimbangan. Tapi monggo Dirjen ada pertimbangan lain mungkin. Kan masih banyak itu link-link yang lepas.

Berapa panjang jalur kereta yang belum direaktivasi sampai saat ini?
Dari 7.000 jalur kereta api lama ditinggal Belanda, kan sekarang tinggal 5.000. Jadi kira-kira ada 2.000 kilometer yang perlu direaktivasi. Ya katakanlah kurang dari 2.000, karena ada track baru.

Berarti tinggal tunggu dari arahan Dirjen?
Ya, Dirjen mau yang mana, anggaran mau direaktivasi yang mana, kita siapkan operasionalnya.

Memang berapa lama biasanya kalau reaktivasi?
Tergantung posisi lokasi. Kalau itu sudah penuh kepadatan penduduknya, yang lama itu menertibkan jalurnya. Jadi kalau sudah rumah-rumah itu butuh waktu untuk membersihkan. Kalau bangunnya sih enggak lama. Kalau yang lama itu bangun jembatan. Seingat saya Dirjen itu memprioritaskan jalur yang menuju Jatinangor. Bandung-Jatinangor. Itu untuk mahasiswa, karena di depannya itu ada Unpad, ada ITB, nah itu kita dukung untuk mereaktivasi.

Tahun ini akan ada reaktivasi jalur kereta?
Tepatnya saya enggak mengerti, tapi kita sekarang sedang bantu untuk penertibannya. Kan karena ditinggalkan, barangkali di situ ada bangunan, ada gubuk, atau lapak, ini kan perlu ditertibkan. Kita sudah sosialisasi. (hns/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed