Follow detikFinance
Senin 03 Apr 2017, 07:35 WIB

Wawancara Khusus

Cerita Hilmi Panigoro Garap Sumur Panas Bumi Terbesar di Dunia

Wahyu Daniel - detikFinance
Cerita Hilmi Panigoro Garap Sumur Panas Bumi Terbesar di Dunia Foto: Wahyu Daniel
Jakarta - PT Medco Energi Internasional Tbk, lewat PT Medco Power Indonesia, menggarap sumur panas bumi terbesar di dunia, yang potensi listriknya mencapai lebih dari 1.000 megawatt (MW). Lokasinya di Sarulla, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Saat ini, listrik panas bumi yang dihasilkan baru 110 MW. Sebelum lebaran tahun depan, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla sudah bisa menghasilkan listrik 330 MW, lewat tiga unit PLTP.

Dalam menggarap panas bumi ini, Medco Power Indonesia menggandeng Itochu Corporation (Jepang), Kyushu Electric Power (Jepang), dan Omat International (Amerika Serikat).

PLTP Sarulla berada di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Sibual-buali yang konsesinya dimiliki oleh PT Pertamina Geothermal Energy. Ini merupakan proyek panas bumi pertama Medco. Bagaimana kisah Medco masuk ke bisnis panas bumi?

Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Presiden Direktur Medco Energi Internasional, Hilmi Panigoro, Sabtu (1/4/2017).

Panas bumi di Sarulla jadi bisnis baru untuk Medco, apakah ke depan bisnis Medco akan besar ke energi terbarukan?
Medco ini pilarnya tiga, yaitu migas, tambang, dan listrik. Tapi tetap kalau bicara ukurannya, yang paling besar tambang dan migas. Tapi ini non renewable. Jadi cepat atau lambat, perusahaan harus berpikir ke renewable.

Jadi renewable itu kalau kita lihat di dunia itu, bentuk energi yang paling cepat tumbuh. Itu dalam bentuk listrik, dan energi terbarukan yang paling cepat pertumbuhannya di dunia itu adalah angin dan matahari. Trennya ke arah itu.

Tapi Indonesia itu unik, karena kita tidak memiliki angin yang baik, sementara matahari butuh lahan yang luas. Menurut saya kalau bicara Indonesia, prospek energi terbarukan yang paling besar adalah panas bumi. Sepanjang Sulawesi, Nusa Tenggara, Jawa, dan Sumatera banyak panas buminya. Dan menurut saya, prospek listrik panas bumi 30 gigawatt (GW) di Indonesia itu bisa lebih besar lagi. Secara geologi bisa lebih besar dari itu, tapi harus diidentifikasi dan dieksplorasi. Lalu yang tempatnya paling besar itu syukur alhamdulillah adalah tempat kami, yaitu di Sarulla.

Kami sudah pernah meminta konsultan besar untuk mengumpulkan seluruh data yang ada di Sarulla ini. Penilaian mereka itu potensinya lebih dari 1.000 MW. Setelah kami melakukan pengeboran untuk 110 MW yang pertama, hasilnya itu melebihi yang kami perkirakan. Jadi kalau bicara produktivitas sumur panas bumi, di tempat lain mungkin orang bisa dapat 3 atau 4 MW per sumur itu sudah senang. Sementara di Sarulla itu kami dapat 30 MW per sumur. Jadi kami bicara besar dan produktif. Saya katakan ini sumber yang besar. Sekarang sudah selesai 110 MW, saya kira dalam waktu yang tidak lama lagi, dengan mengebor beberapa sumur lagi, kami sudah bisa menghasilkan total 330 MW.

Apakah listrik panas bumi 1.000 MW di Sarulla bisa tercapai?
Sekarang tantangannya 1.000 MW saya harap bisa kami capai. Saya bicara dengan Pak Jonan (Menteri ESDM), geothermal itu ada dua tantangannya, karena investasinya besar yaitu US$ 5 juta per MW. Hampir seluruh sumber daya panas bumi itu lokasinya di gunung. Dan gunung itu selalu hutan lindung, tapi pemerintah sudah berkomitmen karena kebutuhan lahan untuk geothermal itu relatif kecil. Untuk geothermal akan diizinkan.

Lalu kedua, karena investasi mahal, lalu ada pertimbangan soal tarifnya. Nah soal tarif ini, Pak Jonan bilang pemerintah akan fair. Dan kami senang, dan akan buka-bukaan soal data investasinya, dan berapa biaya operasi dan lain-lain, sehingga bisa diperoleh tarif yang wajar. Karena kami sebagai pengusaha butuh return, untuk bayar utang, dan ekspansi lagi. Jadi sekali lagi, kami akan ajukan surat ke pemerintah dalam waktu yang tidak lama, dan kita lihat sama-sama. Dengan kolaborasi seperti ini dan saling percaya atau tidak saling curiga, saya yakin 1.000 MW bisa terpenuhi.

Cerita Hilmi Panigoro Garap Sumur Panas Bumi Terbesar di DuniaFoto: Wahyu Daniel


Jadi portofolio bisnis Medco di energi terbarukan akan besar?
Saya harus realistis. Memang migas dan tambang ini masih akan dominan dalam 10 tahun ke dapan. Tapi di dalam pikiran saya, energi terbarukan ini harus kami tumbuhkan. Cepat atau lambat harus. Karena industri fosil ini akan jadi sunset. Jadi kalau saya telat berubah, bisa hancur perusahaan. Jadi saya harus lihat ke depan perusahaan seperti apa.

Baca juga: Tekad Jonan Garap 'Harta Karun Energi' RI

Kapan Medco mulai masuk ke Sarulla?
Prosesnya sudah lama, sejak 2005 atau sudah 12 tahun.

Tidak ada kendala selama ini?
Itu kendalanya dulu regulasi. Kalau anda lihat sejarahnya sampai Sarulla jadi. Itu sampai harus melibatkan kantornya Pak Boediono (Wapres kala itu). Memanggil tujuh menteri termasuk Jaksa Agung, untuk meyakinkan semua perizinan ini aman. Tidak ada yang dianggap melanggar rambu-rambu birokrasi. Ini kan konsesi lama milik Pertama. Salah satu kendala yang lama itu, aset yang dibangun itu secara teori tidak boleh dijaminkan ke bank. Tapi kalau bank tidak bisa mengambil aset yang dibangun sebagai jaminan, tidak akan mungkin bankable.

Karena itu, pada saat itu melibatkan menteri keuangan hingga menteri pertambangan, bahkan sampai Jaksa Agung. Karena itu kan untuk masyarakat banyak.

Berapa investasi untuk Sarulla ini?
Persisnya US$ 1,67 miliar dan kebanyakan didapat dari JBIC (Japan Bank for International Cooperation).

Jadi banyak yang mau membiayai energi terbarukan ya Pak?
Begini, di dunia itu ada yang namanya green fund. Jadi di setiap bank itu dia punya alokasinya harus untuk energi bersih. Dan bunganya lebih murah.

Berapa jumlah pekerja terserap dari proyek Sarulla?
Hari ini, untuk membangun unit II Sarulla mungkin di atas 2.000 orang. Dan itu banyak lokalnya. Bicara soal lokal, sekarang saya sudah perintahkan semua manajemen unit operasi, menjadikan bupati sebagai mitra. Di masa lalu, kalau perusahaan mengangkat officer untuk government relations, itu biasanya buangan. Dianggap tidak penting. Hari ini terbalik. Justru orang di government relations, yang berhubungan dengan pemerintah dan masyarakat lokal, itu harus orang kelas satu. Karena itu yang bisa membuat proyek lanjut atau tidak. Apalagi kami berhubungan dengan sekian ribu pekerja lokal, dan budaya yang berbeda.

Sekali lagi, salah satu yang saya ubah di perusahaan adalah government dan community relations ini benar-benar orang terpilih. Bukan orang sembarangan, pendekatan kebudayaan menjadi penting. (wdl/mca)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed