Follow detikFinance
Selasa 04 Apr 2017, 07:29 WIB

Wawancara Khusus

Cerita Sukses Boy Thohir, Mau Jadi Pegawai Dicegah Sang Ayah

Michael Agustinus - detikFinance
Cerita Sukses Boy Thohir, Mau Jadi Pegawai Dicegah Sang Ayah Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Garibaldi Thohir, atau biasa dikenal dengan panggilan Boy Thohir, adalah salah satu pengusaha paling beken di Indonesia. Pada 2014, Majalah Forbes menempatkan pria kelahiran 1 Mei 1965 ini sebagai orang terkaya ke-37 di Indonesia.

Tapi siapa sangka, jadi pengusaha sebenarnya bukan cita-cita Boy. Pemegang gelar MBA dari Northrop University ini sempat ingin bekerja jadi pegawai saja di perusahaan-perusahaan raksasa era 1990-an seperti IBM, Citibank, American Express. Niat itu dicegah sang ayah, Muhammad Teddy Thohir.

Di kemudian hari, terbukti bahwa sang ayah mengarahkan Boy ke jalan yang benar. Nasihat ayahnya berbuah manis. Sekarang Boy dikenal sebagai pengusaha tambang batu bara yang berkibar dengan bendera PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Tapi keberhasilan Boy tak diraih dengan mudah. Tak ada sukses yang diraih lewat jalan pintas. Kepada detikFinance, Boy bersedia meluangkan waktu untuk membagikan kisahnya, bagaimana ia dipaksa ayahnya untuk jadi pengusaha, serta jatuh bangun membangun karirnya dari nol. Berikut petikan wawancara dengan Boy Thohir di Menara Karya, Jakarta, Kamis (29/3/2017):

Bisa diceritakan mengapa Anda terjun ke dunia usaha?
Kalau bicara pengalaman dan kegiatan saya di tambang batu bara, orang jangan melihat sekarang. Saya dari tahun 1992 sudah terjun di tambang batu bara, yaitu di Sawahlunto, namanya PT Allied Indo Coal.

Saya kembali dari Amerika Serikat tahun 1991, terus setelah balik almarhum ayah saya, Muhammad Teddy Thohir, nanya ke saya. Ceritanya saya sudah keren nih, dapat gelar Master dari Amerika. Beliau nanya, "Kamu mau ngapain?" Saya bilang, mau kerja. "Kerja di mana?" Saya bilang di IBM, Citibank, American Express yang waktu itu di tahun 90-an perusahaan besar sekali. Teman-teman saya biasanya ke Citibank, IBM.

Ayah saya tanya berapa gajinya, saya bilang sekitar US$ 2.000/bulan, waktu itu Rp 4 juta, sudah gede lho pada zaman itu. Beliau bilang enggak bisa. Saya protes, kenapa enggak bisa, jadi enggak boleh kerja di Citibank dan sebagainya? Beliau bilang, "Bukan enggak boleh, tapi enggak bisa karena enggak masuk hitungannya."

Maksudnya bagaimana? Dia bilang, "Saya sudah habis Rp 1 miliar lebih untuk nyekolahin kamu di Amerika, ya kapan kembalinya kalau gaji kamu Rp 4 juta?" Saya heran, mana ada orang tua hitung-hitungan sama anaknya? Beliau bilang, "Iya hitung-hitungan, saya kan pengusaha. Kamu sekolah apa di Amerika?" Saya bilang, saya kan ambil jurusan bisnis, entrepreneurship, terus S2 di bidang marketing. "Terus mau jadi pegawai?" Dia bilang begitu.

Saya tanya, jadi maunya saya kerja di mana? Di Astra? Beliau kan waktu itu Komisaris Astra. Dia jawab lagi, "No! Di Astra, start-nya Rp 2 juta/bulan. Emang mentang-mentang anak saya, kamu bisa langsung jadi manager? Enggak bisa pokoknya."

Akhirnya saya menyerah. Mungkin ini cara beliau untuk bilang enggak mau saya jadi pegawai, saya mesti jadi entrepreneur.

Lalu bagaimana awal karir sebagai pengusaha?
Pertama saya ke properti, Casablanca Apartment. Tahun 1991 saya di situ bebasin tanah. Banyak manfaatnya, dari pengalaman terjun di masyarakat, bebasin tanah itu, ilmu yang saya dapat di Amerika hanya 20% yang terpakai, 80% adalah kita belajar kehidupan yang real di masyarakat. Kalau di sekolah kan teori, mau sekolah di Amerika atau di mana, pembelajaran yang sebenarnya adalah di lapangan.

Terus 1992 saya dikenalin saya ibu saya, orang Australia yang ngerti tambang batu bara. Saya waktu itu berpikir Indonesia ini kan kaya akan sumber daya alam, ada emas, batu bara, bijih besi, oil and gas, bijih bauksit, kenapa enggak masuk ke situ? Saya masuk ke industri pertambangan batu bara.

Mengapa lebih pilih industri batu bara ketimbang properti?
Paralel, jalan dua-duanya. Boleh dibilang dasarnya hampir sama. Termasuk proyek PLTU dan sebagainya, dasarnya itu tanah. Di bisnis, apa yang tidak berhubungan dengan tanah? Bikin warung saja mesti nyiapin tanah. Permasalahan di tambang, tanahnya overlap dan sebagainya.

Anyway, mungkin jalan hidup saya. Kebetulan lah, Allah mengarahkan ke sana. Saya punya interest di properti, pertambangan. Kedua, Indonesia ini kan kaya sumber daya alam, kenapa kita tidak develop kekayaan alam ini untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia? Sayang kalau enggak.

Oil and gas akan segera habis. Bagaimana kalau batu bara? Saya belajar lagi, oh cadangannya banyak. Ada Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Papua, bahkan di Jawa cuma skalanya kecil. Singkat cerita 1992 masuk ke situ.

Tapi yang namanya usaha enggak ada yang mudah, kalau mudah jadi kaya semua. Jadi jangan melihat Boy Thohir dan Adaro sekarang. Back then in 1992, itu susah sekali karena waktu itu market batu bara belum besar, belum banyak PLTU, penggerak utama waktu itu sebetulnya kebangkitan ekonomi China.

Pada 1992, pasar batu bara ini dikendalikan oleh trader, not event end user. Jadi waktu itu ada Vibro Energy, Mass Field, belum ada Glencore AG. Kenapa? Waktu itu masih buyers market, pembeli adalah raja, kita produsen belum ada apa-apanya.

Tapi tetap saya jalani jatuh bangun, jatuh bangun, visi saya mengatakan bahwa batu bara ini suatu saat pasti dibutuhkan, karena oil and gas akan habis dan batu bara masih berlimpah.

Lalu beberapa tahun kemudian, pada 1998 ekonomi jatuh, partner asing saya kabur. Ya sudah, kesempatan saya untuk belajar. Di 1998-2000 karena partner asing kabur, terpaksa saya harus 100%. Jatuh bangun, jatuh bangun di tahun 2000-an. (mca/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed