Follow detikFinance
Selasa 04 Apr 2017, 09:32 WIB

Wawancara Bos Adaro Energy

Strategi Boy Thohir Besarkan Adaro, dari IPO Hingga Ekspansi Bisnis

Michael Agustinus - detikFinance
Strategi Boy Thohir Besarkan Adaro, dari IPO Hingga Ekspansi Bisnis Garibaldi 'Boy' Thohir (Foto: Michael Agustinus)
Jakarta - Setelah diakuisisi dari New Hope, perusahaan asing asal Australia, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) kinerjanya tak melempem. Sebaliknya, Adaro justru semakin melaju kencang di bawah kepemimpinan pengusaha nasional Garibaldi 'Boy' Thohir.

Sejak 2008, Adaro melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada tahun itu juga, Adaro mulai masuk ke bisnis logistik dan pembangkit listrik. Dengan langkah-langkah itu, Adaro semakin kuat dan tahan guncangan.

Dalam sesi wawancara khusus dengan detikFinance di Menara Karya, Jakarta, pada 29 Maret 2016 lalu Boy Thohir menjelaskan garis besar strategi untuk membesarkan Adaro. Berikut petikannya:

Garibaldi 'Boy' Thohir (Foto: Michael Agustinus)Garibaldi 'Boy' Thohir (Foto: Michael Agustinus)

Setelah melakukan akuisisi pada 2005, apa langkah-langkah yang diambil untuk membesarkan Adaro?
2008 kita putuskan Adaro untuk menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih baik lagi, kita putuskan Adaro jadi perusahaan publik supaya lebih transparan lagi, dan sebagainya. Jujur juga, waktu itu kita pinjam, leveraged buyout, LBO. Kita perlu reduce ini supaya dapat dana dari publik untuk mengurangi itu.

Dan di 2008 itu juga kita memutuskan mengubah visi kita yang tadinya hanya bertumpu pada batu bara saja, waktu itu kita sepakat ke depan kita mau lebih integrated. Jadi tidak mau tambang batu bara saja, tapi logistik dirapikan, kita juga mau masuk ke bisnis pembangkit. Dari 2008 sampai sekarang, kita fokus ke 3 pilar,yaitu mining, logistic and services, sama power. Kalau dulu tambang saja, sekarang pit to port to power.

Bagaimana Bapak menghadapi berbagai tantangan di industri pertambangan seperti perizinan, lahan, CnC, fluktuasi harga komoditas?
Yang penting kita fokus, permasalahan begitu banyak tapi saya punya satu rumusan. Kita kan tiap hari bangun tidur pasti ada problem. Di kantor, di rumah, urusan keluarga, every day life, apalagi di perusahaan. Tapi kita fokus satu-satu, one at the time.

Masalah tanah, kita fokus ke tanah dulu. Masalah perizinan, kita fokus perizinan dulu. Dengan cara itu kita bisa solve satu-satu. Problem come and go. Tapi kalau kita punya tim yang bagus, fokus menyelesaikan satu per satu masalah ya lama-lama kelar.

Kita semua juga sepakat bahwa yang namanya harga jual itu enggak ada yang bisa kontrol. Siapa yang bisa kontrol nanti naik atau turun? Tergantung supply dan demand, feeling saja. Misalnya kemarin terjadi badai cyclone di Australia, mestinya harga batu bara naik karena suplai terganggu. Tapi kembali, harga jual enggak ada yang bisa prediksi.

Yang bisa kita prediksi adalah cost. Makanya kita mesti bisa kontrol cost. Cost, cost, cost. Harus efisien, harus efisien, harus efisien. Sehingga kalau kita menjadi one of the lowest cost producer, kalau harga lagi turun kita bisa survive. Kalau misalnya kita enggak efisien, sama seperti gempa bumi, yang rapuh-rapuh begitu kena gempa sedikit langsung rubuh. Kita mesti menjadi one of the lowest producer mining company. Namanya komoditi selalu up and down.

Kemudian enggak bisa bergantung pada satu bisnis saja. Kalau bergantung sama mining saja ya kolaps. Mesti ada tambang, logistic services, dan power plant. Kenapa power plant? Kita ingin memberikan kontribusi lebih pada negara dan bangsa. Value added batu bara adalah listrik. Batu bara itu mau di-upgrading, ujungnya ke listrik. Jadi nilai tambahnya kita bikin batu bara ini jadi listrik. Kebetulan di Indonesia sumber batu baranya ada. Kenapa kita enggak pakai untuk pembangunan bangsa?

Seberapa besar kontribusi bisnis logistik dan pembangkit listrik bagi Adaro?
Sekarang selain kita tetap fokus di tambang, logistik juga kita perbanyak, kita lebih fokus lagi dan lebih kuat lagi, kita juga ikut secara aktif ikut tender PLN. Kita harus membuktikan juga, bisa enggak kita menjadi produsen listrik yang handal. Harganya kompetitif, pembangkit-pembangkitnya secara teknologi bagus, secara environment juga bagus.

Awal-awal kontribusi untuk perusahaan 100% dari tambang, sekarang mungkin 60% saja dari tambang, 40% dari non tambang. Ke depan, saya pingin masing-masing (tambang, logistik, pembangkit listrik) sepertiga.

Apa saja tantangan yang dihadapi Adaro di bisnis pembangkit listrik?
Menurut saya, pertama ini kan suka atau tidak, harus tender. Jadi kita harus siapkan proposal terbaik pada PLN. Tapi setelah itu juga enggak gampang, menang tender doang bukan segalanya. Setelah kita menang tender, bisa enggak kita menyiapkan segala sesuatunya, terutama pendanaan. Bisa enggak meyakinkan bank-bank bahwa investasi kita bisa berjalan dengan baik. Untuk menuju financial close enggak gampang, tantangannya banyak sekali. Tanahnya siap enggak.

Dalam kasus PLTU Batang, hampir 5 tahun tertunda. Kita beruntung punya seorang Presiden, Pak Jokowi, yang punya visi jelas mau bangun infrastruktur dari mulai tol, pembangkit listrik. Dari zaman kita merdeka sampai hampir 70 tahun, kita punya pembangkit listrik hanya 50.000 MW, beliau bercita-cita menambah 35.000 MW.

Menurut saya visi itu betul sekali. Pengalaman saya di Adaro sendiri, listrik kita itu kurang. Bagaimana di daerah mau ada hotel, pabrik, toko kalau enggak ada listriknya? Makanya kita mau support berperan aktif.

Kita mampu memberikan proposal terbaik, kita juga sudah membuktikan 6 bulan terakhir kita berhasil mencapai 2 financial close, PLTU Batang dan PLTU Tabalong. Enggak mudah, masalah tanah, masalah EPC, masalah dengan JBIC, tapi Alhamdulillah kita mampu. Kita punya balance sheet yang kuat, kita berharap diberikan kesempatan-kesempatan berikutnya. Adaro bukan saja pure ingin mencari keuntungan, tapi juga bagaimana memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk Indonesia.

Kalau Indonesia makin bagus, makin hebat, makin besar, perusahaan-perusahaannya juga makin besar. Enggak ada perusahaan yang masuk Fortune 500 Biggest in The World yang berasal dari negara miskin, enggak ada. Jadi filosofi kita adalah negara harus maju, harus sejahtera, sehingga perusahaan juga jadi lebih besar, pegawai-pegawainya oke, rakyatnya oke, mereka butuh listrik lagi, butuh batu bara lagi, balik lagi ke kita.

Kalau kita bisa bersinergi antara pemerintah, BUMN, swasta, Insya Allah opportunity yang ada, program 35.000 MW yang dicanangkan Pak Presiden bisa dicapai. Tidak mudah memang, ini target yang cukup ambisius, tapi sudah enggak usah berargumentasi lagi, ini kebutuhan. Enggak usah berdebat mana yang duluan ayam atau telur, sudah ayam saja yang duluan, kita pelihara ayamnya dulu baik-baik nanti bisa bertelur, telurnya untuk kesejahteraan kita bersama.

Tak banyak IPP lokal yang mendapat kepercayaan membangun pembangkit berskala besar seperti Adaro. Tak banyak juga yang bisa mencapai financial close untuk proyek-proyek besar. Apa kuncinya Adaro sudah bisa financial close, salah satunya untuk PLTU Batang yang 2.000 MW?
Menurut saya, memang yang namanya tambang, yang namanya PLTU itu economy of scale. Pembangkit listrik 200 MW sudah bicara US$ 250 juta, not small. Jadi memang kasarnya ini proyek-proyek yang hanya bisa dikerjakan BUMN, pemerintah dengan APBN-nya, dan perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan besar jumlahnya tidak banyak.

Bukan mau sombong, ini memang bidangnya Adaro, kita punya batu baranya, kita punya resources-nya, punya pengalamannya, punya uangnya, Alhamdulillah dipercaya menjadi partner sama Itochu dan J-Power di Batang, sama EWP di Kalsel. Kemarin tender PLTGU Jawa 1, kita sama Semcorp, rencananya sama Shenhua di Kaltim. Kita dipercaya karena kredibilitas Adaro selama ini. Untuk itu, ke depan saya berharap bisa diberikan kesempatan lagi. Saya enggak mau cuma jualan batu bara, kita juga terlibat aktif dalam pembangunan PLTU-PLTU di tanah air.

Setelah PLTU Batang dan PLTU Tabalong, kira-kira ada peluang di tender pembangkit mana lagi untuk Adaro?
Saya kira masih banyak, masih terbuka. Saya dengar pemerintah akan mencanangkan PLTU mulut tambang di Sumsel, di Kaltim. Kemudian yang pembangkit gas juga menurut saya opportunity masih ada. Kita siap, tentunya karena ini tender ya tidak mudah, tapi kita bisa.

Dengan adanya Permen ESDM Nomor 19 Tahun 2017 yang membatasi harga jual listrik dari PLTU dan PLTU mulut tambang, apakah bisnis ini masih cukup menarik?
Menurut saya masih cukup menarik. Kita memahami pemerintah tentu membuat peraturan sudah dengan berbagai pertimbangan. Tapi harapan dari saya, jangan dijadikan patokan. Bukan Indonesia saja yang giat membangun pembangkit. Vietnam, Bangladesh, Thailand, Filipina, Malaysia juga. Saya harap pemerintah bisa memberikan sesuatu yang atraktif sehingga partner-partner asing saya tertaring untuk investasi di Indonesia.

Partner asing saya dari Jepang, China, Korea kan melihat yang lebih atraktif investasi di Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, atau Indonesia. Pemerintah harapan saya memberikan 'sweetener'. Saya harapkan bisa balance, mesti dibuat seatraktif mungkin. Pembangunan power plant kalau enggak diberi insentif yang atraktif, dikhawatirkan tidak menarik. Tapi kita serahkan kepada pemerintah lah, kira-kira apa yang bisa menarik investor-investor asing ke Indonesia. Proyeknya kan gede-gede. Misalnya PLTU Batang ini US$ 4,2 miliar, kita harus bentuk konsorsium. Kalau untuk infrastruktur, kasih saja insentif yang menarik, kan enggak bisa diambil balik. Misalnya PLTU Batang sudah jadi, memang mau dibawa ke mana? Kan enggak bisa.

Soal PKP2B Adaro, kan pada 2014 sudah ada MoU. Bagaimana sekarang perkembangan renegosiasi PKP2B dengan pemerintah?
Perundingannya masih berlangsung. Tapi kalau menurut saya sih Adaro sudah quite close lah. Sepanjang mengikuti apa yang sudah kita tanda tangan, kita siap. Sebenarnya sudah enggak banyak, tinggal masalah kepastian hukum mengenai pajak sama masalah extention. Insya Allah dalam waktu tak lama lagi selesai. Kita siap lah.

Kita kan perusahaan nasional, kita memahami keinginan pemerintah. Tapi harus dipahami juga oleh pemerintah, harus dibuat kompetitif juga, jangan sampai kita mati. Ini kan aset nasional, milik pengusaha nasional. Alangkah sedihnya kalau kita sudah capek-capek mengembalikan ke pangkuan ibu pertiwi, kita berharap dapat dukungan juga dari pemerintah. Kontribusi yang kita berikan tahun lalu mungkin sekitar US$ 600 juta dalam bentuk pajak dan royalti kepada pemerintah, jadi not bad, cukup besar kontribusi kita.

Harapan saya, kita diberikan iklim usaha yang kondusif, yang menarik, sehingga kita bisa maju. Benefit-nya ke rakyat Indonesia juga karena dapat ekses dari infrastruktur yang bagus, pembangkit listrik yang mumpuni dan environtment friendly.

Iklim usaha yang bagus dan kepastian yang diinginkan Adaro itu seperti apa?
IPP (Independent Power Producer) ini kan bisnis yang enggak gampang, berikanlah yang atraktif. Kalau IRR-nya sama seperti di Australia, Hong Kong, ya orang ke Australia atau Hongkong, kan country risk-nya lebih rendah di sana. Berikan yang lebih menarik sehingga banyak orang yang mau investasi.

Peraturan-peraturan yang soal negosiasi kontrak. Pak Jonan dan Pak Dirjen sudah bagus sekali, mereka menghormati kontrak, contract is contract. Saya bilang terima kasih. Saya juga mengerti bahwa Kementerian ESDM harus mengikuti Undang Undang, mereka juga tidak mau melanggar UU Minerba sehingga harus ada renegosiasi. Oke, saya setuju. Jadi win-win lah. (mca/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed